KECEWA TERHADAP HARGA JARAK

Dengan kenaikan harga BBM pada akhir tahun 2005, pada tahun 2006 masyarakat dihebohkan oleh berita tentang kehebatan komoditas jarak. Biji tumbuhan Jatropha curcas  ini memang potensial dijadikan sebagai bahan untuk membuat biodisel. Petani berharap, jarak bisa menjadi komoditas alternatif, yang mampu memperbaiki taraf hidup mereka. Ketika itu informasi yang disampaikan ke masyarakat, biji jarak kering, masih dengan cangkangnya, akan dibeli dengan harga Rp 2.000,- per kg. Sebenarnya janji ini sangat tidak rasional, sebab harga solar saat ini masih sekitar Rp 4.500,- per liter.

Dengan rendemen hanya 30%, untuk memroduksi 1 liter minyak jarak diperlukan paling sedikit 3 kg. biji jarak. Kalau harga biji jarak sudah dipatok Rp 2.000,- per kg, maka untuk memroduksi 1 liter biodisel diperlukan bahan baku senilai  Rp 6.000,- Apabila biaya angkut dan proses pembuatan minyak bisa ditekan Rp 1.000,- per liter, maka biodisel itu paling murah harus dijual dengan harga Rp 8.000,- per liter. Dan sekarang ini, di Jawa Timur memang sudah mulai ada penjual minyak jarak dengan harga Rp 8.000,- per liter. Menurut si pedagang, minyak 1 liter jarak ini harus dicampur dengan minyak tanah sebanyak 9 liter, dan digunakan sebagai pengganti solar.

Pola pengoplosan minyak tanah sebagai pengganti solar seperti ini, sebenarnya sudah sejak awal tahun 2006 dilakukan oleh para sopir truk Surabaya – Jakarta. Mereka  mencampur 9 liter minyak tanah, dengan 1 kg. minyak goreng, sebagai pengganti solar. Hingga harga 1 liter minyak jarak Rp 8.000,- masih dianggap terlalu mahal bagi para sopir truk. Sebab minyak goreng curah, bisa dibeli dengan harga lebih murah dari Rp 8.000,- per liter. Selain itu, minyak goreng juga bisa diperoleh di pasar-pasar dengan cara lebih mudah dibanding dengan minyak jarak. Selain itu, sebentar lagi pemerintah juga bermaksud menghentikan produksi minyak tanah, dan menggantinya dengan gas.

# # #

Harga minyak jarak memang bisa lebih ditekan, ketika para pemroses biji jarak  mematok harga Rp 1.000,- per kg. Tentu saja para petani protes. Sebab mereka pernah diberi janji, bahwa harga 1 kg. biji jarak kering adalah Rp 2.000,- Dengan harga Rp 1.000,- per kg. pun, sebenarnya harga minyak jarak yang diproduksi masih terlalu tinggi. Sebab kalau mau bersaing, maka harga 1 kg. biji jarak kering adalah Rp 500,- di tingkat petani. Ditambah biaya angkut, dan prosesing, maka minyak jarak bisa dijual dengan harga lebih murah dari harga solar, yakni di bawah Rp 4.500,- per liter. Konsep menekan harga produk biji jarak serendah mungkin ini, telah diterapkan dengan sangat baik di India.

Negeri dengan populasi penduduk 1 milyar jiwa ini, juga ikut terkena dampak kenaikan harga BBM. Itulah sebabnya mereka juga mencanangkan penanaman jarak sampai 400 km2 atau 400 juta hektar. Tujuannya adalah, agar pada  tahun 2012 nanti, negeri ini mampu mensubstitusi BBM sampai 20%. India juga lebih realistis dibanding  negeri kita, dalam mencanangkan program jarak. Tanah yang dialokasikan untuk penanaman jarak adalah kawasan gersang dan kering, yang sama sekali tidak bisa untuk budi daya komoditas lain. Masyarakat yang diajak untuk menangani komoditas jarak, juga masyarakat sangat miskin, yang sama sekali tidak punya pendapatan.

Untuk itulah India memilih enam negara bagian, yang memiliki lahan gersang,  sebagai kawasan pengembangan jarak. Enam negara bagian tersebut adalah Andhra Pradesh, Chhattisgarh, Tamil Nadu, Rajasthan, Maharashtra, dan Ahmednagar. Di kawasan ini, jarak ditanam bukan hanya untuk program biodisel, melainkan juga penghijauan. Rakyat yang diajak untuk menangani program ini, juga diprioritaskan yang sangat miskin dan sama sekali tidak punya pendapatan. Dengan pola kerja demikian, harga tiap kg. komoditas jarak, menjadi rasional dan mampu bersaing dengan harga solar. Pemanfaatan minyak jarak pun, pertama-tama diprioritaskan untuk bahan bakar kereta api, yang di India merupakan sarana transportasi massal dan murah bagi rakyat.

Yang jelas, pemerintah India, atau pihak pebisnis di sana, tidak pernah mengiming-imingi rakyat, bahwa mereka akan memperoleh pendapatan tinggi dari komoditas jarak. Bagi masyarakat miskin India, memperoleh pendapatan tetap, berapa pun nilainya, sudah sangat bersyukur. Alasan India memilih komoditas jarak sebagai bahan biodisel adalah, negeri ini tidak punya andalan bahan nabati penghasil minyak, ethanol, dan methanol, yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan bagi manusia. Jarak tidak mungkin diolah menjadi bahan lain selain biodisel. Sementara negeri kita masih punya andalan minyak sawit, yang produktivitasnya bisa 5,5 ton minyak per hektar per tahun.

# # #

Dengan pola pengembangan jarak seperti sekarang ini, akhirnya akan banyak masyarakat yang kecewa. Terlebih, produktivitas jarak selama ini hanyalah sekitar 5 ton per hektar per tahun, atau setara dengan 1,5 ton minyak. Tahun lalu, ketika isu jarak sedang hangat-hangatnya, bahkan ada pihak yang berani mengatakan bahwa benih jarak unggul yang dijualnya mampu menghasilkan biji jarak kering sampai 20 ton per hektar per tahun. Klaim ini sudah sangat keterlaluan dalam membodohi rakyat, atau calon petani jarak. Klon jarak unggul yang dilepas oleh Menteri Pertanian, masih agak lumayan, karena hanya diklaim mampu berproduksi 8 ton per hektar per tahun.

Dengan harga Rp 2.000,- per kg. pun, sebenarnya petani jarak hanya akan memperoleh pendapatan kotor rata-rata sebesar 10.000.000,- per hektar per tahun. Karena kenyataannya sekarang harga jarak hanya dipatok Rp 1.000,- per kg, maka pendapatan kotor petani hanyalah Rp 5.000.000,- per hektar per tahun. Padahal idealnya, harga biji jarak kering hanyalah Rp 500,- per kg, atau pendapatan petani hanyalah Rp 2.500.000,- per hektar per tahun. Namun dengan menanami lahan-lahan kering NTT yang berbatu-batu dan tiap tahun hanya akan dapat hujan selama tiga bulan, maka pendapatan atau upah petik dan angkut Rp 500,- per kg. sudah sangat baik.

Sebab, kalau petani mampu mengumpulkan biji jarak kering per hari sebanyak 1 kuintal, maka ia akan memperoleh pendapatan Rp 50.000,- Sebab komoditas ini sama sekali tidak memerlukan perawatan, terutama juga tidak memerlukan pemupukan. Karena tumbuhan ini beracun, maka hampir tidak ada hama yang akan mengganggunya. Sebagai tumbuhan jenis sukulen, jarak juga tahan kekeringan. Hingga dengan hujan yang hanya 3 bulan, atau 250 mm. dalam setahun pun, tanaman jarak sudah bisa produktif. Jarak justru akan menurun produktivitasnya, apabila dibudidayakan di lahan-lahan subur, dengan curah hujan tinggi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s