BUDI DAYA UDANG GALAH

Kalau kita membuka Google, kemudian menulis udang galah, maka yang akan banyak muncul di layar komputer atau note book, adalah informasi udang galah dari Malaysia, bukan dari Indonesia. Di Malaysia, udang galah memang sudah populer sejak 25 tahun yang lalu.

Di Indonesia, agroindustri udang memang didominasi oleh jenis udang laut, seperti  udang putih (banana prawn/shrimp, Penaeus merguiensis), dan udang windu (jumbo tiger prawn/shrimp, Penaeus monodon), yang dibudidayakan di tambak air payau. Meskipun posisi Indonesia sebagai penghasil udang laut, dengan rentang pantai tropis terpanjang di dunia,  justru kalah dibanding Thailand. Padahal Indonesia adalah perintis teknologi budi daya udang laut modern, terutama teknologi pembenihannya (hatchery).

Indonesia juga merupakan perintis budi daya udang air tawar atau udang galah (giant river prawn, Macrobrachium resenbergii de Man). Namun di Indonesia sendiri, terutama di Sumatera dan Kalimantan, pasar udang galah masih didominasi oleh udang tangkapan dari sungai. Udang galah tangkapan dari sungai besar ini memang bisa berukuran raksasa, hingga tiap kg, bisa berisi hanya tiga sampai dengan 4 ekor udang (bobot antara 2 sd. 3 ons per ekor). Belakangan budi daya udang galah juga mulai berkembang di Jawa.

# # #

Harga udang galah hidup, di tingkat petani saat ini berkisar antara Rp 70.000 – Rp 130.000 per kg,  tergantung ukurannya. Semakin besar ukuran udang, semakin tinggi harganya. Ukuran udang galah ditentukan oleh jumlah udang dalam tiap kg bobot. Umumnya ukuran udang galah terdiri dari ukuran Besar, yang masih dikategorikan lagi menjadi Super (10-15 ekor per kg), dan  Biasa (20-25 ekor per kg); kemudian ukuran Medium (30-40 ekor per kg); dan ukuran Kecil (40-60 ekor per kg).

Harga udang mati, meskipun sudah diberi es atau ditaruh dalam freezer, hanya di bawah Rp 70.000 per kg. Termasuk yang berukuran jumbo, yakni 1 kg, terdiri kurang dari 10 ekor. Udang galah mati ukuran jumbo, selalu merupakan udang tangkapan dari muara sungai besar di Sumatera dan Kalimantan. Udang galah tangkapan dari sungai di Jawa, umumnya sudah berukuran lebih dari 10 ekor per kg. Sampai sekarang, pasar udang galah domestik maupun ekspor, masih didominasi oleh hasil tangkapan.

Syarat utama budi daya udang galah adalah ketersediaan air yang mengalir secara kontinu. Udang galah juga hanya bisa dibudidayakan pada elevasi antara 0 sampai dengan 1000 m. dpl. Lebih tinggi dari itu, pertumbuhan udang galah akan menjadi sangat lamban. Paling ideal, udang galah dibudidayakan di dataran rendah sampai menengah (0 – 700 m. dpl). Teknik budi daya udang galah sebenarnya sudah final, sama halnya dengan teknologi budi daya udang air payau, budi daya ikan, maupun unggas. Petani udang tinggal membeli benih, dan pakan, lalu memeliharanya dalam kolam antara dua sampai dengan empat bulan dan memanennya.

# # #

Pembenih udang galah di Indonesia (hatchery), juga masih belum sebanyak di Malaysia. Karenanya, para calon investor udang galah Indonesia, sebaiknya berhubungan dengan hatchery yang dikelola oleh instansi pemerintah. Di Jawa Timur, benih udang galah bisa diperoleh di Balai Budi daya Air Payau Situbondo, Jl. Raya Pecaron PO BOX 5 Panarukan Situbondo, Jawa Timur; Balai Benih Ikan Cangkringan, Sleman, DIY; dan Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Tawar Sukabumi, Jl. Salabintana No.17 Sukabumi 43114.

Pembesaran udang galah, bisa dilakukan di kolam tanah, kolam semen, maupun kolam terpal plastik. Syarat utama untuk kesuksesan budi daya udang galah, bukan pada jenis kolamnya, melainkan ketersediaan air mengalir. Apabila tidak tersedia air mengalir, kondisi air kolam masih bisa direkayasa dengan mengalirkan air menggunakan pompa sirkulasi. Udang galah justru akan tumbuh pesat apabila dibesarkan di kolam dengan air yang keruh (tidak jernih). Sebab di kolam ini, potensial akan tumbuh pythoplankton dan zooplankton, sebagai pakan tambahan, bagi udang.

Meskipun harga pakan udang (berbagai merk) sudah cukup tinggi, secara ekonomis budi daya udang galah harus menggunakan pakan pabrik tersebut. Sebab harga udang galah hidup yang bisa mencapai lebih dari Rp 100.000 per kg, memungkinkan budi daya menggunakan pakan pabrik. Penggunaan pakan alternatif di luar pytho dan zooplankton, tidak dianjurkan, sebab resiko terhambatnya pertumbuhan akan menjadi sangat besar. Sampai saat ini, permintaan udang galah hidup, masih tetap lebih tinggi dari pasokan. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s