UPAYA SWASEMBADA KEDELAI

Selama periode tahun 2000an ini, Indonesia baru bisa memenuhi sekitar 800.000 ton (40%) dari  kebutuhan kedelai nasional sebesar 2 juta ton per tahun. Defisit kedelai sebesar 1,2 juta ton (60%), ditutup dengan impor dari AS. Selama ini AS merupakan penghasil kedelai terbesar di dunia. Sepuluh besar penghasil kedelai dunia adalah AS 83 (juta ton per tahun), Brasil 52, Argentina 38, RRC 17, India 6,6, Paraguay 3,5, Kanada 3, Bolivia 1,7, Indonesia 0,8 dan  Italia 0,5. Di AS, kedelai adalah bahan bungkil untuk pakan ternak. Sementara di Indonesia, kedelai adalah bahan baku tahu, tempe, dan kecap untuk makanan manusia.

Nilai ekspor kedelai kita setiap tahunnya mencapai angka Rp 3 trilyun. Dengan tingkat produktivitas kedelai nasional hanya 1,3 ton per hektar per musim tanam, maka volume impor kedelai kita yang 1,2 juta ton, bisa ditutup oleh produksi sendiri dengan areal tanam seluas 900.000 hektar, dengan alokasi dana penanaman  Rp 3.250.000,- per hektar. Alokasi dana tersebut berasal dari nilai impor kedelai kita yang Rp 3 trilyun dibagi 1,3 ton (hasil rata-rata per hektar). Lahan seluas 900.000 hektar juga tersedia, berupa sawah di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa Barat. Sawah di Pantura ini selalu menganggur selama musim kemarau.

Sawah-sawah inilah yang harus diberi pengairan, agar bisa menghasilkan kedelai. Kelebihan kedelai dibanding dengan jagung serta tanaman semusim lainnya adalah, kedelai tidak memerlukan pengolahan lahan. Sawah yang padinya selesai dipanen, jeraminya langsung dibabat, dan dibiarkan (dihamparkan) di lahan sebagai mulsa. Selanjutnya lahan ditugal serta ditebari benih kedelai. Mulsa jerami bisa bermanfaat sebagai penahan kelembapan tanah, mencegah tumbuhnya rumput serta sebagai pupuk apabila tanaman kedelai sudah tumbuh dewasa. Selama ini jerami padi di sepanjang Pantura hanya dibakar sia-sia.

# # #

Kalau potensi budi daya kedelai untuk mewujudkan swasembada ada, mengapa hal tersebut tidak pernah terlaksana? Sebab untuk itu diperlukan pengorganisasian petani, penyewaan lahan, serta investasi air. Lahan di sepanjang pantura itu menganggur selama musim kemarau, tidak ada air irigasi. Lahan tersebut merupakan sawah tadah hujan. Di beberapa lokasi sawah tadah hujan, para petani memanfaatkan air irigasi dari sumur dangkal (pompa pantek) dengan kapasitas pengairan 0,25 hektar per titik, dan air dari sungai (pompa sedot). Hampir tidak ada petani yang memanfaatkan air sumur dalam (deepwell), karena tingginya nilai investasi.

Satu titik deepwell, paling sedikit memerlukan modal investasi Rp 200.000.000,- (duaratus juta rupiah). Titik sumur tersebut harus menghasilkan debit minimal 5 liter per detik, agar mampu mengairi 10 hektar lahan. Untuk menemukan cekungan air yang bisa dibor, diperlukan peralatan yang disebut geolistrik. Untuk membangun deepwell, juga diperlukan ijin dari pemerintah daerah. Biaya geolistrik dan ijin antara Rp 10.000.000,- sampai Rp 15.000.000,- per titik. Deepwell, baru layak dibangun apabila di lokasi sawah tersebut, tidak diketemukan air permukaan atau  sungai.

Di sepanjang pantura dari Serang, Tangerang, Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu  sampai Cirebon, sebenarnya banyak terdapat sungai besar. Hingga yang diperlukan hanyalah investasi pompa sedot dengan diameter pipa di atas 10 inci. Nilai investasi pompa sedot seperti ini di bawah Rp 50.000.000,- dengan kapasitas di atas 10 hektar per pompa. Hingga dibanding dengan sumur pantek dan deepwell, pemanfaatan air sungai dengan pompa sedot tergolong paling murah. Di Thailand, para petani sudah terbiasa memanfaatkan air sungai untuk irigasi, dengan menggunakan pompa sedot.

Bedanya, petani Thailand tidak menggunakan pompa sedot bermerk, yang umumnya buatan RRC. Para petani Thailand itu justru merakit pompa sendiri. Caranya, digunakan pipa besi di atas 10 inci yang ditanam permanen di tebing sungai. Pipa ini dilengkapi dengan klep di bagian bawahnya. Di bagian atas diberi baling-baling untuk menyedot air. Tenaga penggeraknya mereka gunakan generator diesel yang porttable. Dibanding dengan pompa sedot bermerk buatan RRC, pompa rakitan sendiri ini jauh lebih murah, dan juga lebih awet. Di Indonesia, belum ada petani atau kelompok tani yang memanfaatkan pompa sedot ala petani Thailand ini.

# # #

Setelah lahan sawah siap dengan air irigasinya, pada musim kemarau petani bisa membudidayakan kedelai. Benih harus disiapkan. Yang bisa dibudidayakan di Indonesia, adalah kedelai lokal yang berukuran kecil-kecil. Bukan kedelai impor ukuran besar. Sawah yang bisa ditanami kedelai dengan hasil baik, hanyalah yang pernah ditanami kedelai pada tahun-tahun sebelumnya. Apabila sawah tersebut belum pernah ditanami kedelai, diperlukan inokulasi bakteri rhizobium. Bakteri inilah yang akan bersimbiosis dengan akar kedelai, untuk membentuk bintil akar. Bintil akar kedelai ini bermanfaat untuk menyimpan cadangan nitrogen yang diambil langsung dari udara.

Hingga kedelai, bisa meningkatkan  kesuburan lahan sawah. Benih rhizobium bisa diperoleh di toko-toko pertanian, atau di Laboratorium Tanah di IPB. Benih kedelai dalam volume besar, harus dipesan di Perum Sang Hyang Seri di Sukamandi, Jawa Barat. Sebab masa dorman benih kedelai sangat pendek, yakni hanya tiga bulan. Hingga Perum Sang Hyang Seri tidak pernah berani menyetok benih kedelai dalam volume cukup besar. Jangan sekali-sekali menggunakan kedelai konsumsi untuk benih, sebab daya tumbuhnya terbatas. Seandainya bisa tumbuh baik, tingkat produktivitasnya juga akan sangat rendah.

Impor kedelai sebenarnya tidak mungkin ditiadakan sama sekali. Sebab perajin tempe kita, cenderung lebih menyukai kedelai impor yang berukuran besar, sebab rendemen tempenya sangat tinggi. Beda dengan perajin tahu, yang justru menyenangi kedelai lokal dengan butiran kecil, sebab rendemen tahunya lebih tinggi dibanding kedelai impor. Yang pasti hanya menghendaki kedelai lokal adalah perajin (pabrik) kecap. Sebab mereka menggunakan kedelai hitam. Kebutuhan kedelai nasional, sebenarnya bukan hanya untuk tahu, tempe dan kecap. Sebab kita juga mengimpor bungkil kedelai untuk pakan ternak. (R)  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s