TEBU DAN AGROINDUSTRI GULA

F. Rahardi

Tebu asli dari India, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan sudah mulai dibudidayakan sekitar tahun 3000 SM. Seorang musafir China mencatat, di sekitar “Kota Sriwijaya” ada kebun tebu, penggilingan yang digerakkan kerbau, dan cairan hasil gilingan itu  langsung direbus dan dicetak menjadi gula merah, untuk diekspor.

Ironisnya, sekarang Indonesia justru menjadi pengimpor gula tebu terbesar di dunia. Dengan hasil hanya 25,3 juta ton tebu (setara 2,7 juta ton gula) per tahun, negeri kita tidak bisa masuk ke ranking 10 besar penghasil gula tebu dunia, dan hanya berada pada urutan ke 11. Data hasil tebu versi FAO tahun terakhir (2007, dalam juta ton), Brasil 549,7; India 355,5; RRC 106,4; Thailand 64,3; Pakistan 54,7; Meksiko 52; Australia     36,3; Kolombia 32; AS 27,7; ;  dan Guatemala 25,4.

Dulu di jaman pemerintah kolonial Hindia Belanda, hasil panen tebu rata-rata mencapai lebih dari 100 ton per hektar per panen (11 bulan). Sekarang, hasil per hektar bisa hanya 60 ton. Rendemen gula, dulu bisa sampai 18%, paling kecil 12%. Saat ini rata-rata rendemen hanyalah 7,5%. Rendahnya hasil dan rendemen ini terutama disebabkan oleh periode panen ulang yang bisa sampai 10 kali. Standar panen ulang hanyalah tiga kali. Artinya, setelah panen I, tonggak tebu masih bisa dipelihara lagi untuk panen II dan III. Selanjutnya harus dibongkar dan lahan dirotasi dengan tanaman lain.

Sebelum tahun 1970an, yang menanam tebu adalah pabrik gula. Baik BUMN (PTPN) maupun swasta. Petani sebagai pemilik lahan cukup menerima uang sewa dan upah tenaga kerja. Karena dilakukan oleh sebuah institusi profesional, maka standar olah lahan, benih, perawatan dan lain-lain selalu dipenuhi. Hingga hasil per satuan hektar per panen serta rendemennya selalu bisa memenuhi standar baku. Sekarang, petani harus menanam tebu sendiri, untuk digilingkan ke pabrik dengan sistem bagi hasil. Inilah sumber utama in-efisiensi agroindustri gula tebu kita.

Dewasa ini memang sudah banyak pabrik gula BUMN maupun swasta yang mengalihkan kegiatannya di luar Jawa. Antara lain di Aceh, Sumut, Lampung, Kalsel dan lain-lain. Mengatasi permasalahan off farm yang dihadapi oleh BUMN maupun pabrik gula swasta sangat sulit untuk dilakukan dalam waktu dekat. Sebab hal itu terkait dengan masalah sosial, politik dan kultur nasional. Tetapi meningkatkan efisiensi petani tebu kita relatif mudah. Sebab masalahnya hanyalah on farm. Namun permasalahan on farm ini pun, memerlukan sebuah keputusan politik untuk mengatasinya.

Maukah pemerintah mengucurkan dana lebih besar ke para petani tebu kita? Seandainya para petani bisa menerima kredit sesuai dengan kebutuhan riil budi daya tebu, apakah ada jaminan bahwa nilai sebesar itu akan masuk ke lahan? Sebab selama ini kredit-kredit massal demikian lebih banyak dijadikan ajang KKN, hingga petani penerima kredit pun akan membelanjakan uang tersebut untuk keperluan lain. Bukan untuk lahan mereka. Karenanya, meskipun permasalahan yang dihadapi petani hanyalah on farm, namun untuk mengatasinya tetap diperlukan upaya pilitik, sosial bahkan juga kultural.

Selain faktor petani, pabrik gula di Jawa, baik yang BUMN maupun swasta, sudah sangat tidak efisien. Tahun 1980an, Prof. Dr. Mubyarto, pernah mengritik agroindustri gula kita yang sebenarnya sudah sangat tidak efisien, tetapi tetap dipertahankan oleh pemerintah, demi kelangsungan hidup segelintir “amptenar” kita. Mubyarto menyarankan agar seluruh pabrik gula di Jawa ditutup, dan direlokasi ke luar Jawa. Sekarang terbukti benar, bahwa agroindustri gula tebu kita yang efisien, hanyalah yang berlokasi di luar Jawa.

Sampai dengan awal kemerdekaan, kita masih menjadi negara pengekspor gula putih. Sebab ketika itu, agroindustri gula tebu di Jawa masih relatif efisien, karena pabrik menanam tebu sendiri. Namun ada faktor lain, ketika itu tingkat konsumsi gula putih kita masih sangat rendah. Masyarakat Indonesia, ketika itu masih lebih banyak mengonsumsi gula merah dari aren, kelapa, dan lontar. Sejak awal tahun 1970an, pelan-pelan populasi penduduk Indonesia naik, juga tingkat kesejahteraannya. Dampaknya konsumsi gula merah menyusut, dan gula pasir putih naik.

Kenaikan tingkat konsumsi ini, sayangnya tidak disertai oleh kenaikan produksi yang memadai. Agroindustri gula tebu di Jawa justru makin terpuruk., dan beberapa pabrik malahan tutup. Sementara relokasi pabrik ke luar Jawa berjalan dengan sangat lamban. Sementara Brasil, India, RRC, Thailand, dan Pakistan mampu tampil sebagai penghasil utama gula tebu dunia. Brasil sebagai penghasil gula tebu terbesar di dunia merupakan fenomena yang menarik. Saat ini hasil gula tebu negeri ini sekitar 20 kali lipat hasil tebu kita. Padahal populasi penduduk Brasil yang 192 juta, berada di bawah negeri kita yang 230 juta jiwa.

Ada beberapa alternatif untuk mengatasi masalah ketergantungan negeri kita pada gula impor. Pertama, relokasi agroindustri gula tebu ke luar Jawa segera direalisir. Kedua, agroindustri gula semut (brown sugar), dari bahan palma (aren, kelapa dan lontar), kembali diaktifkan. Caranya antara lain dengan pembenahan teknologi pemanjatan dengan menggunakan climbing harness. Kalau dulu, tahun 1960an, harga gula merah jauh lebih murah dibanding gula pasir putih, sekarang harga brown sugar asal palma justru lebih tinggi dari harga gula pasir. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s