TREND KELAPA HIJAU BAKAR

Di tengah krisis ekonomi dewasa ini, ada saja akal orang untuk melempangkan bisnis mereka. Beberapa tahun silam, ada trend pisang goreng pontia, yang dalam waktu singkat bermunculan di kaki lima di Jakarta. Belakangan ini muncullah trend baru, kelapa hijau bakar. Dulu, para penjual pisang goreng pontia hanya sekadar menjajakan makanan, tanpa embel-embel lain. Sekarang penjual kelapa hijau bakar bukan sekadar menjual minuman, melainkan menawarkan kesehatan, penyembuhan dari berbagai penyakit, bahkan juga peningkatan stamina, dan gairah seksual. Inilah promosi yang sangat mujarab untuk menggaet konsumen.

Yang dimaksud dengan kelapa hijau bakar, adalah kelapa muda yang berkulit luar warna hijau, yang dibakar sampai panasnya mencapai bagian dalam, baru kemudian dipangkas sabutnya, dan dihidangkan. Sebelum dihidangkan, ke dalam air kelapa yang panas itu dibubuhkan macam-macam bahan. Mulai dari jahe, kulit kayu manis, madu, susu, jeruk nipis, sampai ke sirup ubi jalar ungu. Karena yang dijual adalah imajinasi, maka harga kelapa muda yang sebelumnya hanya Rp 2.000,- sampai Rp 3.000,- langsung meningkat menjadi Rp 5.000,- sampai dengan Rp 15.000,- per butir. Peringkat harga ini, terjadi karena lokasi menjualnya, dan juga bahan bakunya. Kelapa hijau yang diimpor dari Thailand, nilainya pasti lebih tinggi dibanding kelapa lokal.

Ketika masih baru, pembeli pisang pontia sampai terpaksa harus antre. Peminat kelapa hijau bakar ini pun sama. Mereka terpaksa harus antre panjang menunggu pesanan mereka siap. Ada pengantre yang baru pertamakali mencoba, tetapi banyak di antara mereka yang sudah merupakan pelanggan tetap. Menurut para pelanggan ini, mereka memang bisa merasakan kasiat kelapa hijau bakar seketika. Rasa capek hilang, pegal-pegal tak terasa lagi, dan badan kembali segar. Hanya dengan melalui promosi dari mulut ke mulut, juga melalui publisitas di media massa, khususnya televisi, trend ini terus berkembang, entah sampai kapan. Yang terjadi pada pisang pontia, masyarakat tampaknya cepat sekali bosan.

# # #

Varietas kelapa (Cocos nucifera) memang cukup beragam. Mulai dari ukuran tanaman maupun buahnya, kandungan santan, sampai ke warna kulit buah. Masyarakat awam mengenal kelapa dari jenisnya, yakni kelapa genjah dan kelapa dalam. Yang tergolong kelapa genjah antara lain kelapa puyuh (kulit hijau), dan gading (kuning dan oranye). Kulit kelapa dalam umumnya berwarna hijau, dan cokelat. Buah kelapa genjah, kecil-kecil, rasa airnya masam, dan kandungan santannya sangat kecil. Namun kelapa genjah  sudah mulai berbuah umur tiga  tahun, dengan jumlah buah dalam satu tandan lebih dari 20 butir.

Kelapa dalam, baru berbuah pada umur di atas enam tahun. Ukuran buahnya besar, kandungan santannya tinggi, dan rasa airnya manis. Kelapa pandan Thailand (kelapa bangkok), adalah kelapa tipe sedang. Baik umur produksinya, ukuran tanaman, maupun buahnya. Kelapa bangkok disebut kelapa pandan, karena airnya beraroma pandan. Kelebihan kelapa muda bangkok, terletak pada cara menyajikannya. Kelapa kita dipangkas asal-asalan, pada bagian tangkai, lalu disajikan. Kelapa bangkok dipangkas rata pada bagian tangkai, dan meruncing pada bagian ujungnya.

Memangkasnya juga sangat rapi dan halus, seperti diserut. Padahal, alat pangkasnya golok biasa. Setelah dipangkas, seluruh kelapa dicelupkan ke dalam larutan klorin, agar sabut bekas pangkasan tidak menjadi cokelat. Hingga kelapa pandan Thaliand, tampak sangat menarik. Kulitnya hijau, dengan irisan halus dan runcing seperti diserut, dengan warna sabut tetap putih, meski sudah terpangkas selama berhari-hari. Kalau ada pembeli, bagian ujung buah (yang tak bertangkai) yang dipotong segi tiga, hingga bisa dimasuki sedotan. Kelapa pandan bangkok adalah andalan agro industri, serta pariwisata Thailand.

Sebenarnya, kita juga punya kelapa hijau yang beraroma pandan. Ciri khas kelapa pandan kita, bukan terletak pada warna kulitnya yang hijau, melainkan pada pangkal buahnya (tempat melekatnya tangkai), yang apabila kelopaknya dibuka akan tampak warna merah jambu. Warna merah jambu ini sangat dominan ketika kelapa masih sangat muda. Bagi masyarakat tradisional, yang disebut kelapa hijau adalah yang pangkal buahnya (umbutnya) berwarna merah jambu. Kalau warna umbutnya putih, meski kulit buahnya hijau, tidak disebut sebagai kelapa hijau. Kelapa hijau dicari-cari orang bukan lebih tinggi khasiatnya, melainkan hanya karena langka. Kalau yang minta banyak tetapi barangnya sedikit, maka sesuai hukum pasar harga akan naik.

# # #

Namun kelapa hijau di Indonesia, bukan dijadikan komoditas bisnis, melainkan justru dikeramatkan. Selain dipercaya mampu menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk kanker, kalapa hijau asli juga diperlukan untuk berbagai upacara adat. Terutama untuk upacara tujuh bulanan (tujuh bulan kehamilan). Hingga kelapa hijau muda, bahkan masih sangat muda (disebut cengkir),  selalu dijual oleh pedagang peralatan ritual. Baik ritual kelahiran, pernikahan, tujuh bulanan, sampai ke kematian. Sampai sekarang, kelapa hijau pandan, masih bisa dijumpai di sentra-sentra kelapa, meskipun populasinya sangat terbatas. Meski harganya lebih tinggi dibanding kelapa cokelat, tetapi tidak pernah ada upaya untuk mengembangkannya.

Kandungan nutrisi kelapa, baik air maupun daging buahnya, memang sangat tinggi, hingga baik untuk kesehatan. Namun nutrisi tersebut, terutama vitaminnya, justru akan rusak apabila dipanaskan. Memasak sayuran pun cukup dicelup air mendidih sebentar, kemudian diangkat, agar vitaminnya tidak rusak. Lebih ideal kalau sayuran dimakan mentah, sebagai salad atau lalap. Kelapa muda pun sama, justru lebih bermanfaat apabila dikonsumsi segar. Bukan dipanaskan dengan cara dibakar. Namun itulah trend bisnis. Orang selalu ingin hal-hal baru, yang eksotis, yang aneh. Kelapa hijau bakar yang dibubuhi rempah, mampu menjawab tuntutan tersebut.

Kalau hanya sekadar menciptakan trend bagi konsumen, tidak menjadi masalah. Yang sering dipermasalahkan adalah, adanya embel-embel “mampu menyembuhkan aneka penyakit”. Virgin Coconut Oil (VCO), adalah produk yang baik untuk kesehatan, terutama kesehatan kulit. Dari jaman dulu, minyak kelapa dimanfaatkan oleh nenek moyang kita untuk kosmetik. Yang berkhasiat untuk dikonsumsi, bukan VCOnya, melainkan santannya, terutama kalau santan itu dikonsumsi segar, atau dipanaskan ala kadarnya. Klaim kelapa hijau bakar berkhasiat mampu menyembuhkan aneka penyakit, inilah yang harus kita kritisi. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s