DOMINASI TANAMAN HIAS POT

Tanaman hias pot, yang pemanfaatannya lebih sebagai penghias ruangan (indoor plant), serta sebagai koleksi, saat ini masih tetap mendominasi pasar tanaman hias Indonesia. Sebenarnya volume jenis tanaman hias ini, masih relatif kecil dibanding dengan bunga potong, anggrek, dan terutama tanaman hias elemen taman. Namun pemasaran tanaman hias pot, menggunakan etalase yang sangat mencolok, serta selalu mendominasi pameran dan bursa tanaman hias, yang belakangan ini frekuensinya semakin tinggi. Hingga seakan-akan, pangsa pasar tanaman hias pot merupakan yang tertinggi dibanding jenis tanaman hias lainnya.

Yang sampai sekarang mendominasi pasar tanaman hias, masih tetap adenium (kamboja jepang), aglaonema, anthurium daun, euphorbia, sansiveira, nephentes (kantong semar), caladium, alocasia, dan puring. Bulan Agustus nanti, aglaonema Harlequin yang tahun lalu terjual dengan rekor harga tertinggi yakni Rp 760.000.000,- akan dilepas ke pasar bebas. Harlequin adalah silangan Greg Hambali, yang dalam lelang berhasil dimiliki oleh Harry Setiawan dari Irene Flora Nursery. Belakangan ini, harga aglo justru sedang agak melorot, dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meskipun dianggap telah menurun, aglo yang berkelas, per pot masih berharga di atas Rp 5.000.000,- dengan hanya dua atau tiga daun. Kalau harga aglaonema agak turun, maka  anthurium dan adenium cenderung terus naik.  Adenium yang sekarang pamornya sedang bagus adalah jenis arabikum, yang bonggolnya sangat besar. Adenium jenis ini memang mengandalkan bonggol sebagai daya tarik utama. Meskipun bunganya juga tetap bisa dinikmati. Adenium arabikum, juga selalu disambung dengan adenium lain, agar keindahan bunganya bisa diandalkan.

# # #

Dominannya tanaman hias pot, sebenarnya juga dipicu oleh pameran tanaman yang frekuensinya terus bertambah. Harga aglaonema yang fantastis, sebenarnya pantas untuk dipertanyakan. Apakah orang membeli tanaman hias ini benar-benar karena menyukainya, atau justru karena dipicu oleh harganya yang tinggi? Kalau harga aglaonema Rp 5.000.000,- padahal baru terdiri dari dua daun, maka harga per lembar daun mencapai Rp 2.500.000,- Kalau dalam satu bulan pembeli aglao ini mampu menumbuhkan satu lembar daun, setelah dipelihara tiga bulan harganya akan naik menjadi Rp 12.500.000,-

Pola pikir inilah yang digunakan oleh para pembeli aglao. Pikiran mereka tidak salah, sebab Harlequin yang dibeli Harry Setiawan dari lelang seharga Rp 760.000.000,- hanya terdiri dari sekitar 50 lembar daun. Hingga harga per lembar daun mencapai Rp 15.200.000,- Ketika itu, Herlequin sudah ada enam anakannya pada pangkal batang. Oleh Harry, enam anakan ini segera disapih. Batang serta bonggolnya juga dipotong-potong, sedangkan “tajuknya” tetap menjadi tanaman  induk. Kalau oleh Harry, anakan Harlequin itu dijual dengan harga Rp 130.000.000,- per tanaman, akan diperoleh Rp 780.000.000,- hingga ia sudah balik modal.

Pola pikir seperti itulah yang digunakan oleh para pembeli aglao, anthurium, adenium,  dan tanaman hias pot lain yang sedang trendy. Hingga mereka kemudian bisa menjadi  nursery dadakan. Pikiran mereka adalah, kalau punya 20 pot aglao kelas Rp 5.000.000,- atau dengan total modal Rp 100.000.000,- maka hanya dalam jangka waktu tiga bulan, ia sudah bisa menjualnya lagi dengan harga Rp 250.000.000,- atau akan memperoleh laba kotor 150% dari modal. Kalau dipotong dengan biaya perawatan dan lain-lain, paling tidak seseorang masih bisa meraih keuntungan 100% hanya dalam jangka waktu tiga bulan.

Kalau yang membeli aglao dan membesarkannya untuk dijual kembali ini nursery atau pedagang, tidak menjadi masalah. Sebab mereka punya jalur pasar. Baik melalui gerai tanaman, atau pameran. Selain itu mereka juga sudah punya relasi yang akan siap membeli aglao mereka. Tetapi bagaimana kalau yang memborong aglao itu orang biasa? Yang selama ini dipikirkan oleh pemborong tanaman hias pot ini adalah, membesarkan tanaman ini sangat mudah. Mereka lupa, bahwa yang susah memang bukan membesarkannya, melainkan  menjualnya kembali. Terlebih kalau suatu ketika nanti, harga aglao akan benar-benar jatuh.

# # #

Komoditas tanaman hias, memang seperti mode, atau karya seni. Suatu ketika, harganya bisa melambung tinggi, tetapi kemudian jatuh dan dilupakan. Palem merah, palem botol, palem segitiga biru, palem raja, palem putri, mosaenda (nusa indah), suplir, pachira, semua pernah menjadi tanaman hias dambaan masyarakat. Harganya juga tak pernah terjangkau oleh rakyat kebanyakan. Meskipun trend naiknya harga palem, lebih dipicu oleh bisnis properti, yang sejak tahun 1970an grafiknya terus naik, hingga mengalami booming pada tahun 1990an. Dan kemudian terpuruk, sejak krisis ekonomi 1998.

Namun bisnis tanaman hias sebagai elemen taman, tetap ada unsur rasionalitasnya. Ketika bisnis properti kembali bangkit, maka pasar tanaman hias sebagai elemen taman juga ikut bergerak naik. Meskipun sebenarnya, ketika krisis ekonomi paling berat antara 1998 sd. 2001, tanaman hias elemen taman tetap diproduksi, dan pasarnya juga ada. Sebab ketika itu, akibat kurs rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 15.000,- per 1 dolar AS, maka harga cengkih, lada, pala, dan komoditas pertanian lainnya mengalami kenaikan luar biasa, hingga banyak orang kaya mendadak, membangun rumah, dan perlu tanaman hias.

Selain itu, sejak era reformasi, pelaksanaan otonomi daerah juga mulai jalan. Anggaran lebih banyak sampai ke daerah, dan bukan hanya berhenti di Jakarta. Hingga pembangunan kota, ibu kota kabupaten, dan provinsi, juga dilaksanakan dengan intensitas tinggi. Untuk itu juga diperlukan tanaman hias, sebagai elemen taman. Baik taman untuk rumah, bangunan perkantoran, maupun taman kota. Namun bisnis tanaman hias sebagai elemen taman ini berlangsung diam-diam. Harga tanamannya juga murah meriah. Kalau ada yang harganya tinggi, juga tidak akan segila harga aglaonema. (R)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s