MIMPI SWASEMBADA BERAS

Ketika berkunjung ke RRC Wapres Jusuf Kalla menyatakan, bahwa tahun 2008 Indonesia harus swasembada beras. Ini adalah sebuah mimpi. Agar mimpi ini bisa menjadi kenyataan, maka Departemen Pertanian harus kerja keras. Mengapa Departemen Pertanian yang harus kerja keras? Karena akan mendapatkan tekanan dari Wapres. Mengapa baru sekarang Wapres membuat pernyataan tentang swasembada beras? Karena dia baru saja sadar, bahwa sekarang sudah 2007. Kalau 2008 masih juga impor beras berapa pun volumenya, pasti akan menjadi cemoohan lawan politik dalam kampanye pilpres 2009.

Tampaknya, kebiasaan pejabat Orde Baru membuat pernyataan, juga sudah menjalar dengan sangat baik pada pejabat pemerintahan kita sekarang. Padahal yang harus dilakukan pemerintah, bukan membuat pernyataan, melainkan diam-diam bekerja agar petani diuntungkan. Kalau petaninya bisa meraih keuntungan dari beras, maka tanpa memperoleh tekanan dari pihak manapun mereka akan menanam padi. Petani sangat sulit untuk membuat diri mereka produktif, karena mereka tidak punya kelembagaan yang kuat, juga tidak punya kapital, dan juga tidak menguasai pasar. Satu-satunya modal yang mereka miliki hanyalah lahan dan tenaga.

Pemerintah sendiri, khususnya Departemen Pertanian sangat sulit meningkatkan produksi beras, karena Indonesia tidak memiliki perangkat database perberasan. Perusahaan perbankan, bisa mengatur strategi bisnis, karena mereka punya database nasabah. Pabrik rokok besar bisa melakukan promosi, karena mereka punya database distributor dan pedagang grosir. Database pengecer tentu tidak terlalu diperlukan. Database adalah sarana paling penting yang harus dimiliki suatu lembaga, untuk mencapai target.  Kalau mimpi swasembada beras tahun 2008 akan dicapai hanya dengan pemanfaatan benih padi hibrida, maka mimpi itu sulit menjadi kenyataan.

# # #

Sayang, bahwa rombongan besar Wapres yang berkunjung ke RRC, hanya terpesona dengan benih padi hibrida. Padahal, RRC adalah negara yang swasembada beras, gandum, jagung, ubijalar, dan sekarang ini sedang sangat gencar mengembangkan biji bayam (grain amaranth). Mengapa RRC tertarik mengembangkan grain amaranth, sebab komoditas ini merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indian Aztek, selain jagung, kentang, singkong, keladi, ubi jalar, garut dan ganyong. Masyarakat indian purba pun, mengandalkan pangan mereka pada delapan jenis sumber karbohidrat sekaligus. Strategi inilah yang sekarang diterapkan RRC untuk memberi makan pada 1,2 milyar jiwa penduduknya.

Indonesia, memang juga menanam jagung, menanam singkong, menanam ubijalar, menanam talas, dan kentang. Tetapi kentang di negeri ini adalah sayuran. Bukan makanan pokok seperti halnya masyarakat Indian, atau masyarakat kulit putih yang menirunya. Talas hanyalah produk eksklusif yang dijadikan oleh-oleh ketika masyarakat Jakarta piknik ke Bogor. Demikian pula dengan ubijalar cilembu. Jagung yang ditanam secara massal hanyalah jagung pakan ternak. Sementara jagung tepung yang menjadi makanan pokok masyarakat pegunungan di Jawa, kian tersisih oleh mi instan, yang gandumnya harus kita impor.

Satu-satunya komoditas pangan yang memasyarakat namun tidak pernah disadari oleh Departemen Pertanian, terlebih oleh Wapres, adalah singkong. Bukan memasyarakat dalam bentuk singkong goreng atau tiwul, melainkan bakso. Terutama bakso sapi. Bakso adalah tepung tapioka, atau pati singkong, tepung kanji, kadangkala juga salah disebut sebagai sagu. Tepung tapioka ini dicampur dengan daging sapi yang belum dilayukan, lalu digiling, dibentuk bulat dan dimasukkan ke dalam air panas. Tidak pernah ada data pasti, berapa volume konsumsi tepung tapioka kita. Namun pertumbuhan konsumsi bakso yang sangat pesat, tampak dengan kasat mata.

Sebenarnya kita masih sangat kaya dengan berbagai sumber karbohidrat. Papua punya keladi (Xanthosoma sagitafolium), dan ubijalar (Ipomoea batatas), yang datang dari Amerika Latin secara estafet melalui Pasifik pada abad IV. Kita juga punya uwi-uwian (Dioscorea Sp), suweg (Amorphophalus paeoniifolius), iles-iles (Amorphophallus konyak), talas (Colocasia esculenta),  ganyong (Canna edulis), garut (Marantha arundinacea), sagu (Metroxylon sago, Metroxylon rumphii), dan  sukun (Artocarpus communis); yang kesemuanya menghasilkan karbohidrat. Namun semua komoditas itu tersia-siakan, kalah pamor dari beras.

# # #

Konsep swasembada pangan kita memang sudah terlanjur dirusak oleh penjajah Belanda, dilanjutkan oleh pemerintah kita sendiri. Akibatnya kita menjadi sangat bergantung pada beras. Repotnya, sawah berpengairan teknis, terutama di Jawa, terus terkikis untuk jalan, bangunan dan sarana-prasarana lainnya. Hingga volume produksi beras kita sulit untuk didongkrak naik. Meskipun kita juga harus fair mengakui, bahwa produksi beras nasional kita sangat stabil, dan ini semua merupakan hasil kerja Orde Baru. Sebab data statistik produksi gandum negara berpenduduk paling besar, cenderung menurun.

Produksi gandum AS misalnya, tahun 2000 sebesar 60,8 metrik ton, tahun 2001 turun menjadi 53,3, dan 2002 turun lagi  44,0. RRC, 2002:  99,7; 2001: 94,0; dan 2002: 89,0. India, 2000: 76,4;  2001: 71,5; dan 2002: 68,8. Untunglah Rusia yang sebelumnya dikenal sebagai importir gandum justru naik produksinya. 2000: 34,5; 2001: 46,9; 2002:  50,6. Demikian pula dengan Ukraina, 2000: 10,2; 2001: 20,5; dan 2002: 21,0; dan  Kazakhstan, 2000: 9,1; 2001: 12,7; dan 2002: 12,8. Penurunan produksi gandum di beberapa negara pada 2000-2002 ini, terutama disebabkan oleh faktor cuaca global. Sementara kenaikan produksi, merupakan dampak dari perubahan kebijakan politik di negara-negara eks Uni Soviet.

Sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar nomor 4 di dunia, kita seharusnya bukan hanya mengandalkan satu produk pangan yakni beras. Pergeseran pola makan dari beras ke gandum juga harus sedikit direm. Caranya dengan memroduksi dan memopulerkan komoditas pangan yang selama ini kita miliki. Hingga terjadi deversifikasi produk pangan. Swasembada pun tetap harus diupayakan, namun caranya bukan hanya dengan benih hibrida. Terlebih kalau targetnya 2009. Ini lebih merupakan pernyataan politik untuk Pilpres 2009. Sebab swasembada beras tahun 1984, merupakan hasil dari upaya sejak tahun 1966. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s