PRODUK PANGAN ORGANIK

PRODUK PANGAN ORGANIK

Belakangan ini tren pangan, dan produk pertanian organik, terutama beras dan sayuran, makin marak di Indonesia. Namun masyarakat awam, umumnya masih bingung: “Apa sajakah kriteria pangan dan produk pertanian organik?”

Pangan dan produk pertanian organik, dihasilkan oleh aktivitas pertanian dengan: 1. benih organik; 2. lahan organik; 3. air organik; 4. sistem organik. Selama ini pertanian organik hanya diartikan sebagai bertani tanpa pupuk dan pestisida kimia. Padahal, ini hanyalah point bagian dari poin 4, yakni sistem organik. Yang dimaksud sebagai benih organik adalah benih yang dihasilkan dari pertanian organik sebelumnya, bukan hasil teknologi pembenihan modern. Lahan dan air organik adalah tanah dan air, yang tidak tercemar pupuk/pestisida kimia, serta limbah berbahaya lainnya.

Lahan dan air itu bisa berada di kawasan yang tidak pernah tercemar oleh pupuk, pestisida dan bahan kimia lainnya. Bisa pula berupa lahan biasa yang sebelumnya merupakan areal pertanian konvensional, namun kemudian para petaninya berhenti menggunakan pupuk dan pestisida kimia, untuk beralih ke pupuk dan pestisida organik. Proses peralihan ini disebut sebagai “transisi organik” yang akan memakan waktu antara 3 sd. 5 tahun tergantung tingkat pencemaran sebelumnya, serta ada tidaknya pencemaran di sekitar lahan pertanian tersebut.

Adakah jaminan bahwa pangan dan suatu produk pertanian benar-benar organik? Ada tiga pola penjaminan. Pertama first party, petani langsung mendeclare, bahwa dia penghasil pangan dan produk pertanian organik. Untuk itu konsumen harus diyakinkan dengan melihat langsung areal tanaman, dan proses produksi. Pola first party, hanya berlaku apabila konsumen kontak langsung dengan produsen. Hotel bintang di Jakarta yang berhubungan dengan organic farm di Cisarua dan Parungkuda, adalah contoh pola first party ini.

Pola kedua adalah second party, ada pihak kedua yang memberi jaminan, bahwa pangan dan produk pertanian yang dijualnya benar-benar organik. Untuk itu, pihak kedua, misalnya pasar swalayan harus mengontrol organic farm yang memasoknya. Pola second party ini hanya bisa berlangsung, kalau produk tersebut hanya dipasarkan dengan jalur produsen  pedagang  konsumen. Pola ketiga disebut sebagai third party, yakni ada pihak ketiga sebagai penjamin, bahwa produk yang diberinya label, benar-benar organik. Lembaga ini harus mendapat akreditasi yang diakui secara internasional. Terlebih kalau produk pangan organik tersebut akan diekspor.

Di tingkat dunia, ada tiga lembaga yang menangani pertanian organik. Pertama The National Network of Organik Farmers (NTOF = Jaringan Kerja Pertanian Organik = Jaker PO). Kedua The International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM = Federasi Gerakan Pertanian Organik Internasional). Ketiga International Organic Accreditation Service (IOAS). Dua lembaga pertama merupakan wadah bagi kegiatan pertanian organik di tingkat internasional. Di Indonesia sudah ada beberapa lembaga yang berafiliasi ke NTOF maupun IFOAM. Antara lain Bina Sarana Bhakti (BSB, Cisarua), Sekretariat Paguyuban Tani dan Nelayan Hari Pangan Sedunia (SPTN – HPS), Yogyakarta, dan masih ada beberapa nama lagi.

Kalau NTOF dan IFOAM, merupakan wadah bagi gerakan pertanian organik, maka IOAS merupakan pemberi akreditasi bagi produk pertanian organik melalui ISO 65. Label produk pertanian organik Indonesia, baru akan memperoleh kepercayaan pasar internasional, kalau pemberi lebelnya sudah terakreditasi oleh IOAS. Atau petaninya sendiri yang mengajukan akreditasi ke IOAS. Saat ini, lembaga di Indonesia yang sudah terakreditasi untuk memberikan label organik antara lain Jaker PO, dengan kantornya di Bogor, Jawa Barat.

Pertanian organik di Indonesia, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970an oleh BSB di Cisarua, kabupaten Bogor, dan SPTN/HPS di Kotagede, DIY. Masyarakat kemudian ikut kreatif. Mereka mendeclare bahwa kelapa muda miliknya merupakan produk organik. Kemudian rebung bambu yang diambil dari hutan juga diklaim sebagai rebung organik. World Trade Organization (WTO) kemudian menetapkan pelabelan produk pangan dan pertanian menjadi lima kategori : 1. produk konvensional (dibudidayakan dengan benih unggul, pupuk dan pestisida kimia); 2. produk aman dan sehat (healt and savety product/limited chemical pestiside and fertilizer; yakni produk yang dibudidayakan dengan pupuk dan pestisida kimia terbatas, hingga bisa menjamin kesehatan dan keamanan konsumen); 3. wild product (rebung bambu yang diambil dari hutan); 4. local product (kelapa muda dari kebun penduduk yang tidak dipupuk dan diberi pestisida); 5. organic product (produk pertanian organik).

Dengan pelabelan WTO, seseorang tidak bisa sembarangan mengklaim bahwa produk yang dihasilkannya merupakan produk organik. Hingga ketika kita datang ke satu warung atau toko yang menggerai pangan serta produk pertanian organik, konsumen berhak untuk menanyakan mana label dari IOAS atau lembaga nasional yang telah terakreditasi oleh IOAS. Kalau tidak mampu menunjukkan label tersebut, warung atau toko itu harus mampu memberikan jaminan bahwa produk itu dihasilkan oleh organic farm yang terpercaya (second party). ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s