PRODUKSI BENIH HORTIKULTURA

Beberapa waktu yang lalu, Direktur Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian (Ditjen Horti Deptan) Ahmad Dimyati, mengeluh tentang ketergantungan petani kita pada benih impor. Ini merupakan keluhan rutin, yang juga pernah disampaikan oleh Sumarno, Dirjen Horti sebelumnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh publik sehubungan dengan keluhan tersebut. Pertama, ketergantungan tidak selalu berkonotasi negatif. Kedua, agroindustri benih memang memerlukan investasi besar. Ketiga, secara teknis, sebenarnya kita mampu memroduksi benih. Namun kita tidak mampu memasarkannya.

Selama ini, Indonesia tidak hanya tergantung pada impor benih produk hortikultura. Agroindustri tekstil kita, 95% tergantung pada kapas impor. Agroindustri mi, malahan 100% tergantung pada gandum impor. Konsumsi produk buah-buahan segar kita, 10% tergantung pada buah impor. Agroindustri peternakan dan perikanan kita, juga sangat tergantung pada induk, bungkil dan tepung ikan impor. Kita banyak tergantung pada impor, dan untuk produk tertentu tidak menjadi masalah. Ketergantungan kita pada impor gandum, meskipun mencapai 100% tidak terelakkan, karena hampir tidak mungkin memroduksi gandum di Indonesia.

Sebaliknya impor buah segar, meski hanya 10%, sangat memalukan. Sebab kita punya potensi memroduksi apel, jeruk, anggur, durian, dan lengkeng. Hingga yang menjadi masalah, apakah kita dirugikan dari ketergantungan tersebut, atau diuntungkan. Sebab saling tergantung dalam agribisnis modern adalah sesuatu yang wajar. Asal, hal tersebut, juga berdampak pada saling teruntungkan di dua belah pihak. Apakah ketergantungan kita pada benih hortikultura impor merugikan kita? Kita itu siapa? Petani, produsen benih, pemerintah, atau konsumen produk hortikultura? Kalau yang dirugikan hanya produsen benih, maka tidak bisa dikatakan bahwa ketergantungan tersebut merugikan.

# # #

Komoditas hortikultura dibedakan menjadi tiga jenis, yakni buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Buah-buahan tanaman keras seperti durian, dan lengkeng, tidak memerlukan benih impor. Tetapi produsen benih nasional kita, justru telah berlaku licik demi keuntungan mereka. Akibatnya petani, konsumen durian dan lengkeng, serta pemerintah juga dirugikan. Petani rugi, karena kebun durian mereka hancur akibat rendahnya kualitas benih. Konsumen rugi karena harus membeli durian dan lengkeng dengan harga tinggi. Pemerintah rugi, karena devisa terbuang untuk impor durian dan lengkeng segar.

Rendahnya kualitas benih durian, disebabkan oleh produsen benih yang rakus. Mereka tidak pernah diawasi oleh pemerintah. LSM dan pers pertanian yang seharusnya¬† melakukan kontrol, juga tidak berfungsi. Benih durian, seharusnya tidak hanya memerlukan pohon induk unggul untuk batang atas, melainkan juga untuk batang bawah. Selama ini menteri pertanian sudah merilis puluhan varietas durian unggul untuk batang atas. Tetapi menteri pertanian tidak pernah merilis durian varietas unggul sebagai batang bawah. Produsen benih yang ingin keuntungan setinggi mungkin, menggunakan biji durian “sapuan”, yang dikumpulkan dari pasar dan kios durian.

Benih durian dengan batang bawah dari biji yang berasal dari macam-macam durian, dengan kualitas yang sebagian besar jelek, tentu akan menghasilkan tanaman yang sangat lemah setelah berada di kebun. Kelicikan produsen benih ini, juga masih ditambah dengan penyambungan ketika batang bawah berumur 1 bulan dan baru setinggi 10 cm. Benih sambung dini demikian, juga akan mengalami kematian pada usia dini. Di Thailand, batang bawah harus berupa biji yang berasal dari pohon induk yang sudah disertivikasi. Penyambungan dilakukan pada batang bawah yang sudah setinggi minimal 50 cm. Ada produsen benih yang baru menyambung, ketika batang bawah sudah 1,5 m.

Itulah sebabnya di Thailand kebun durian bisa produktif, dan buahnya membanjiri kakilima di kota-kota besar di Indonesia. Benih lengkeng, terutama lengkeng dataran rendah, masih sangat langka, karena pohon induk untuk batang atasnya juga masih langka. Sementara benih untuk batang bawah, sebenarnya sangat mudah diperoleh dari biji durian Thailand, yang juga membanjiri kakilima kita. Hal ini tidak mungkin kita lakukan terhadap durian, sebab batang bawah yang direkomendasikan adalah durian chanee, sementara yang kita impor monthong yang berbiji hampa. Buah yang benihnya diproduksi dengan kualitas serta kuantitas cukup, antara lain jeruk dan mangga.

# # #

Buah-buahan yang benihnya sangat tergantung impor adalah semangka dan melon. Dua jenis buah ini, terutama semangka tanpa biji, sangat sulit untuk kita produksi, karena memerlukan biaya tinggi. Pepaya bangkok yang merajai pasar buah kita, benihnya 100% produksi lokal. Benih sayuran seperti kentang misalnya, sebenarnya sudah bisa kita produksi. Namun importir benih lebih kuat melobi Deptan, dibanding dengan produsen benih. Hingga produsen benih kentang nasional, tidak pernah bisa tumbuh dengan sehat. Benih cabai dan bawang merah, sebenarnya juga bisa kita produksi sendiri. Impor benih bawang merah, sebenarnya hanya dalih para penyelundup, untuk memasukkan bawang merah konsumsi.

Benih cabai, terutama cabai hibrida, sama halnya dengan semangka, kol, brokoli, dan beberapa sayuran daun maupun umbi, memang memerlukan biaya riset yang tinggi. Biaya itu baru akan tertutup, apabila benih diproduksi secara massal. Knowyou Seed di Taiwan misalnya, memroduksi benih untuk pasar asia, termasuk RRC, dan Asia Tenggara. Produksi khusus untuk benih sayuran tropis, dilakukan Knowyou Seed di Vietnam. Produsen benih kita, pasti kalah efisien dengan Knowyou Seed. Namun petani caisim, wortel, dan seledri, sebenarnya sudah mampu memroduksi benih sendiri, dengan resiko kualitas hasilnya tidak sebaik benih impor.

Yang selama ini tidak tergantung pada benih impor adalah bawang daun. Sebab petani bawang daun, selalu menggunakan benih vegetatif berupa anakan. Demikian pula dengan komoditas jamur, yang benihnya sudah diproduksi di Indonesia. Mayoritas tanaman hias, sudah menggunakan benih lokal. Namun tanaman hias yang sedang trendy seperti adenium, aglaonema, bahkan juga kaladium, justru tanamannya yang kita datangkan dari Thailand. Bahkan Dirjen Hortikultura kita, juga bisa ditipu oleh importir benih anggrek dendrobium. Importir itu mengatakan, bahwa benih yang diimpornya, sebenarnya hasil silangan dalam negeri, yang dikloning di Thailand. Padahal, benih anggrek tersebut 100% hasil silangan Thailand. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s