SINGKONG, BAKSO, DAN MINUMAN JERUK

F. Rahardi

Komoditas apakah yang keuntungannya cukup tinggi? Ketika jawabannya singkong, maka kita akan tertawa. Padahal, dibanding dengan paprika, anggrek, gaharu, bahkan minyak melati yang harganya Rp 20 juta per kg, keuntungan dari budi daya singkong tetap paling tinggi prosentasenya.

Paprika, anggrek, gaharu, dan melati, adalah contoh komoditas dengan nilai tinggi. Biaya untuk membudidayakannya juga tinggi. Hingga marjin yang diperoleh, prosentasenya kecil. Meskipun nilai nominalnya tetap besar. Singkong adalah komoditas murah meriah. Harga singkong segar per kilogram di tingkat petani, selalu di bawah Rp 500. Tetapi marjin dari budi daya singkong mencapai 100% dari modal. Sementara paprika, anggrek, gaharu, dan melati, tingkat keuntungannya hanya sekitar 25% sd. 35% dari modal.

Nilai nominal yang rendah dari singkong, bisa diatasi dengan luas areal yang besar. Maka perusahaan besar seperti Astra Agro, dan Gunung Sewu, mau terjun ke budi daya singkong. Meskipun sudah ada perusahaan besar yang terjun ke budi daya singkong, kuota ekspor pati singkong (tapioka), dan tepung gaplek (cassava) Indonesia ke Uni Eropa terus diturunkan oleh WTO. Sebab Indonesia selalu tidak mampu memenuhi kuota, hingga harus diisi oleh Thailand. Ternyata, daya serap terhadap singkong di dalam negeri, dari tahun ke tahun terus naik.

* * *

Apakah pasar singkong keju ala Bandung yang ngetren di Jakarta telah menyebabkan kuota ekspor kita merosot terus? Ada dua komoditas penyerap singkong terbesar. Pertama agroindustri pakan ternak, terutama unggas dan ikan. Salah satu komponen pakan ternak adalah tepung gaplek. Setiap tahunnya, konsumsi tepung gaplek nasional naik terus, sejalan dengan kenaikan volume agroindustri peternakan dan perikanan. Peternakan ruminansia pun (sapi, domba, dan kambing), juga menyerap tepung gaplek sebagai salah satu bahan konsentrat.

Kedua, tepung cassava paling banyak diserap oleh industri bakso. Awalnya, bakso hanya diproduksi oleh industri kecil. Satu kelompok pedagang bakso, biasanya akan berbelanja tepung cassava, yang mereka sebut sagu, dan daging segar yang belum dilayukan. Dengan dicampur garam dan bawang putih, dua bahan itu mereka gilingkan di perusahaan jasa penggilingan di komplek pasar. Adonan yang sudah digiling mereka bawa pulang, dibentuk menjadi bulatan, lalu dimasukkan ke dalam air mendidih, hingga menjadi bulatan bakso siap santap.

Belakangan agroindustri bakso, bukan hanya monopoli industri rumahan, melainkan juga perusahaan besar seperti Japfa. Bahan bakunya tetap tepung cassava, tetapi campurannya tidak harus daging. Bakso berharga paling tinggi, tetap berbahan cassava dan daging yang belum dilayukan. Bakso kelas menengah, berbahan cassava dengan daging 50% dan campuran bahan non daging 50%. Bakso paling murah, hanya berbahan cassava dengan non daging 100%. Bahan non daging merupakan limbah pemotongan sapi, yang terdiri dari tulang rawan, serta bahan-bahan lain, yang digiling dan diekstrak.

* * *

Selain pakan ternak dan bakso, singkong juga diserap oleh agroindustri gula cair, dan asam sitrat. Dua bahan ini, setelah dicampur, diberi zat warna untuk makanan, dan aroma jeruk, akan siap untuk dikemas dan dipasarkan sebagai minuman jeruk dengan aneka merek. Baik yang berupa serbuk, maupun cair dan siap minum. Pasar minuman jeruk berbahan singkong, jauh lebih luas dibanding minuman jeruk asli, yang harganya bisa empat kali lipat. Maka dari tahun ke tahun, konsumsi singkong dalam negeri Indonesia terus merayap naik.

Belakangan, singkong juga diserap oleh agroindustri biofuel. Tahun lalu, The Brazilian Agricultural Research Enterprise (EMBRAPA) dan The Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS), telah menjalin kerjasama pengembangan singkong manis, sebagai bahan baku ethanol. Singkong memang berasal dari Amerika Latin, dan terdiri dari varietas biasa, pahit (bitter cassava, Manihot utilissima Pohl), dan manis (sweet cassava, Manihot palmata var. Aipi Pohl). Rasa pahit itu disebabkan oleh kandungan HCN (asam biru, Hydrocyanic Acid) yang tinggi.

Racun HCN pada singkong, akan hilang dalam pencucian, perendaman dan pengeringan. Singkong biasa pun sebenarnya juga mengandung HCN, hanya kadarnya sangat rendah. Dengan pemanfaatannya yang sangat luas, budi daya singkong menjadi peluang yang cukup menarik. Terlebih, keuntungan dari budi daya komoditas ini tergolong paling tinggi prosentasenya. Karena nilai nominalnya rendah, maka perusahaan besar membudidayakan komoditas ini dalam skala luas. Bisa 2.000 sd. 4.000 hektar per satuan luas, lengkap dengan pabrik penggilingannya. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s