KETIKA MINYAK GORENG MASUK TANGKI BENSIN

Ketika harga BBM naik tajam akhir tahun 2005, sopir truk Jakarta – Surabaya mencoba memasukkan 9 liter minyak tanah dan 1 liter minyak goreng ke dalam tangki. Hasilnya truk bisa berjalan dengan lancar, sama kalau diisi dengan solar. Ketika itu harga minyak goreng masih Rp 6.000,- per liter. Minyak tanah Rp 2.500,- per liter. Untuk mengisi tangki 100 liter, diperlukan biaya 90 liter minyak tanah Rp 225.000,- ditambah 10 liter minyak goreng Rp 60.000,- atau total Rp 285.000,-. Kalau para sopir truk itu membeli solar dengan harga Rp 4.300,- per liter, maka biaya yang harus dikeluarkan mencapai 430.000,-. Ada selisih Rp 145.000,- untuk tiap 100 liter BBM.

Peluang ini ditangkap oleh para pengecer minyak tanah di sepanjang jalan pantura, dengan sekalian menjual minyak goreng. Pertamina tampaknya mengendus akal cerdik para sopir truk ini. Hingga di pom bensin pun segera ada “biofuel” dengan prosentase 10%. Rencana Pertamina, lama-lama prosentase biofuel ini akan ditingkatkan terus, hingga mencapai 20%. Suplaiyer biofuel sudah siap, sebab beberapa PTPN dan perkebunan swasta sudah mulai memproduksi bahan bakar dari CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit mentah). Sejalan dengan itu, permintaan CPO dari luar negeri juga meningkat tajam, yang mengakibatkan harganya terus merayap naik.

Naiknya harga CPO di pasar dunia, dan tersedotnya minyak goreng ke tangki truk, telah mengakibatkan harga produk minyak goreng naik menjadi Rp 8.000,- di tingkat eceran. Kenaikan yang mencapai 30% dari harga sebelumnya. Sekarang, sopir truk harus mengeluarkan biaya untuk tiap 100 liter bahan bakar oplosan Rp 305.000,-.  Masih jauh lebih murah dibanding harus membeli solar Rp 430.000,- sebab masih ada selisih Rp 125.000,- untuk tiap 100 liter BBM. Lain halnya dengan Pertamina, sekarang mereka terpaksa menurunkan prosentase Biofuel menjadi 5%. Trend rebutan bahan nabati sebagai biofuel ini akan terus terjadi sampai ada keseimbangan.

# # #

Arah pemanfaatan bahan nabati untuk pengganti bahan fosil, tampaknya akan semakin jelas. Meskipun ada cukup banyak alternatif bahan, namun faktor efisiensi akan menjadi pertimbangan utama. Sebab patokannya adalah harga minyak solar yang Rp 4.300,- per liter. Harga biofuel sebagai bahan bakar alternatif, harus lebih rendah dari Rp 4.300,- Minimal sama. Hingga harga di tingkat produsen juga harus lebih rendah lagi, sebab masih ada biaya angkut, biaya simpan, penyusutan, suku bunga bank dan keuntungan bagi distributor serta pengecer. Kalau nilai biaya pemasaran ini mencapai 30%, maka harga biofuel, apa pun bahannya, paling tinggi hanyalah Rp 3.010,- per liter.

Selama ini yang paling banyak dihebohkan oleh media massa adalah jarak. Rendemen jarak, sekitar 35%. Hingga untuk menghasilkan 1 liter biofuel, diperlukan sekitar 3 kg. jarak. Biaya angkut, keuntungan pedagang pengumpul, biaya pemrosesan biji menjadi minyak, serta keuntungan pemroses, sekitar 50% dari nilai minyak. Kalau harga biofuel paling tinggi hanya bisa Rp 3.010,- maka nilai 3 kg. jarak sebagai bahan minyak itu Rp 1.505,-. Hingga harga biji jarak kering (masih dengan tempurung), di tingkat petani, paling tinggi hanyalah Rp 500,- per kg. Harga ini pun sebenarnya masih terlalu tinggi, dibanding dengan harga CPO, yang sekarang Rp 600,- per kg. di pasar internasional.

Sampai sekarang CPO tetap merupakan bahan paling murah untuk bahan biofuel, dibanding dengan kelapa, kacang tanah, biji bunga matahari, dan jarak. Biofuel dari CPO, minyak kelapa dan jarak, dikategorikan sebagai biodiesel. Selain biodiesel, dikenal pula methanol (hydroxymethane, methyl alcohol, wood alcohol, carbinol); dan ethanol (Ethyl alcohol, grain alcohol, hydroxyethane, EtOH). Methanol diproduksi dari limbah pertanian/kayu. Misalnya dari limbah sawit (batang, pelepah, dan janjang kosong), serta dari tetes tebu, dan dari limbah pulp (bubur kertas). Sementara ethanol diproduksi dari  biji-bijian seperti jagung, gandum dan sorgum. Secara ekonomis, produksi ethanol dan methanol masih lebih mahal dibanding minyak bumi  maupun biofuel. Kecuali methanol dan ethanol itu berasal dari bahan limbah.

Karena keterbatasan sumber bahan baku biodiesel dan methanol, Amerika Serikat terpaksa memproduksi ethanol dari jagung. Itulah sebabnya belakangan ini harga jagung juga melambung tinggi. Beberapa negara, termasuk Indonesia, juga mulai mempertimbangkan potensi singkong dan ubijalar untuk bahan ethanol. Sekarang ini semua negara sedang berlomba untuk mengatasi krisis BBM, bahkan juga krisis pemanasan global. Hingga yang dicari adalah bahan bakar murah, namun ramah lingkungan. Sambil menunggu peluang penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan yang paling murah dan sekaligus paling ramah lingkungan.

# # #

Sebenarnya bahan nabati penghasil biofuel paling efisien adalah algae, atau yang sering disebut rumput laut (seaweed). Sebab beberapa spesies algae, memang bersel banyak (bukan bersel satu), dan membentuk pita panjang, hijau hingga mirip dengan rumput, atau membentuk “ranting-ranting” yang gemuk dan renyah berwarna hijau kekuningan. Inilah yang kita kenal sebagai “rumput laut” untuk bahan agar-agar. Algae memang merupakan bahan pangan potensial. Yang sudah cukup terkenal adalah Spirulina (Arthrospira platensis). Di Jepang, algae merah Porphyra yezoensis dan Porphyra tenera, disebut Nori yang merupakan pembungkus Onigiri, salah satu menu khas berbahan nasi. Algae juga pencipta oksigen terbesar hasil fotosintesis di planet bumi. Bahan bakar fosil yang kita bakar sebagai BBM, sebagian besar berasal dari deposit algae.

Baru-baru ini, para ilmuwan Jepang telah mencanangkan sebuah program budi daya algae secara massal. Para peneliti dari Universitas Teknologi dan Ilmu Kelautan Tokyo, Lembaga Penelitian Mitsubishi, dan Perusahaan Industri Berat Mitsubishi, telah merancang program satu juta hektar (100 X 100 km2), “kebun algae” di perairan laut dangkal di Yamatotai. Kebun algae ini diharapkan dapat menghasilkan 5,3 milyar galon bioethanol per tahun, yang akan mensubstitusi sepertiga kebutuhan BBM Jepang. Keunggulan algae hingga Jepang sangat tertarik untuk mengembangkannya adalah, kemampuannya menghasilkan energi yang luar biasa, dibanding bahan apa pun.

Jarak hanya mampu menghasilkan minyak 1,5 ton per hektar per tahun. Kelapa 2,2 ton, sawit 5,8 ton, dan algae 40 sd. 120 ton per hektar per tahun. Mengapa algae demikian hebat? Sebab algae tumbuh di laut yang kaya nutrisi dan mineral. Seluruh bagian tumbuhan algae, akan menyerap nutrisi, air, CO2, dan sinar matahari, untuk diubah jadi energi yang disimpan dalam sel, tanpa melalui birokrasi yang rumit seperti pada tumbuhan modern. Indonesia mestinya sudah mulai memperhatikan algae, bukan hanya mengimpikan adanya kebun jarak, yang per kg. biji hanya akan bernilai Rp 500,- dan produktivitasnya hanya 1,5 ton per hektar per tahun. Namun pemerintah memang sedang “jatuh cinta” pada jarak, hingga tidak tahu kehebatan algae. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s