KETAHANAN PANGAN MELALUI LAHAN KERING

Baru-baru ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menekankan pentingnya upaya mencapai ketahanan pangan. Untuk itu, pemerintah antara lain akan mengalokasikan dana untuk program pembenahan sarana irigasi lahan sawah dan lahan rawa. Ketahanan pangan melalui pengembangan lahan sawah, terutama yang berpengairan teknis, memang masih sangat dimungkinkan. Sebab potensi lahannya masih tersedia, sementara sarana irigasinya mengalami kerusakan. Di luar pembenahan sarana irigasi, sebenarnya masih terbuka pula pengembangan padi lahan kering (padi ladang, padi gogo).

Produktivitas padi ladang, memang lebih rendah dibanding dengan padi sawah. kalau padi sawah rata-rata mampu menghasilkan 5 ton gabah, maka padi ladang rata-rata hanya 3 ton gabah. Umur padi ladang juga lebih panjang. Kalau padi sawah bisa dipanen 100 hari setelah tanam, maka padi ladang baru bisa dipanen paling cepat 5 bulan, bahkan banyak di antaranya yang umur panennya 6 bulan. Panjangnya umur padi ladang, tidak terlalu menjadi masalah, karena pengairannya mengandalkan hujan. Satu bulan terakhir, padi ladang tidak memerlukan hujan, karena panas justru diperlukan untuk pengeringan bulir (gabah).

Dibanding dengan pembukaan sawah, dan pembangunan sarana irigasi, pengembangan padi ladang peluangnya lebih besar, dengan cara yang lebih mudah. Pemerintah memiliki BUMN PT Perkebunan Nusantara dan PT Perhutani/Inhutani. BUMN ini setiap kali akan membuka lahan baru, atau mengolah lahan bekas tebangan. Baik tebangan sawit, karet, kopi, kakao, pinus, dan kayu hutan serta tanaman perkebunan lainnya. Lahan bekas tebangan ini bisa dimanfaatkan untuk menanam padi ladang selama satu musim tanam, dengan biaya yang serendah mungkin. Jauh lebih rendah dibanding dengan pembukaan sawah baru.

# # #

Dengan produktivitas rata-rata 5 ton gabah, pencetakan sawah baru sebanyak 1 juta hektar akan menghasilkan 10 juta ton gabah atau setara dengan 6 juta ton beras. Volume ini bisa diperoleh dari dua kali panen. Volume 10 juta ton gabah dari padi sawah itu, bisa dikonversi dari sekitar 2,5 juta hektar lahan kering. Selain dari PTPN, Perum Perhutani dan BUMN lainnya, lahan kering untuk budi daya padi ini juga bisa diusahakan oleh pemerintah daerah. Sebab lahan kering nganggur jutaan hektar ini bisa dengan mudah diperoleh di sekitar kota-kota besar di Sumatera dan Kalimantan. Biasanya lahan ini berupa belukar dan padang alang-alang.

Lahan nganggur berupa padang alang-alang ini hampir semuanya tandus dan miskin bahan organik. Namun pemberian bahan organik, jauh lebih murah jika dibanding dengan pengapuran lahan gambut untuk menaikkan pH tanah. Sebab untuk menaikkan pH 4,5 ke pH 7 misalnya, paling sedikit diperlukan waktu selama lima tahun, dengan dosis pengapuran awal sekitar 20 ton per hektar. Biaya ini terlalu tinggi dibanding dengan pengadaan bahan organik sebanyak 20 ton untuk lahan kering. Dengan pemberian bahan organik 20 ton per hektar dan penambahan urea paling sedikit 3 kuintal, maka hasil panen 4 sd. 5 ton gabah per hektar per satu musim tanam, bisa diperoleh dari lahan kering.

Pemerintah daerah provinsi dan kabupaten di Sumsel, Jambi, Riau, dan di Kalimantan, tentu mampu mengerahkan dana untuk membuka secara mekanis sampai ribuan lahan kering untuk budi daya padi. Mekanisasi penuh ini sangat diperlukan, sebab dengan mengandalkan tenaga kerja manusia, maka budi daya padi secara massal akan menjadi terlalu mahal biayanya. Model budi daya gandum di AS, bisa diterapkan untuk budi daya padi lahan kering di luar Jawa. Prinsip efisiensi budi daya gandum di AS, bukan pada faktor intensifikasi, melainkan ekstensifikasi dengan mekanisasi penuh. Hingga budi daya padi pun bisa mengadopsi teknologi budi daya gandum.

Dalam ekstensifikasi, kuantitas hasil per satuan hektar per musim tanam, tidak dituntut setinggi mungkin. Yang menjadi prioritas justru berapa nilai biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi tiap ton komoditas tersebut. Semakin rendah nilai biayanya, semakin baik. Hasil per satuan luas menjadi tidak penting. Jadi, seandainya hasil padi ladang itu hanya 2,5 ton per hektar per musim tanam, juga tidak menjadi masalah. Yang penting untuk memproduksi tiap kg. gabah, diperlukan biaya yang lebih rendah dibanding padi sawah konvensional. Dengan patokan harga pemerintah Rp 2.000,- per kg. gabah, maka biaya produksi petani, paling sedikit Rp 1.500,- per kg.

# # #

Karena dalam budi daya padi ladang hasil per hektar hanya setengah dari padi sawah, maka biaya per kg. harus dapat ditekan di bawah Rp 1.500,- Misalnya Rp 1.400,- per kg. Biaya ini harus bisa diterapkan untuk satuan luas duakali lipat dari padi sawah. Sebab hasil padi ladang, diperkirakan hanya separo dari padi sawah. Hingga kalau biaya untuk memproduksi 5 ton padi sawah (luasan 1 hektar) adalah Rp 7.500.000,- mala biaya per hektar padi ladang, paling tinggi hanya Rp 1.400,- X 2.500,- = Rp 3.500.000,- per hektar per musim tanam. Dengan ekstensifikasi dan mekanisasi penuh, efisiensi ini bisa diperoleh. Terlebih lagi kalau pekerjaan budi daya padi disatukan dengan replanting karet atau sawit.

Yang akan menjadi mahal, justru investasi mesin penanam, panen dan pasca panen. Namun nilai investasi ini tetap masih bisa ditutup dengan perhitungan produksi yang bersifat massal. Sebab budi daya padi di luar Jawa, tidak mungkin dilakukan secara manual dengan mengandalkan tenaga manusia. Jadi mulai dari mengolah lahan, menebarkan pupuk organik, benih, menebar pupuk urea, menyemprot, memanen, mengeringkan dan memroses malai padi atau gabah sampai menjadi beras, sepenuhnya harus dilakukan dengan mesin. Hingga biaya produksi gabah yang paling tinggi hanya Rp 1.400,- per kg, bisa dicapai.

Karena lahan berupa padang alang-alang di luar Jawa miskin unsur hara, maka diperlukan pula unit produksi kompos. Pada awalnya, kompos bisa diproduksi dari bahan organik yang paling banyak tersedia di sekitar lokasi budi daya. Namun setelah produksi padi berjalan rutin, limbah jeramilah yang harus dikembalikan ke lahan sebagai substitusi bahan organik. Sekam padi, bisa dijadikan bahan bakar heater dalam pengeringan gabah. Meskipun panen padi ladang, justru selalu terjadi bukan pada puncak musim penghujan seperti halnya padi sawah di Jawa. Namun sifat hujan di luar Jawa yang tidak dipengaruhi angin munson,  tidak mengenal musim alias akan turun merata sepanjang tahun. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s