CPO TERDONGKRAK MINYAK BUMI

F. Rahardi

Akhir tahun 2008, harga CPO (Crude Palm Oil, minyak sawit mentah),  sempat anjlok pada 560 dollar AS per ton. Harga TBS (tandan buah sawit) jatuh hanya Rp 350 per kg. Juni ini, harga CPO  dan TBS kembali merayap naik terdongkrak oleh harga minyak bumi.

Minyak bumi (minyak mentah), masih ibarat dirigen dalam sebuah orkes simfoni perekonomian dunia. Begitu harga komoditas ini bergerak, naik maupun turun, semua komoditas lain patuh, dan mengikuti arah geraknya. Termasuk CPO kita. Juli 2008, harga minyak bumi di pasar dunia bertengger pada titik tertinggi 147 dollar AS per barrel. CPO pun ikut melambung di atas 1.000 dollar AS per ton. Bulan Desember 2008, harga minyak mentah terjun bebas ke angka di bawah 40 dollar AS per barrel. CPO pun ikut terjun bebas pula.

Jatuhnya harga minyak bumi akhir 2008, dipicu oleh ambruknya perusahaan jasa finansial Lehman Brothers Holdings Inc. di AS. Sejak itu, harga saham dan semua komoditas penting dunia ikut rontok, termasuk CPO. Juni ini, harga minyak mentah dunia mulai merayap naik ke “angka riil” 72 dollar AS per barrel. Maka harga CPO pun juga ikut terkatrol naik sampai 850 dollar AS per ton. Ini benar-benar mengejutkan, bahkan bagi para pelaku agroindustri sawit sendiri.

Pada penyusunan program akhir tahun 2008, para pelaku bisnis sawit, hanya berani memredisi harga CPO selama 2009 antara 400 sampai dengan 600 dollar AS per ton. Lonjakan harga CPO yang begitu tiba-tiba inilah yang kemudian menjadi agenda utama Konferensi dan Pameran Internasional Minyak Kelapa Sawit 2009 (International Conference and Exhibition on Palm Oil 2009, ICE-PO 2009), di Jakarta, 27 – 29 Mei 2009 yang lalu.

* * *

Sampai dengan pertengahan Juni 2009, belum ada tanda-tanda bahwa harga minyak mentah di pasar dunia akan berhenti bergerak ke titik stabil. Tetapi harga CPO bisa mulai terkendali, setelah pemerintah per 1 Juni 2009 memberlakukan bea keluar CPO sebesar tiga persen. Sebelumnya, bea ekspor CPO nol persen. Kebijakan pemerintah ini telah berhasil menekan harga CPO dalam negeri ke angka 50 dollar AS per ton, hingga harga minyak goreng pun bisa ikut terkontrol.

Bagi Indonesia, harga CPO ibarat buah simalakama: naik salah, turun juga salah. Kenaikan harga CPO hingga di atas 1.000 dollar AS tahun lalu, apabila tanpa dikenai bea keluar akan membuat harga minyak goreng di dalam negeri ikut terbang tak terkendali, dan sebagian besar masyarakat lapis bawah akan menderita. Sebaliknya, ketika harga CPO terperosok ke angka 560 dollar AS per ton, para pelaku bisnis sawit menjadi sulit bergerak, hingga pemerintah membebaskannya dari bea keluar.

Indonesia memang cukup serius dalam mamacu agroindustri sawit, hingga bisa mengungguli negeri jiran Malaysia. Ambisi ini menjadi realitas tahun 2007, ketika produksi CPO kita tembus ke angka 17 juta ton, sementara Malaysia masih 16 juta ton. Sebelumnya produksi CPO kita selalu ketinggalan dari Malaysia, sekitar 1 juta ton per tahun. Tahun 2008, karena adanya booming harga, para pekebun kita menahan rencana replanting, hingga produksi CPO naik ke angka 19 juta ton.

Pemerintah Indonesia, berambisi bahwa tahun 2020 nanti, agroindustri sawit kita akan mampu menghasilkan 50 juta ton CPO. Ambisi ini masih rasional, namun tetap ada beberapa hal yang harus dibenahi. Industri hulu sawit (breeding), masih sangat kedodoran, hingga kita selalu kekurangan benih. Industri hilir sawit juga masih belum banyak menarik perhatian investor. Hingga bentuk agroindustri sawit kita sangat tidak proporsional. Hulunya kecil, hilirnya juga kecil, tengahnya membengkak.

* * *

Industri yang sehat memang harus kecil di bagian hulu, membesar di bagian tengah, dan lebih melebar lagi di bagian hilir. Industri hilir sawit, di Indonesia sekarang ini masih sebatas menghasilkan minyak goreng untuk konsumsi dalam negeri. Idealnya, ada keseimbangan antara pabrik minyak goreng, dengan pabrik oleokimia. Sebab dari agroindustri ini akan dihasilkan oleokimia dasar, yakni asam lemak (dan turunannya), serta oleokimia  sekunder.

Dari oleokimia dasar, dan oleokimia sekunder bisa dihasilkan metil ester asam lemak, gliserol dan turunannya, serta fatty alcohol dan turunannya. Dari bahan-bahan ini kita akan bisa memroduksi tekstil sintetis, plastik, resin sintetis, bahan pembersih logam, kosmetik, emulsi faler, biodisel, pelumas, lilin, deterjen, dan pestisida. Agroindustri ini memerlukan modal cukup besar, namun dengan marjin yang tidak sebesar industri tengahnya (perkebunan), hingga tidak banyak investor yang tertarik.

Ambisi untuk membuat bertekuk lutut negeri jiran kita Malaysia, dalam agroindustri sawit, tidak cukup hanya dari kebun yang hanya menghasilkan CPO. Karena tidak banyak investor tertarik masuk ke industri paling hulu (benih), dan paling hilir, maka pemerintah juga harus mulai memikirkan berbagai bentuk insentif untuk bagian ini. Bukan malah berbuat sama seperti BUMN dan swasta besar, yakni perhatiannya terkuras habis ke bagian tengahnya: kebun sawit, dengan hasil CPO. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s