PELUANG EKSPOR PRODUK PERTANIAN KE RRC

Selama ini, Indonesia lebih banyak mengeluh karena dibanjiri produk RRC. Mulai dari peniti, jarum pentul, pompa air, sepeda motor, garmen, sepatu, dan lain-lain sampai ke jeruk. Produk RRC bukan hanya membanjiri pasar Indonesia, melainkan pasar dunia, karena harganya yang sangat murah. RRC memproduksi komoditas penting secara massal, untuk kepentingan rakyat mereka sendiri yang populasinya sudah mencapai 1,2 milyar jiwa. Karena diproduksi secara massal, maka harganya bisa menjadi sangat murah, meskipun dengan kualitas yang masih sangat terbatas.

Dengan menjadi negara industri, RRC pernah kedodoran mencukupi kebutuhan pangan dan sandang bagi rakyat mereka. Hingga gandum, beras, jagung dan kapas masih harus mereka impor. Kendalanya, kalau RRC defisit beras hanya 10 juta ton saja, maka harga beras di pasar dunia akan melambung naik. Sebab stoknya habis diserap pasar RRC. Demikian pula halnya dengan gandum, jagung dan kapas. Itulah sebabnya mereka berupaya sekuat tenaga untuk surplus komoditas pangan yang cukup penting. Bahkan ubijalar yang tampak sepele itupun, mereka upayakan untuk surplus.

Namun RRC jelas bukan negeri yang bisa memproduksi segala-galanya. Di sana tidak mungkin dibuka kebun kelapa. Itulah sebabnya masyarakat RRC menganggapi santan alias coconut milk sebagai minuman eksklusif. Trend ini telah membuka peluang bagi perusahaan Indonesia, untuk mengekspor santan segar ke sana. RRC juga tidak punya tanaman, yang bisa diandalkan sebagai penghasil minyak nabati. Itulah sebabnya mereka memerlukan minyak sawit (Crude Palm Oil, CPO), dalam volume yang sangat besar. Indonesia dan Malaysia, sebagai penghasil CPO, sangat menikmati peluang ini.

# # #

Sejak lebih dari 10 tahun silam, Australia mulai membudidayakan padi jepang (Oriza sativa var. Japonica), yang bisa dimakan dengan menggunakan sumpit.  Negeri benua ini, punya lahan sangat luas, teknologi tinggi dan juga modal. Hingga peluang untuk menghasilkan beras jepang secara massal, menjada sangat besar. Tujuan utama Australia membudidayakan padi jepang secara serius adalah, untuk menangkap peluang ekspor ke RRC. Sebab dengan populasi di atas satu milyar jiwa, celah untuk menjual produk pangan ke negeri tersebut sangat besar.

RRC juga memerlukan buah-buahan tropis. Mulai dari pisang, mangga, durian, duku, sampai ke manggis. Selama ini, volume pisang dan mangga menempati urutan terbesar impor buah tropis RRC. Pemasok terbesarnya Filipina, Vietnam dan Thailand. Selain sebagai pemasok pisang, Vietnam juga merupakan penghasil buah naga (dragon fruit) terbesar di dunia, dengan ekspor  utama ke RRC. Pemasok durian utama ke RRC jelas Thailand, meskipun sekarang juga sudah diikuti oleh Malaysia. Indonesia merupakan penghasil salak bali maupun pondoh, tetapi masih belum mampu mengekspor.

Peluang Indonesia untuk mengekspor buah-buahan tropis ke RRC, sebenarnya sangat besar. Selain salak, kita juga bisa mengekspor pisang, nanas, alpukad, mangga, dan pepaya. Namun peluang itu, sampai sekarang belum pernah bisa ditangkap. Yang terjadi, kita justru dibanjiri oleh jeruk RRC. Salah satu kendala yang menghambat ekspor buah ke RRC adalah, kita belum punya kebun buah skala komersial dalam luasan yang memadai. Kalau kita bisa mengekspor CPO ke RRC, karena kebun sawit ada di mana-mana. Buah-buahan tropis kita, selama ini hanya dihasilkan oleh tanaman rakyat, di pekarangan.

Selain buah segar, RRC juga potensial untuk menerima buah tropis  olahan. Mulai dari buah olahan dalam kaleng, keripik, manisan kering/basah, sampai ke konsentrat. Meskipun nilai buah tropis olahan ini lebih rendah dibanding dengan buah segar, namun pengelolaannya lebih sederhana. Sebab buah segar memerlukan penanganan yang cepat dan cermat, container untuk mengirimnya juga harus berupa cold storage. Buah olahan bisa dikirim kapan saja, dengan container biasa. Namun sampai sekarang, kita juga belum pernah mampu menangkap peluang ini.

# # #

Prosentase volume produk pangan yang harus diimpor RRC, sebenarnya sangat kecil. Sebab hampir semua kebutuhan pangan bisa mereka penuhi sendiri. Namun dengan populasi penduduk 1,2 milyar jiwa, prosentase kebutuhan pangan yang sekecil apa pun, tetap masih cukup besar untuk skala ekspor Indonesia. Misalnya, hanya 1 % penduduk RRC memerlukan buah pisang segar. Itu berarti 12 juta jiwa. Kalau tingkat konsumsi pisang mereka 15 kg. per kapita per tahun, maka peluang yang bisa kita ekspor adalah 180.000 ton  buah segar per tahun.

Kalau satu container memuat 20 ton pisang segar, maka dalam setahun kita harus mengirim 9.000 container, atau tiap bulan 750 container atau per hari 25 container. Dengan hasil 30 ton buah segar per hektar tahun, maka lahan yang diperlukan untuk kebun pisang guna memenuhi kebutuhan RRC adalah 6.000 hektar. Kalau tiap hektar kebun pisang memerlukan modal Rp 50.000.000,- maka dana yang harus tersedia adalah 300 milyar rupiah. Kalau satu hektar lahan memerlukan tenaga kerja kasar 2 orang, maka jumlah tenaga kerja yang bisa diserap mencapai 12.000 orang.

Namun para investor kita, selama ini lebih tertarik untuk menanamkan modalnya di sektor properti. Membangun mall, ruko, dan gedung perkantoran, lebih menarik perhatian investor kita dibanding membuka kebun pisang. Sebab biaya off farm di sektor agro memang sangat tinggi. Belum lagi gangguan yang bisa ditimbulkan berupa gugatan kepemilikan lahan, dan lain-lain. Bagaimana pun, sebenarnya peluang ekspor produk pertanian, khususnya pangan ke RRC, tetap sangat menarik untuk ditangkap. Meskipun untuk ekspor ke RRC, sebaiknya kita tetap harus lewat Hongkong. Bukannya langsung. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s