MENJUAL MAKNA LABU SIAM

F. Rahardi

Di pasar Kopeng, Kab. Semarang, Jateng, sekeranjang labu siam hanya bernilai Rp 5.000. Sementara di pasar swalayan di Jakarta, Rp 5.000 hanya bisa untuk membeli satu pak stereofoam berisi enam baby labu siam. Labu siam dari sekitar Cipanas, Kab. Cianjur, Jawa Barat, bukan lagi sekadar sayuran, melainkan bermakna sebagai gaya hidup.  

Labu siam chayote (Sechium edule), adalah sayuran asal Meksiko. Di Amerika Tengah, labu siam sudah dikonsumsi masyarakat Maya dan Aztek, sejak awal millenium I. Labu siam merupakan tumbuhan dataran tinggi, hingga hanya bisa dibudidayakan di pegunungan seperti Cipanas, Lembang, Kopeng, dan Batu. Di Indonesia, labu siam masih sebatas dikonsumsi sebagai sayuran. Baik buah tuanya, buah mudanya (baby chayote), maupun pucuk tanamannya.

Di Amerika Tengah dan Selatan, labu siam sudah menjadi komoditas industri yang cukup penting. Di Indonesia, labu siam kalah dari labu parang dan pepaya muda, yang sudah diserap industri saus makan. Padahal buah labu siam tua, bisa digunakan untuk bubur (pasta), isian kue dan salad. Selain itu, buah labu siam tua juga bisa dikonsumsi dengan cara digoreng, dibakar selain direbus. Restoran di Amerika Tengah dan Selatan, sudah terbiasa menghidangkan labu siam sebagai menu andalan. Baik dikonsumsi secara tunggal sebagai menu utama, maupun untuk campuran.

# # #

Di Eropa, sejak dua dekade belakangan ini, buah manggis (Garcinia mangostana), juga telah menjadi sebuah gaya hidup. Mengonsumsi buah manggis di restoran papan atas, merupakan trend baru. Manggis dianggap oleh masyarakat Uni Eropa, Jepang dan Kores, sebagai buah tropis yang eksotis. Hingga menyantap buah manggis setelah lunch atau dinner, mempunyai makna khusus. Para penyantap manggis adalah masyarakat papan atas di kawasan sub tropis itu. Maka, buah yang awalnya hanya menjadi sarana judi tebak-tebakan itu, berubah menjadi komoditas ekspor dengan nilai tinggi.

Tahun 1980an, daging bebek masih tabu untuk ditawarkan secara jujur sebagai bebek. Bahkan sampai sekarang pun, para penjual daging bebek jantan muda yang digoreng, masih memromosikan dagangan mereka sebagai “daging burung belibis”. Dulu para penjual bebek bakar, menulis di spanduk mereka: “Ayam Bakar”. Sebab kalau ditulis jujur sebagai bebek bakar, tidak akan laku. Belakangan, makan bebek goreng, bebek bakar, dan nasi bebek telah menjadi trend baru. Tiba-tiba daging bebek menjadi komoditas yang dicari-cari. Orang tidak peduli lagi apakah yang disantapnya benar-benar bebek (Indian Runner Duck, Anas plathyrinchos), atau entok (itik manila, muscovy duck, Cairiza muschata).

Pemaknaan sebuah komoditas, tetap memerlukan strategi pengemasan, bahkan juga pengolahan. Labu siam, juga buncis (Phaseolus vulgaris), dan wortel (Daucus carota), cukup dengan dipanen muda dan kemudian dikemas serta diberi predikat “baby”. Pola yang sama juga terjadi pada ikan mas (Carrassius auratus) dan nila (Tilapia nilotica) “baby” yang sejak beberapa tahun terakhir populer di Jawa Barat. Ikan mas “baby” memang benar-benar bayi ikan mas yang digoreng seperti halnya ikan wader pari (Rasbora lateristriata). Naik daunnya daging bebek, sama sekali tidak terkait dengan pembaharuan makna. Tiba-tiba saja, pada tahun 2.000an ini, warung dan restoran bebek menjamur di mana-mana. Padahal yang dijual masih tetap daging bebek, dengan cara memasak yang masih biasa.

# # #

Singkong (Manihot esculenta), juga komoditas yang tidak prestisius, bahkan setelah diolah menjadi getuk goreng, atau peuyeum sekalipun. Di Jakarta, awalnya singkong juga hanya dijajakan oleh penjual gorengan bersamaan dengan tahu, tempe, bakwan, dan pisang. Tetapi ketika ada keripik singkong keju pada tahun 1990an tiba-tiba komoditas ini menjadi prestisius. Juga ketika belakangan ini ada singkong (goreng) keju asal bandung, serta gerobak dorong “tela”, singkong menjadi prestisius.

Di gerai kopi PTPN IX, Banaran di Bedono, dan terutama Bawen, Jawa Tengah, singkong goreng juga menjadi menu prestisius. Ini disebabkan karena lokasi gerainya berada di kawasan yang strategis, dan elitis. Taiwan dan Jepang adalah dua negara yang piawai memberi makna baru pada “komoditas kampung”. Di Taiwan, tradisi makan sirih tetap hidup bahkan merambah ke generasi para ABG, serta kalangan elite (pejabat pemerintah, pengusaha, selebritis). Di negeri ini pucuk katuk (Sauropus androgynous), dan bunga turi (Sesbania grandiflora), adalah sayuran elite yang dikemas dalam stereofoam, dan digerai di pasar swalayan.

Di Taiwan, umbi Dioscorea Sp. (uwi-uwian), juga sudah diolah menjadi cake di hotel-hotel bintang. Di Jepang, umbi iles-iles (Amorphophallus konyak), adalah bahan baku konyaku dan shirataki. Fenomena pemaknaan baby labu siam, sebenarnya sudah dimulai sejak awal tahun 1980an, ketika pengusaha Bob Sadino memopulerkan kangkung cabut hidroponik (Ipomoea aquatica). Ketika itu satu ikat kangkung biasa di pasar, hanya bernilai Rp 150, sementara Bob Sadino menjual kangkungnya seharga Rp 2.000 per ikat. Dalam agribisnis dan agroindustri modern, mengemas dan menjual makna, menjadi lebih penting dari komoditasnya sendiri. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s