BANJIR BAWANG MERAH IMPOR

Kabupaten Brebes, Jateng, sekarang ini sedang banjir bawang merah impor. Hingga harga bawang merah lokal praktis jatuh ke tingkat di bawah  Rp 1.500,- per kg. Bawang merah lokal kualitas terbaik, yang sebelumnya              Rp 2.500,- per kg. juga ikut jatuh menjadi Rp 2.300,- per kg. Padahal sebenarnya, impor bawang merah konsumsi, dilarang oleh pemerintah. Namun untuk itu, para juragan bawang merah di Brebes, punya kiat jitu. Mereka mengimpor benih bawang merah dalam volume yang sangat besar. Impor bawang merah memang diijinkan untuk keperluan benih. Oleh para pengimpor, bawang merah benih itu, selanjutnya dipasarkan sebagai bawang konsumsi.

Bawang merah impor, terutama berasal dari Thailand dan Vietnam. Sedikit dari Filipina. Namun bawang merah Filipina, biasanya masuk secara tradisional dari Sulawesi Utara. Ciri khas bawang merah impor adalah ukuran umbinya besar-besar, dan warna merahnya lebih tua. Pemerintah sulit untuk membatasi masuknya bawang merah impor. Sebab sesuai dengan hukum pasar, apabila harga bawang merah impor lebih murah dari bawang merah lokal, maka peluang untuk menyelundupkan sangat tinggi. Demikian pula dengan penyalahgunaan ijin impor benih. Solusi paling tepat adalah, membuat petani kita lebih efisien, hingga bawang merah lokal kita bisa lebih murah dari bawang merah impor.

Kelebihan bawang merah eks Thailand dan Vietnam adalah, kadar airnya lebih kecil. Lapisan umbi yang mengering cukup tebal, hingga relatif lebih tahan dipasarkan. Beda dengan bawang merah lokal kita, yang lapisan kulit kering pada umbinya sangat tipis atau malahan tidak ada sama sekali. Kelebihan bawang merah eks Thailand, Vietnam dan Filipina, disebabkan oleh faktor agroklimat setempat. Sentra bawang merah di tiga negara ini, terletak pada 15O lintang utara m (LU). Di kawasan ini, kelembapan udara relatif lebih rendah, dengan intensitas sinar matahari lebih tinggi. Brebes, terletak pada 7O lintang selatan (LS), yang lebih lembab, basah dan dengan intensitas sinar matahari lebih rendah.

# # #

Dengan kondisi agroklimat seperti ini, secara teknis kualitas bawang merah Thailand, Vietnam dan Filipina, akan lebih baik dari bawang merah Brebes. Bahkan sebenarnya, bawang merah Bantul (DIY) dan Nganjuk (Jatim), justru lebih baik dari bawang merah Brebes. Sebab Nganjuk sudah berada pada 7,5 O (LS) dan Bantul malahan sudah berada pada 8o (LS). Kondisi agroklimat di dua kawasan ini, relatif lebih kering dibanding dengan di Brebes.  Kawasan yang paling baik untuk budi daya bawang merah di Indonesia, sebenarnya adalah Kupang dan Sumba (NTT), sebab dua tempat ini terletak pada 10O (LS). Kualitas bawang merah yang ditanam di dua lokasi ini, pasti bisa mendekati bawang merah impor.

Selain kualitasnya lebih baik, produktivitas bawang merah di dua lokasi ini juga bisa lebih tinggi dari di Brebes. Hanya saja, transportasi dari Sumba dan Kupang ke Jakarta, pasti lebih tinggi dibanding dengan dari Brebes. Namun, dibandingkan dengan biaya transportasi dari Thailand, Vietnam dan Filipina, Sumba dan Kupang masih lebih murah. Masalahnya, di Sumba dan Kupang, belum ada sentra bawang merah seperti halnya di Nganjuk, Bantul apalagi Brebes. Namun mengintroduksi pertanian bawang merah di dua lokasi ini, sebenarnya bukan merupakan pekerjaan sulit. Sebab bawang merah merupakan komoditas yang mudah dan cepat dibudidayakan.

Masalah modal, juga ikut berpengaruh terhadap kualitas bawang merah kita. Bawang merah impor eks Thailand dan Vietnam, sudah melalui proses penyimpanan paling sedikit selama tiga bulan. Sementara bawang merah lokal kita, tidak pernah mengalami proses penyimpanan. Bawang merah brebes, hanya cukup dijemur di pinggir jalan, kemudian langsung dipasarkan. Di Thailand dan Vietnam, bawang merah yang sudah dijemur, akan digantung pada palang-palang bambu di dalam barak tanpa dinding. Upaya ini merupakan proses pengeringan, agar kadar air bawang merah menurun, hingga kualitasnya meningkat.

# # #

Proses pengeringan bawang merah dalam barak terbuka ini, akan berlangsung paling cepat selama tiga bulan. Bawang merah tahan disimpan dengan cara ini sampai sekitar enam bulan. Di pasar, bawang merah yang sudah mengalami proses pengeringan demikian, tahan sampai lebih dari satu bulan, tanpa mengalami kerusakan yang berarti. Salah satu kelemahan bawang merah yang terlalu lama berada di gerai adalah tumbuhnya akar. Terlebih, kalau produk ini tidak pernah melalui tahap pengeringan. Di Brebes, tidak pernah ada tradisi pengeringan bawang merah dalam barak terbuka. Sebab proses ini memerlukan modal cukup besar.

Petani bawang merah, tentu menuntut pembayaran tunai dari tengkulak. Tengkulak juga memerlukan perputaran uang secepat mungkin. Hingga bawang merah yang dibeli langsung di sawah petani, cukup hanya dijemur lalu dipasarkan. Sebab selama proses pengeringan selama 3 sd. 6 bulan, modal akan terhenti. Selain itu, bobot bawang merah juga akan menyusut antara 20 sd. 30%. Namun penyusutan bobot ini, akan disertai pula dengan kenaikan harga. Hingga sebenarnya, tidak ada alasan pedagang akan merugi. Sebab resiko uang terhenti serta penurunan bobot, akan dibayar oleh konsumen yang memperoleh bawang merah kualitas terbaik.

Di Thailand, pengeringan bawang merah dilakukan sendiri oleh petani melalui koperasi. Koperasi, dengan modal yang diperolehnya dari kredit berbunga rendah, bisa membeli bawang merah petani secara cash. Hingga petani tidak perlu menunggu sampai bawang merah itu dipasarkan, baru menerima pembayaran. Keuntungan yang diperoleh oleh koperasi dari peningkatan nilai jual bawang merah, selanjutnya juga akan dikembalikan lagi ke petani dalam bentuk sisa hasil usaha (SHU). Selain karena faktor agroklimat dan modal, petani bawang merah kita juga tidak terorganisir dengan baik, hingga tidak pernah bisa mengatur strategi pemasaran dengan cukup baik. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s