KEMBALINYA LENGKENG LOKAL

Belakangan ini, kios dan toko buah di Jakarta banyak memajang buah lengkeng. Penampilan lengkeng yang dipajang pada awal tahun ini, tidak semenarik lengkeng yang membanjiri kakilima Jakarta tiap bulan Agustus dan September. Ukuran buahnya juga kecil-kecil. Sebab yang dijual sekarang ini adalah lengkeng lokal. Inilah untuk pertama kalinya lengkeng kita bisa kembali tampil di pasar. Sebab selama ini yang mendominasi kakilima Jakarta adalah lengkeng bangkok (lengkeng impor dari Thailand). Lengkeng bangkok ini bahkan telah menyusup sampai ke pasar tradisional di kota kecamatan.

Tahun 2005, kita juga dihebohkan dengan adanya lengkeng dataran rendah. Tercatat antara lain Diamond River (Phetsakon), Pingpong, Itoh (Idoh, Edo), Edau, Egami, E Wai, Tiger Eye, Shri Chompoo, Biew Kiew, Kohala, dan Sugiri. Ketika itu benih lengkeng dataran rendah ukuran 30 cm. mencapai Rp 200.000,- sampai dengan Rp 400.000,- per polibag. Animo masyarakat untuk membeli benih lengkeng ini sangat tinggi. Seorang pengusaha benih lengkeng dari Singkawang, Kalbar, bahkan berani mengimpornya dari Serawak, Malaysia, untuk dijual lagi. Beberapa pedagang benih dari Jawa, bahkan berani mendatangkan benih lengkeng dataran rendah dari Vietnam.

Masyarakat mengimpikan punya pohon lengkeng di halaman rumah, kalau perlu ditanam dalam pot, namun buahnya lebat dan besar-besar. Buah lengkeng yang besar-besar itu kulitnya harus tipis, daging buahnya tebal, kering  dan ngelotok, rasanya manis, dengan aroma yang kuat khas lengkeng. Diamond River dan Pingpong, memang mampu berbuah pada tahun pertama. Buah Diamond River sangat lebat, sementara Pingpong berukuran besar sekali. Hingga lengkeng dataran rendah memang sangat atraktif sebagai tanaman buah dalam pot (Tabulampot), maupun hiasan di halaman rumah.

# # #

Tak lama kemudian “demam” lengkeng dataran rendah surut. Masyarakat menjadi lebih rasional. Sebab Diamond River yang berbuah sangat lebat itu, ternyata daging buahnya berair banyak dan lembek. Pingpong yang berukuran besar, bijinya juga sangat besar pula. Meskipun dua lengkeng andalan ini rasanya tetap manis. Yang paling hebat adalah Itoh atau Idoh. Ternyata, Itoh tidak mungkin dibuahkan di dataran rendah tanpa perlakuan Kalium Klorat (KCLO3). Hingga impian untuk menjadikan lengkeng dataran rendah sebagai “kebun komersial” menjadi tidak seperti yang diharapkan. Namun, hasil kebun lengkeng dataran rendah tanaman tahun 2005 itu, sekarang sudah mulai masuk pasar.

Selain itu, produktivitas lengkeng dari Malang (Jatim), Ambarawa (Jateng), dan Pagaralam (Sumsel), awal tahun ini juga meningkat cukup pesat. Beda dengan musim berbuah lengkeng di Thailand yang terjadi pada bulan Juli dan Agustus, maka panen raya lengkeng lokal kita akan terjadi pada bulan Januari dan Februari. Hingga sebenarnya, lengkeng lokal kita tidak pernah bersaing langsung dengan lengkeng Thailand. Meskipun pada panen kedua pada bulan Agustus, pasar lengkeng lokal kita akan bertabrakan dengan lengkeng bangkok. Dari tiga sentra lengkeng lokal kita yakni Malang, Ambarawa dan Pagaralam, yang paling rendah kualitasnya adalah Malang.

Kulit buah lengkeng malang agak kehitaman. Daging buahnya lembek dan lengket pada biji (tidak ngelotok). Lengkeng Ambarawa dan Pagaralam jauh lebih baik kualitasnya. Selain ukurannya lebih besar, lengkeng dari dua sentra ini berkulit lebih terang, dan juga ngelotok. Meskipun lengkeng dataran rendah hasil tanaman 2005 sudah mulai berbuah, namun hasil panennya masih terlalu kecil untuk masuk ke pasaran. Bahkan sebenarnya, hasil lengkeng kita pun sangat kecil jika dibandingkan dengan Thailand dengan luas areal 41.504 ha. dan hasil 238.000 metrik ton; Vietnam 41.600 ha. hasil 365.000 metrik ton. dan RRC 420.000 ha. hasil 362.800 metrik ton.

# # #

Lengkeng Ambarawa, meskipun kualitasnya cukup baik, sebenarnya memerlukan peremajaan. Sebab tanaman di kebun rakyat di sekitar Ambarawa, umumnya sudah berumur tua. Demikian pula halnya dengan di Malang Selatan. Di kawasan sentra lengkeng ini, yang diperlukan bukan hanya peremajaan, melainkan juga penggantian varietas. Sebab varietas lengkeng yang tumbuh di sini, kualitasnya sangat rendah. Peremajaan lengkeng tidak mungkin dilakukan dengan cara penyambungan, dengan memanfaatkan batang bawah. Sebab tanaman lengkeng dengan umur di atas 20 tahun itu, sudah sulit untuk disambung dengan entres baru.

Di kawasan Pagaralam, Sumatera Selatan, tanaman lengkengnya masih berumur muda. sebab lengkeng di sini, sebelumnya hanya digunakan sebagai pembatas kebun kopi. Ketika harga kopi jatuh pada akhir tahun 1990an, maka petani banyak yang menyelipkan benih lengkeng di antara tanaman kopi. Hasil tanaman akhir 1990an dan awal tahun 2000an itulah yang sekarang sedang berproduksi. Hingga tanaman lengkeng di Pagaralam, umumnya beumur di bawah 10 tahun. Selain itu, varietas lengkeng di Pagaralam, kualitasnya juga lebih baik dibanding dengan lengkeng Malang. Sebagian besar lengkeng yang masuk pasaran sekarang ini, berasal dari Pagaralam.

Lampung, terutama di sekitar Pringsewu,  juga merupakan penghasil lengkeng. Lengkeng varietas Sugiri dari Palembang, tahun 2.000an juga sudah mulai dikembangkan di Lampung. Sugiri adalah lengkeng unggul dataran rendah asli Indonesia, yang diketemukan oleh petani lengkeng bernama Sugiri. Sugiri juga mulai mengembangkan lengkengnya secara lebih serius di Lampung, selain juga memproduksi benih. Dengan potensi agroklimat yang mendukung, dengan adanya varietas lengkeng dataran rendah yang unggul, sebenarnya kita tidak perlu dibanjiri oleh lengkeng Thailand dan juga Vietnam setiap bulan Juli sd. Oktober. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s