IKAN LAUT DAN CUACA BURUK

Cuaca buruk belakangan ini, merupakan hal yang biasa setiap kali musim barat tiba. Musim angin barat selalu rutin datang antara bulan November sampai dengan Maret. Akhir Oktober, kadang-kadang musim barat sudah datang. Awal April, seringkali angin barat masih sangat kuat. Kalau musim barat datang pada akhir Oktober, maka Maret sudah akan reda. Sebaliknya, kalau datangnya baru akhir November atau awal Desember, maka angin barat baru akan berakhir pada awal April. Ini merupakan siklus musim, yang akan selalu rutin terjadi setiap tahun.

Bagi nelayan, musim barat merupakan musim paceklik. Sebab angin yang sangat kencang disertai hujan, berpotensi mendatangkan gelombang besar. Kadangkala disertai dengan badai. Hingga selama sekitar lima bulan itu, nelayan akan lebih banyak berada di darat. Kegiatan mereka adalah membetulkan perahu, jaring dan peralatan lainnya. Sebenarnya selama lima bulan musim barat, selalu ada celah cuaca yang ramah. Ketika itulah nelayan akan mencuri waktu untuk melaut. Pada musim barat, kalau cuaca sedang baik, justru laut sangat tenang.

Dampak dari musim barat bagi konsumen adalah, ikan laut menjadi tinggi harganya. Sebab sesuai dengan hukum pasar, permintaan tetap tetapi pasokan berkurang. Maka harga pun akan naik. Meskipun bandeng dan udang putih serta udang windu tergolong sebagai ikan laut, namun budidayanya sudah bisa dilakukan di perairan payau. Hingga meskipun sedang musim barat, harga bandeng, udang putih dan windu tetap stabil. Kecuali bandeng dan udang hasil tangkapan, yang volumenya akan menyusut setiap musim barat tiba. Nelayan paling terganggu setiap musim barat tiba.

# # #

Nelayan menangkap ikan di laut dengan peralatan berupa perahu, jaring atau pancing. Ikan karang seperti kakap dan kerapu, ditangkap dengan pancing dasar (jeblug), dan ngoncer. Ikan tuna (tongkol, tenggiri), bisa ditangkap dengan pancing troling, bisa pula dengan jaring. Ikan kecil-kecil seperti layang, kembung, dan tembang, hanya bisa ditangkap dengan jaring. Selain dengan menggunakan perahu, nelayan juga menangkap ikan, cumi dan terutama udang, dengan bagang (bagan), tancap maupun apung. Bagang adalah bangunan dari bambu yang dipasang di lepas pantai.

Pada pancing dasar, nelayan membuang sauh hingga perahu berhenti di terumbu karang. Beberapa pancing dengan pemberat timah, diturunkan sekaligus. Umpannya bisa daging ikan, udang, kerang atau siput. Mancing ngoncer dilakukan pada laut dengan arus sangat deras. Agar mata kail dan umpan tidak hanyut dan naik ke permukaan, maka nelayan tidak membuang sauh. Perahu pun akan terapung-apung dan hanyut mengikuti arus. Hingga mata kail dan umpan yang juga hanyut, akan tetap berada di dasar, sejajar dengan perahu yang juga hanyut.

Pancing troling, sama dengan jaring troling, adalah pancing yang ditarik perahu, hingga posisi mata kail dan umpan selalu ada di permukaan. Umpan yang digunakan biasanya bulu ayam, yang diikatkan permanen di pangkal mata kail. Sepintas, bulu-bulu ayam yang bergerak-gerak ditarik perahu ini, akan tampak seperti seekor ikan kecil, hingga menarik perhatian tuna tongkol atau tenggiri untuk mencaploknya. Setelah jaring troling dilarang pemerintah, penangkapan ikan hanya dilakukan dengan jaring yang tidak ditarik. Hasil tangkapannya terutama ikan kecil seperti kembung.

Sebenarnya, penghasilan nelayan bukan hanya berasal dari ikan, udang dan cumi, melainkan juga kerang, kepiting, dan rumput laut. Selama ini bandeng dan udang, sudah bisa dibudidayakan di tambak air payau. Rumput laut bisa dibudidayakan di pantai teluk yang dangkal dan berair jernih. Kerang hijau pun juga sudah mulai dibudidayakan nelayan pada tiang-tiang bambu yang bagian pangkalnya ditancapkan ke dasar laut, atau diberi pemberat agar bisa menetap secara vertikal di satu lokasi. Beberapa nelayan sudah mulai membesarkan kerapu dan lobster dalam karamba laut.

# # #

Nasib nelayan menjadi sangat buruk, bukan hanya karena selalu ada musim barat. Sebab petani tadah hujan pun juga selalu mengalami musim kemarau. Kehidupan nelayan, sebenarnya sangat terkait dengan ekosistem hutan bakau (mangrove). Namun hutan bakau di Indonesia mengalami perusakan yang cukup intensif. Kayu bakau merupakan bahan dolken dan arang kualitas terbaik. Hutan bakau di muara Musi, delta Mahakam dan di sekitar pulau Tarakan, juga dibabat habis untuk dijadikan tambak udang. Rusaknya ekosistem bakau, telah mengakibatkan populasi ikan berkurang. Sebab sebagian ikan, berkembangbiak di perairan hutan bakau.

Hutan bakau juga merupakan habitat kepiting bakau. Hingga rusaknya mangrove membuat nelayan kehilangan peluang untuk menangkap kepiting. Nelayan tradisional, sebenarnya juga membuka hutan bakau untuk tambak bandeng dan udang. Namun kearifan tradisional, telah mencegah pembukaan hutan mangrove secara total. Hutan tetap disisakan, hingga terbangun ekosistem yang baik. Sebab mangrove juga merupakan tempat tinggal, serta bertelur aneka burung migran serta kelelawar pemakan serangga. Rehabilitasi hutan bakau merupakan persyaratan mutlak, agar nelayan tidak terlalu terganggu dengan musim barat.

Awal tahun 1980an, pemerintah Malaysia, mencoba menyejahterakan nelayan dengan cara menyelenggarakan workshop membakar ikan, bagi istri nelayan. Kemudian dibangunlah jalan dari kota ke kampung nelayan tersebut, serta warung ikan bakar. Untuk mempromosikannya, pemerintah mengundang para wartawan, terutama wartawan televisi, untuk datang dan makan ikan bakar di kampung nelayan tersebut. Upaya pemerintah Malaysia ini merupakan langkah konkrit untuk menyejahterakan nelayan. Sebab dibanding petani dan peternak, kehidupan nelayan paling memprihatinkan. Terlebih setiap musim barat tiba. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s