SUBSIDI DAN INSENTIF SEKTOR AGRO

Murahnya produk pertanian AS, Eropa, Jepang dan negara tetangga kita, banyak dicurigai karena faktor subsidi. Negara-negara itu memberikan subsidi yang luarbiasa pada produk pertanian mereka. Namun negara-negara maju, selalu membantah telah memberi subsidi kapada petani mereka. Hingga terjadilah perang argumentasi antara wakil Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) dengan wakil dari AS, dalam forum World Trade Organization (WTO). Yang mereka permasalahkan pasti  komoditas strategis. Misalnya gandum, jagung, kedelai dan daging sapi.

Negara-negara maju itu, kadang-kadang juga menuduh negara berkembang seperti Indonesia, telah memberi subsidi berlebihan kepada petaninya. Dampaknya, mereka menolak produk dari Indonesia, atau memberikan hambatan tarif maupun non tarif. Negara-negara maju ini selalu menekan negara berkembang melalui WTO, juga melalui World Bank dan International Monetary Fund (IMF). Pada tahun-tahun awal reformasi, Indonesia juga pernah ditekan oleh IMF, untuk mengurangi bahkan kalau bisa tuntutan IMF yang bisa dipenuhi, hanyalah penghapusan monopoli Bulog terhadap komoditas penting, tidak termasuk beras.

Yang dilakukan negara maju, sebenarnya bukan memberikan subsidi, melainkan insentif. Subsidi sendiri bisa berupa subsidi langsung, misalnya subsidi pupuk, benih dan pestisida. Bisa pula subsidi tidak langsung. Misalnya subsidi penyuluhan, pembangunan sistem, subsidi air irigasi dan lain-lain. Subsidi model kedua ini umum dilakukan terhadap petani, baik di negara maju maupun negara berkembang. Subsidi akan diberikan kepada semua petani, tidak peduli apakah usahanya berhasil atau gagal. Sementara insentif, hanya diberikan apabila petani berhasil melampaui target, atau memenuhi ketentuan yang telah dibuat pemerintah. Kalau target tidak tercapai, petani tidak menerima insentif.

# # #

Di Indonesia, subsidi langsung diberikan kepada petani antara lain berupa pengurangan harga pupuk urea. Seharusnya, harga pupuk urea sudah mencapai Rp 1.500,- per kg atau Rp 75.000,- per zak isi 50 kg. Subsidi pemerintah ini, dalam praktek sulit untuk dinikmati petani, sebab harga pupuk urea di pasaran sudah melambung di atas Rp 1.500,- per kg. Subsidi langsung ini juga diberikan dalam bentuk penentuan harga benih bina dari Sang Hyang Seri. Meskipun ketika menjadi benih sebar, petani tetap harus membayar dengan harga pasar biasa. Hingga subsidi langsung yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada petani, dalam praktek tidak bisa menekan harga beras hingga menjadi lebih murah.

Subsidi tidak langsung, diberikan pemerintah Indonesia dalam bentuk program penyuluhan, air irigasi, pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan pasar dan lain-lain. Di Indonesia, air irigasi diperoleh secara gratis. Memang petani harus membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), namun nilainya tidak sebanding dengan biaya investasi dan operasional, yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Di Filipina, air irigasi harus dibayar oleh petani, sesuai dengan volume dan debit yang digunakan. Baik untuk petani kecil maupun pengusaha perkebunan. Di Indonesia, perusahaan perkebunan besar pun, bisa menggunakan air irigasi secara gratis. Namun subsidi tidak langsung ini pun, masih belum bisa menekan harga hingga menjadi lebih murah.

Di negara maju, subsidi langsung memang tidak pernah diberikan kepada petani. Subsidi tidak langsung, biasanya diberikan kepada petani dalam bentuk pengembangan lembaga dan jaringan bisnis. Mulai dari kelompok tani, koperasi, dan asosiasi, dari tingkat desa, distrik, provinsi sampai ke tingkat nasional. Di negara maju, subsidi tidak langsung selalu sampai ke petani. Hingga harga komoditas mereka bisa lebih murah dibanding dengan di negara-negara berkembang. Subsidi di negara maju ini bisa sampai ke petani, karena sistem kelembagaan di sana sudah terbangun dengan cukup solid. Korupsi memang tetap ada, tetapi bisa terkendali dengan cukup baik.

# # #

Insentif, lain dengan subsidi. Di negara maju, insentif pertama diberikan kepada petani dalam bentuk kredit bersuku bunga rendah. Kalau kredit komersial berbunga antara 8 sd. 13%, maka kredit pertanian hanya bersuku bunga 3 sd. 6%, dengan grace period antara 1 sd. 3 tahun. Inilah yang menyebabkan produk buah-buahan dan anggrek Thailand, bisa lebih murah dari produk serupa dari Indonesia. Selain itu, subsidi tidak langsung dalam bentuk kelembagaan dan jaringan bisnis juga bisa sampai ke petani. Thai Airways misalnya, memberikan banyak kemudahan bagi kargo produk pertanian, dengan pesawat khusus barang.

Insentif kepada petani padi di Taiwan dan Jepang, juga diberikan dalam bentuk keringanan pajak. Kalau petani mau menanam padi, diberi suku bunga kredit lebih rendah dibanding dengan produk pertanian lainnya. Kalau petani mau menanam padi di lahan pertanian non padi, maka insentif akan ditambah. Petani yang bersedia menanam padi di lahan non pertanian, akan diberi pembebasan pajak. Kalau hasil petani melebihi target, insentif lain sudah menunggu. Hingga petani menjadi terpacu untuk lebih produktif lagi. Insentif baru diberikan, kalau petani memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Mereka yang tidak memenuhi kriteria tersebut, tidak akan diberi insentif.

Selain faktor subsidi tidak langsung dan insentif yang bisa benar-benar sampai ke petani, mereka juga sangat rasional. Di negara tetangga, terlebih di negara maju, ada sentra komoditas yang ditentukan oleh faktor agroklimat. Di negara bagian Texas, petaninya hanya berkonsentrasi pada kapas, kedelai dan kacang tanah. Negara bagian Washington, di barat laut AS,  adalah sentra buah-buahan sub tropis. Thailand utara seperti Ciangrai adalah sentra lengkeng, sementara Rayong di selatan merupakan sentra durian monthong. Perancis adalah negeri wine dan parfum. Mereka tidak akan tergoda untuk membudidayakan komoditas lain. Hingga produk yang mereka hasilkan, jelas akan bisa sangat murah  dibanding di negeri kita tercinta. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s