PROSPEK BISNIS NILA GESIT

BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), IPB (Institut Pertanian Bogor) serta B2PBAT (Balai Besar Pengembangan Budi daya Air Tawar), telah meluncurkan benih ikan nila baru yang disebut Nila Gesit (Genetically Supermale Indonesian Tilapia). Tilapia adalah nama genus ikan air tawar keluarga Cichliddae. Dua genus Tilapia yang populer di masyarakat adalah ikan mujair (Tilapia musambica) dan ikan nila (Tilapia nilotica). Di kalangan petani ikan, mujair dibedakan dengan nila. Namun setelah ikan berada di pedagang atau warung padang, nila akan berubah nama menjadi mujair.

Padahal, ikan mujair sekarang ini sudah hampir tidak dibudidayakan secara komersial, sebab pertumbuhannya kalah pesat dibanding nila. Selain itu, prosentase daging mujair juga tidak sebesar nila. Namun setelah berada di pasar, masyarakat selalu menyebut nila dengan nama mujair. Beberapa orang malahan menyebutnya sebagai mujair nila. Sama halnya dengan domba (Ovis aries), yang setelah menjadi daging selalu disebut kambing (Capra hircus atau Capra aegagrus hircus). Meskipun populasi domba, jauh lebih banyak dibanding kambing. Ada dua strain ikan nila, yakni bersisik abu-abu dan oranye atau kuning tua.

Nila menjadi sangat populer di masyarakat, termasuk masyarakat dunia, karena pertumbuhannya yang cepat, pakannya yang berasal dari bahan nabati (herbifora), prosentase dagingnya besar, serta tidak ada duri kecil-kecil didalamnya. Kelemahan ikan mas, bandeng, dan gabus, disebabkan oleh adanya duri lembut yang menyatu dengan daging. Hingga bandeng dan ikan mas lebih banyak dimasak presto serta pepes, serta gabus dijadikan ikan asin, agar duri dalam daging itu tidak mengganggu. Nila juga lebih populer dibanding gurami yang lamban pertumbuhannya. Nila juga adaptif untuk dibudidayakan secara massal dan modern, maupun dalam skala rumah tangga.

# # #

Selama ini, budi daya nila dalam skala besar dengan teknologi modern, selalu menginginkan benih yang 100% jantan. Sebab ikan jenis apa pun, jantannya selalu berdaging lebih banyak dibanding betinanya. Ini juga berlaku untuk ternak unggas maupun ruminansia. Benih nila jantan itu diperoleh melalui  pemberian hormon Methyl Testosterone pada air, ketika burayak (anak ikan) sampai pada tahap pertumbuhan mata. Bisa juga dengan perendaman induk betina pada hormon tersebut, pada saat akan diambil telurnya. Dengan perlakuan ini, pembenih bisa menghasilkan nila dengan jenis kelamin 100% jantan.

Teknologi pembuatan nila jantan ini bisa dilakukan, karena pembenihan dilakukan secara buatan dalam lab. Secara alami, induk betina ikan akan bertelur, lalu induk jantannya akan membuahi telur itu dengan spermanya. Hingga penyatuan sel telur dengan sperma terjadi dalam air, sesaat setelah telur dikeluarkan. Pola perkawinan demikian disebut memijah. Pola inilah yang diadopsi oleh teknologi modern, untuk pembenihan secara buatan. Induk ikan betina yang sudah matang telur, disuntik dengan larutan kelenjar hipofisa dan hormon HCG. Hipofisa adalah kelenjar yang ada di belakang otak, berjumlah dua buah sebesar biji kedelai. HCG (Human Chorionic Gonodotropin) adalah hormon yang terdapat pada urine wanita hamil.

Setelah disuntik dengan larutan hipofisa dan hormon HCG, telur bisa dikeluarkan dari induk betina, dengan cara diurut. Setelah itu, induk jantan dikorbankan (dipotong), untuk diambil spermanya. Telur dan sperma dicampur dalam mangkuk, dengan selembar bulu ayam yang sudah dicuci bersih. Telur yang sudah dibuahi ini, ditaruh dalam akuarium yang diberi pemanas (heater). Untuk menghasilkan ikan jantan, pemberian hormon Methyl Testosterone bisa dilakukan sesaat setelah telur menetas, ketika burayak sedang menumbuhkan mata. Bisa pula, induk betina yang mau diurut direndam dalam pemberian larutan Methyl Testosterone.

# # #

Dalam dunia perikanan, benih nila yang dibuat jantan semua ini umumnya strain yang bersisik kuning, dan diberi nama nila gift. Proses pembuatan benih nila gesit, berbeda dengan nila giftt. Nila gesit merupakan hasil rekayasa genetika. Pertama-tama, para ahli menciptakan ikan nila jantan berkromosom YY. Ikan jantan biasa, selalu berkromosom XY. Ikan jantan super ini, selanjutnya dipijahkan dengan ikan betina biasa yang berkromosom XX. Hasil pemijahan ini, akan menghasilkan burayak nila yang 100% jantan dengan kromosom XY. Dengan cara ini, para breeder nila cukup membeli ikan jantan berkromosom YY, dan bisa terus menghasilkan benih 100% jantan.

Teknologi ini mengandung kelemahan, dibanding dengan pemberian hormon Methyl Testosterone. Pertama, pembenih ikan harus membeli induk ikan jantan berkromosom YY dengan harga tinggi. Ikan itu tentu tidak bisa dikorbankan (dipotong) untuk diambil spermanya. Padahal, dalam teknologi pemijahan buatan pada ikan,  pengambilan sperma seperti pada ternak ruminansia, tidak dimungkinkan. Hingga pemijahan harus dilakukan secara alami. Resikonya, tidak mungkin dilakukan secara massal. Alternatifnya adalah, B2PBAT harus menternakkan secara massal, ikan jantan dengan kromosom YY. Ini juga bukan pekerjaan murah.

Dengan kondisi seperti ini, prospek nila gesit masih akan diuji lebih lanjut di kalangan peternak ikan, dan harus siap diadu dengan nila gift. Prospek budi daya ikan nila, jelas masih sangat baik. Sebab ikan ini mampu diadu dengan jenis-jenis ikan lainnya. Prospek paling besar adalah sebagai substitusi gurami dan kakap. Selama ini nila dengan ukuran di atas 0,5 kg. sudah berhasil menjadi substitusi kakap di restoran ikan goreng. Sementara file nila juga sudah bisa mendampingi file kakap merah, yang populasinya di laut semakin terkikis. Dengan potensi seperti ini, kehadiran nila gesit pasti akan sangat membantu peternak ikan dengan alternatif baru. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s