ASAP CAIR DAN CUKA KAYU

“Saya banyak membaca di media massa, katanya asap bisa “dicairkan” dan digunakan untuk berbagai keperluan. Benarkan info ini? Kalau benar, siapakah yang akan menampung produk ini, dan berapakah harganya per liter? Saya takut seperti yang sudah-sudah, info seperti ini hanya penipuan.” (Sulistyo, Lampung).

Sdr. Sulistyo, asap cair adalah asap hasil pembakaran berbagai bahan, yang dicairkan, dan dipisahkan dari tarnya. Asap cair dimanfaatkan aromanya, untuk berbagai keperluan, antara lain untuk merebus bacon  (irisan daging punggung babi). Sebenarnya yang pasarnya lebih luas adalah cuka kayu (wood vinegar, pyroligneous acid). Di Eropa dan Jepang, asap cair dan terutama cuka kayu sudah sejak lama diproduksi, dan diperdagangkan. Cuka kayu adalah pengawet bahan pangan, untuk industri farmasi, sampai ke bahan pestisida, dan zat perangsang tumbuh tanaman.

Di Eropa dan Jepang, arang kayu merupakan komoditas penting. Pertama untuk bahan bakar dalam acara barbeque. Kedua, arang kayu, terutama kayu yang sangat keras, akan diproses lebih lanjut menjadi karbon aktiv. Proses pembuatan arang akan menghasilkan asap yang potensial mencemari lingkungan. Untuk mengatasinya, asap ini ditampung, dialirkan dalam pipa, didinginkan, hingga mengembun dan menetes. Tetesan embun dari asap inilah yang disebut sebagai cuka kayu.

Proses pembuatan arang di negara maju, sudah menggunakan teknologi canggih. Jenis kayu keras yang akan dibuat arang, dengan diameter rata-rata 20 – 30 cm, dipotong sepanjang 50 cm. Potongan bahan arang itu kemudian ditata dalam tungku, yang lebih mirip sebuah tangki yang cukup besar. Tungku itu kemudian ditutup rapat, lalu dipanaskan dari luar. Pemanasnya biasanya berbahan bakar cukup murah. Pada proses pengarangan ini, ruang tungku harus hampa udara.

Apabila ruang tungku bocor dan udara (oksigen) masuk, seluruh kayu akan terbakar menjadi abu. Maka konstruksi tungku harus benar-benar kedap udara. Secara sederhana, tungku pengarangan ini bisa dibuat dari besi, mirip dengan tangki dalam mobil tangki, tetapi salah satu sisinya diberi pintu untuk memasukkan kayu, dan mengeluarkan arang. Bagian pintu yang bersentuhan dengan dinding tangki, harus diberi lapisan kanvas tahan api (asbes). Ketika ditutup, pintu itu harus dibaut, hingga ruang di dalamnya benar-benar tak berhubungan dengan udara luar.

Tangki ini kemudian dipanasi dari bawah, dengan bahan bakar apa saja. Pada bagian atas tangki, dipasang pipa untuk mengalirkan asap. Pipa asap ini kemudian dibelokkan ke bawah, dibuat berbentuk spiral, lalu didinginkan dengan cara diberi aliran air. Pada ujung pipa ditaruh ember atau wadah lain untuk menampung cuka kayu yang dihasilkan. Proses pengarangan akan selesai, apabila sudah tidak ada lagi cairan yang menetes dari ujung pipa, yang biasanya akan memakan waktu sekitar 24 jam.

Cairan yang dihasilkan dari proses pengarangan ini, sebenarnya masih belum bisa disebut sebagai cuka kayu, sebab masih tercampur dengan tar.  Untuk memperoleh cuka kayu murni, cairan asap ini didestilasi ulang. Hasilnya cuka kayu murni, dengan tar yang tersisa dalam ketel atau wadah destilasi. Tar sebagai limbah, masih bisa digunakan untuk melapisi kayu atau bambu bahan bangunan, terutama yang tidak tertimpa air hujan. Dengan diberi tar, kayu, atau bambu bahan bangunan akan tahan terhadap serangan hama.

Pasar wood vinegar cukup luas, sebab produk ini merupakan komoditas untuk berbagai keperluan, dengan pasar di hampir semua negara maju. Namun produk cuka kayu yang akan dipasarkan mutlak harus memenuhi Standar Nasional, yang mengacu pada Standar Internasional. Hingga produk cuka kayu yang dihasilkan, setiap kali harus diperiksakan ke lab yang terakreditasi secara nasional maupun global. Dengan modal analisis dari lab inilah bisa ditawarkan produk yang dihasilkan.

Bahan untuk cuka kayu, dituntut homogen. Misalnya, kalau bambu, jenisnya bambu apa, kalau kayu, juga kayu apa. Dengan bahan baku yang seragam, dengan analisis kandungan dan kualitas dari lab, cuka kayu yang dihasilkan pasti akan lebih mudah terpasarkan. Untuk memasarkan cuka kayu, sebaiknya tetap digunakan nama yang juga standar: wood vinegar, atau pyroligneous acid. Kalau yang diproduksi asap cair, baru boleh disebut the liquid smoke, yang standar serta kegunaannya lain lagi.  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s