PRODUKTIVITAS SEKTOR AGRO

Kontribusi sektor agro terhadap Produk Domestik Bruto, Gross Domestic Product (PDB, GDP), masih 65 %. Beda misalnya dengan di AS, yang kontribusi sektor agronya terhadap PDB tinggal 5%. Artinya, penduduk Indonesia yang menggantungkan nafkahnya dari sektor pertanian, kurang lebih sekitar 65% dari total populasi. Sementara di AS, tinggal 5%. Tetapi, 5% penduduk AS yang terlibat dengan pertanian, mampu mencukupi kebutuhan pangan dan sandang bagi seluruh penduduk AS. Bahkan hasil pertanian itu masih sangat surplus, hingga lebih dari 50% cadangan pangan di pasar dunia, dikuasai oleh AS. Ini menandakan bahwa efisiensi sektor agro di AS sangat tinggi.

Ukuran produktivitas yang selama ini selalu kita gunakan sebagai acuan bagi sektor agro adalah, hasil per satuan hektar, per satuan musim tanam. Misalnya, hasil padi dari 1 hektar sawah, satu kali musim tanam selama empat bulan, rata-rata empat ton gabah kering giling. Kita tidak pernah mempermasalahkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi tiap ton gabah kering giling? Di AS, tidak peduli satu hektar lahan mampu menghasilkan berapa ton gandum. Yang penting adalah, berapa US $ biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap ton gandum. Semakin murah biaya tersebut, produk yang dihasilkan akan semakin mampu bersaing di pasar internasional.

Biaya produksi (on farm) komoditas pertanian di Indonesia, sebenarnya masih sangat bersaing. Namun biaya non produksi (off farm), membuat komoditas kita sulit untuk bisa bersaing. Yang dimaksud dengan biaya off farm adalah ongkos angkut, retribusi (resmi), pungutan (liar), dan gangguan dari preman. Resiko on farm yang dihadapi petani Indonesia sudah cukup besar. Namun, resiko off farmnya juga lebih besar lagi. Yang disebut resiko off farm adalah suplai yang lebih besar dari permintaan, hingga harga jatuh. Teknik pengemasan dan pengangkutan yang tidak benar juga akan menimbulkan tingkat kerusakan yang cukup tinggi. Faktor off farm inilah yang mengakibatkan selisih harga di tingkat produsen dan konsumen menjadi sangat tinggi.

# # #

Harga mangga harummanis di tingkat petani di Probolinggo, bisa hanya Rp 1.000,- per kg.  Sebab tengkulak akan menaksir harga mangga itu ketika masih berada di pohon, kemudian kalau cocok akan dipanen sekaligus. Kalau tidak dipanen sekaligus, maka tengkulak akan rugi. Akibat dipanen sekaligus, maka hasilnya berupa mangga dengan berbagai ukuran dan tingkat kemasakan. Oleh tengkulak, mangga ini bisa langsung dikeranjangkan dan dibawa ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta; bisa pula disortir terlebih dahulu baru kemudian dipasarkan sesuai dengan gradenya. Kalau pedagang langsung membawa mangga itu ke Jakarta, maka di Kramatjati harganya sudah mencapai Rp 2.500,- per kg.

Kalau tengkulak menyortir mangga yang baru saja dipanen, maka hasilnya adalah mangga kelas A, B, C, D dan super (mangga masak pohon). Prosentase dari masing-masing kelas, sudah bisa ditaksir oleh tengkulak, ketika mangga itu masih berada di pohon. Hingga tengkulak jarang sekali mengalami kerugian. Di tingkat tengkulak, mangga kelas super bisa dilepas dengan harga Rp 5.000,- per kg. Kelas A Rp 3.000,- B Rp 2.500,- C. Rp 2.000,- dan D Rp 1.000,- atau dibuang. Penentuan harga di tingkat tengkulak ini, sangat tergantung pada waktu. Ketika awal musim mangga, tengkulak berani menebas mangga di pohon dengan harga di atas Rp 1.000,- per kg. Tetapi ketika sudah puncak musim mangga, maka tengkulak akan lebih berhati-hati menawar.

Di Jakarta, mangga kelas super bisa berharga Rp 20.000,- per kg. dan tidak pernah masuk ke pasar swalayan sekali pun. Mangga super selalu dipasarkan melalui pesanan. Mangga kelas A sekitar Rp 8.000,- kelas B Rp 6.000,- kelas C Rp 5.000,- dan D di bawah Rp 4.000,- Betapa jauh selisih antara harga di tingkat petani dengan di tingkat konsumen. Fenomena seperti ini juga terjadi pada buah-buahan lain, sayuran dan bunga. Hal ini terjadi, karena buah-buahan, sayuran dan bunga dipasarkan dalam bentuk segar, dalam jangka waktu yang sangat pendek. Mangga kelas A yang harganya Rp 8.000,- per kg, apabila tidak laku dalam jangka waktu beberapa hari, harganya akan turun terus sampai ke tingkat Rp 5.000,-

# # #

Ada komoditas yang selisih harga di tingkat petani dan produsen tidak setinggi buah, sayuran dan bunga. Komoditas yang bisa dikeringkan dan diawetkan hingga bisa disimpan lama, selisih harga di tingkat petani dengan di tingkat konsumen tidak terlalu jauh. Bisalnya komoditas biji-bijian, minyak, getah, gula dan masih banyak lagi. Komoditas ini baru mengalami lonjakan harga, kalau prosesingnya memerlukan teknologi tinggi, atau padat karya, yang sama-sama memerlukan dana besar. Komoditas yang bisa disimpan lama, ralatif aman dari gejolak harga, karena kalau harga sedang jatuh, produk tersebut bisa ditahan tidak dipasarkan. Inilah yang sering dijadikan senjata bagi padra spekulan untuk menahan beras, jagung, minyak goreng dan lain-lain.

Prinsip agribisnis modern adalah, memproduksi suatu komoditas dengan biaya serendah mungkin dalam volume sama, tetapi dengan kualitas sebaik mungkin. Maksudnya, agar bisa bersaing di tingkat global. Di Indonesia, prinsip dasar agribisnis itu tidak berjalan dengan baik. Pada komoditas beras misalnya, petani padi Indonesia, menerima harga yang lebih rendah dari petani Thailand, India atau Vietnam. Tetapi konsumen Indonesia, harus membayar lebih mahal dari konsumen di negeri tersebut. Ini menandakan bahwa secara on farm, sebenarnya petani kita bisa efisien. Tetapi setelah berada di off farm, sektor lain menjadi sangat tidak efisien. Jadi, kalau kita ingin membuat harga beras di tingkat konsumen lebih murah, yang harus dibenahi masalah off farm. Bukan petaninya.

Hal yang sama juga berlaku untuk produk buah-buahan, sayuran, telur, daging, ikan, termasuk ikan laut tangkapan konsumen. Nelayan tradisional kita, jelas sangat efisien dibanding nelayan Thailand, Taiwan apalagi Jepang. Tetapi para nelayan itu tetap miskin, sebab pendapatan mereka rendah. Sementara konsumen Indonesia, harus membeli ikan dengan harga sangat tinggi. Untuk mengatasi permasalahan ini, petani, peternak dan nelayan harus diberi fasilitas untuk mengorganisir diri mereka sendiri, hingga bisa menangani masalah off farm. Selama ini petani, peternak dan nelayan lebih banyak diorganisir untuk kepentingan politik praktis. Hal-hal seperti inilah yang harus dilakukan, apabila kita ingin berpihak ke petani sekaligus juga konsumen. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s