KORUPSI DALAM BISNIS BERAS

Beberapa minggu yang lalu, Majalah Tempo menyajikan hasil investigasi tentang penggunaan klorin untuk memutihkan beras. Klorin (chlorium, Cl), adalah gas beracun yang ditemukan Scheele pada tahun 1774, dan diidentifikasi sebagai unsur kimia dengan nomor atom 17 oleh Davy pada tahun 1880. Dalam kegidupan sehari-hari, klorin antara lain dikenal sebagai kaporit (CaOCl2), dan larutan natrium hipoklorit (NaOCl).  Selain dikenal sebagai pemutih kertas dan kain, klorin adalah bahan desinfektan. Penggunaan klorin dalam proses pembuatan air minum, dibenarkan dalam dosis tertentu.

Di Amerika Serikat, penggunaan klorin untuk pemutih tepung, juga diperbolehkan, tetap dalam dosis yang dibatasi. Namun penggunaan klorin untuk memoles beras kualitas rendah hingga menjadi putih, tentu mengejutkan, meskipun praktek pemutihan beras ini sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Namun ketika itu praktek demikian hanya dilakukan oleh beberapa pedagang. Praktek penggunaan klorin untuk memutihkan beras, merupakan tindakan illegal, karena tanpa ijin. Sementara penggunaannya dalam menjernihkan air minum, merupakan tindakan resmi dan berijin, hingga bisa diawasi.

Praktek curang dalam bisnis beras, daging, minyak goreng, minuman rasa jeruk, saus makan dan lain-lain, sebenarnya sudah berlangsung lama dan dalam intensitas tinggi. Sebelum ada ide penggunaan klorin, beras jelek, biasanya disosoh sampai putih, kemudian dicampur dengan beras pandanwangi, dan dipasarkan sebagai pandanwangi asli. Sebelum mesin penggilingan padi (huller) ada di mana-mana, proses mengoplos beras ini dilakukan secara manual. Sebab pengupasan gabah hingga menjadi beras, juga masih dilakukan secara manual, dengan penumbukan.

# # #

Setelah tahun 1960an huller menyebar di sentra penghasil padi, pengoplosan beras dilakukan secara masinal. Ketika itu yang dioplos masih beras kualitas rendah, misalnya PB, dengan beras rojolele atau pandanwangi. Kadangkala padagang juga mengoplos beras jelek, dengan air pandan. Setelah esense bermacam aroma dijual bebas di pasar tradisional, beras kualitas jelek disosoh dan diberi esense pandan. Ini masih belum membahayakan kesehatan konsumen. Klorin dalam bentuk serbuk bahan pemutih, kemudian dijual bebas di toko kimia.

Klorin banyak digunakan oleh perajin untuk memutihkan kayu, bambu, rotan, daun pandan dan bahan lainnya, sebelum diproses lebih lanjut menjadi meubel, tikar, tas, atau barang kerajinan lainnya. Dalam industri tekstil berbahan rami, klorin digunakan untuk proses deguming, untuk memutihkan serat China Grass. Di Thailand, klorin dipakai untuk mencelup kelapa muda, setelah sabut bagian atas dan bawahnya dipotoong, hingga bekas potongan itu tetap putih. Setelah esense dan klorin dijual bebas, maka proses pengoplosan beras menjadi tambah liar.

Beras yang tersimpan lama di gudang, disosoh dan diberi klorin, lalu dicampur dengan beras baik. Konsumen sulit untuk membedakan, mana beras murni, dan mana beras oplosan. Karena praktek demikian dilakukan secara illegal, maka tidak pernah ada pengawasan. Konsumen tidak pernah tahu, berapa dosis klorin yang telah dicampurkan dalam beras tersebut. Padahal dalam dosis tertentu, klorin sangat membahayakan kesehatan. Praktek demikian, merupakan tindak pidana korupsi dan penipuan, karena melibatkan aparat desa dan keamanan.

Hingga korupsi dalam bisnis beras, sebenarnya juga terjadi di lapis bawah masyarakat. Tidak hanya di kalangan aparat Bulog, dan Dolog. Dalam program Bimas pada tahun 1970an, korupsi sudah terjadi sampai ke tingkat kepala desa, aparat KUD, bahkan petani. Petani mengambil kredit Bimas, tetapi digunakan untuk keperluan lain, bahkan untuk kawin lagi. Hingga korupsi dalam bisnis beras sebenernya sudah terjadi cukup lama. Konsumen yang menderita karena telah tertipu. Mereka tidak pernah tahu, apakah beras yang dibelinya merupkan beras asli atau oplosan.

# # #

Penipuan seperti ini sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh padagang beras. Pada pedagang daging sapi, sudah biasa memalsu daging sapi dengan daging kuda bahkan daging babi hutan. Pedagang daging domba, memalsu dagangan mereka dengan daging lumba-lumba bahkan daging anjing. Para pedagang juga memberi minum, bahkan memompakan air sebanyak mungkin ke dalam lambung sapi sebelum dipotong. Kadar air daging akan meningkat, dan otomatis bobotnya juga bertambah. Saus makan yang banyak beredar, sebenarnya juga bukan berbahan tomat, melainkan ubi jalar, labu dan pepaya muda.

Minuman serbuk rasa jeruk, sebenarnya juga berbahan baku jagung atau singkong (maizena dan tapioka). Karbohidrat itu difermentasi hingga menjadi gula dan asam sitrat. Setelah dikristalkan, gula dan asam sitrat ini diberi zat warna oranye dan esense jeruk. Minuman ini sehat untuk dikonsumsi. Namun pelaku bisnis telah tidak jujur mengatakan, bahwa produknya adalah minuman rasa jeruk. Bukan berbahan baku jeruk. Badan POM dan Yayasan Lembaga Konsumen (YLK), juga sulit untuk menanggulangi masalah ini, karena mereka bukan aparat keamanan, atau hukum, yang bisa operasional.

Salah satu cara untuk secara aman untuk mengkonsumsi beras adalah, berlangganan dengan pedagang atau penggilingan beras yang betul-betul kita kenal dan terpercaya. Bisa pula dengan mengkonsumsi beras pecah kulit. Di Eropa dan AS, gandum yang digiling berikut katulnya, menjadi trend. Sebab konsumen Eropa dan AS tahun bahwa tepung gandum banyak yang diberi klorin sebagai pemutih. Selain lebih aman, mengkonsumsi beras pecah kulit juga sangat sehat. Sebab katul dalam kulit beras itu, merupakan serat yang sangat bermanfaat bagi pencernaan, dan kaya vitamin B. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s