PELUANG BUDI DAYA KEDELAI

Mengapa justru ketika agroindustri unggas koleps, harga kedelai membaik? Padahal penyerap kedelai terbesar adalah industri bungkil, yang bermuara ke agroindustri daging dan telur unggas. Sebenarnya, permintaan bungkil memang menurun dengan merebaknya isu flu burung. Tetapi di lain pihak, lahan pertanian kedelai di AS, banyak yang alih komoditas ke jagung. Selama ini, penyerap terbesar komoditas jagung kuning juga industri pakan ternak. Sejak melambungnya harga minyak bumi di pasar dunia, agroindustri AS mencari alternatif pengganti bahan bakar minyak bumi.

Satu-satunya bahan yang tersedia melimpah dan mudah dikonversi menjadi bahan bakar adalah jagung pakan ternak. Jagung pakan ternak ini akan dikonversi menjadi ethanol (ethyl alkohol, grain alkohol, hydroxyethane, C2H6O). Ethanol bisa digunakan secara langsung sebagai bahan bakar, bisa pula dikonversi menjadi hidrogen, baru dimanfaatkan dalam mesin fuelcell.  Para petani jagung di AS, sekarang punya alternatif pasar. Sebab dengan melemahnya agroindustri perunggasan, permintaan jagung dan kedelai dari industri pakan ternak juga melemah.

Sementara agroindustri ethanol justru semakin tinggi permintaannya, dengan harga beli yang juga lebih tinggi. Hal inilah yang terus memacu kenaikan harga jagung pakan ternak. Karena kedelai tidak ikut terserap oleh agroindustri methanol, maka tidak ada alternatif pasar. Maka para petani kedelai pun ikut-ikutan menanam jagung. Hingga harga kedelai pun juga ikut naik, akibat pasokan yang menjadi lebih kecil dibanding permintaan. Kenaikan harga kedelai ini berimbas ke pasar internasional, termasuk Indonesia.

# # #

Di Indonesia, kedelai punya posisi yang lebih khusus lagi, yakni sebagai bahan baku tahu, tempe dan kecap. Hingga selain mengimpor bungkil sebagai pakan ternak, Indonesia juga mengimpor biji kedelai dari AS. Kedelai dari AS ini berukuran besar-besar, hingga disukai oleh industri tempe modern di Indonesia. Beda dengan industri tahu dan kecap, yang lebih menyukai kedelai lokal. Sebab kedelai impor yang berukuran besar itu, kandungan proteinnya lebih rendah dibanding kedelai lokal. Hingga ketika diproses menjadi tahu, rendemennya kalah dibanding kedelai lokal.

Rasa dan aroma kedelai impor, juga tidak sekuat kedelai lokal. Itulah sebabnya, industri tahu dan kecap lebih menyukai kedelai lokal. Industri tempe skala kecil, terutama di kota-kota kecil, masih menggunakan kedelai lokal. Meskipun tempe berbahan baku kedelai lokal ini, tidak seempuk tempe dengan kedelai impor. Kelezatan tempe di kota-kota kecil ini, juga dipengaruhi oleh raginya. Ragi tempe adalah kapang (jamur) Rhizopus oryzae, Rhizopus olygosporus atau Aspergillus aryzae. Masing-masing kapang ini masih terdiri dari ribuan strain, yang juga ikut berpengaruh terhadap kelezatan tempe.

Tahu, tempe dan kecap adalah industri kecil dan menengah penyerap kedelai utama. Termasuk kedelai impor. Hingga kenaikan harga kedelai di pasar AS, juga akan berpengaruh terhadap harga kedelai di Indonesia. Kenaikan harga kedelai ini dipredisi akan terus berlangsung tiga sampai lima tahun mendatang. Hingga budi daya kedelai menjadi cukup memiliki peluang. Namun kedelai sulit untuk dibudidayakan pada musim penghujan. Selain produktivitasnya akan rendah, kemungkinan gagal panen juga tinggi. Gagal panen pada budi daya kedelai, umumnya disebabkan oleh penyakit karat daun dan serangan hama ulat.

Budi daya kedelai juga sulit dilakukan pada musim penghujan, sebab lahan sawah umumnya tergenang. Sementara lahan kering berupa tegalan (ladang), tidak cocok untuk budi daya kedelai. Hasil budi daya kedelai di lahan tegalan, selalu lebih rendah dibanding dengan budi daya di lahan sawah. Hingga budi daya kedelai, mutlak harus dilakukan di lahan sawah pada musim kemarau. Kalau sawah itu merupakan lahan tadah hujan (tidak berpengairan teknis), harus diupayakan pengairan dengan pompa sedot maupun pompa air tanah serta sumur dalam (deepwell).

# # #

Meskipun budi daya kedelai akan dilakukan di lahan sawah pada musim kemarau (sekitar bulan Juni, Juli dan Agustus), namun persiapannya harus sudah dimulai bulan-bulan Februari. Sebab stok benih biasanya juga sangat terbatas. Hingga apabila ada pesanan dengan volume cukup besar, perusahaan benih selalu meminta tenggang waktu minimal tiga bulan. Sebab mereka akan menanam terlebih dahulu sesuai dengan volume permintaan. Hal ini perlu dilakukan, karena benih kedelai tidak bisa disimpan dalam ruang terbuka untuk jangka waktu lebih dari tiga bulan.

Para petani tradisional, biasanya menyiasati pengadaan benih kedelai ini dengan cara menanamnya pada pematang sawah. Kedelai hasil panen musim kemarau tahun sebelumnya, mereka simpan di para-para di atas dapur. Pada waktu menanam padi, benih kedelai ini mereka tebar di lubang yang mereka tugal di sepanjang pematang sawah. Volume biji kedelai yang mereka tugal di pematang ini memang sangat kecil, tetapi masih cukup untuk benih bagi seluruh petak sawah tersebut. Sebelum padi dipanen, biasanya mereka sudah memanen kedelai untuk bahan benih tersebut. Hingga selesai panen padi, benih kedelai tersebut bisa langsung ditebar di lahan sawah.

Tidak semua lahan sawah bisa ditanami kedelai dengan hasil baik. Sawah yang bisa ditanami kedelai adalah, lahan yang sudah terbiasa digunakan untuk budi daya kedelai. Sebab kedelai hanya bisa berproduksi baik kalau di lahan tersebut ada bakteri Rhizibium. Bakteri ini akan hidup pada bintil akar kedelai, dengan fungsi utama untuk menyerap nitrogen langsung dari udara tanah, dan menyimpannya dalam bintil akar tersebut. Sawah yang belum pernah ditanami kedelai, memerlukan inokulasi bakteri Rhizobium. Benih bakteri ini bisa dipesan di toko-toko pertanian, IPB atau fakultas pertanian di perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, tingkat kemasaman lahan juga perlu diperhatikan. Kalau kemasamannya cukup tinggi, maka lahan perlu diberi kapur pertanian atau dolomit. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s