NASIB ORGANISASI PERUNGGASAN

Ada dua macam unggas. Pertama unggas penghasil daging dan telur untuk dikonsumsi manusia. Unggas kategori ini adalah ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, itik pedaging, itik petelur, puyuh, kalkun, itik manila (entog), walet, merpati potong dan angsa. Meskipun merpati dan angsa juga lebih sering difungsikan sebagai unggas hias. Para pengusaha unggas konsumsi ini antara lain tergabung dalam GAPPI (Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia). Lembaga ini  lebih banyak didominasi oleh pengusaha besar, terutama perusahaan benih, pakan dan obat-obatan unggas.

Jenis unggas berikutnya adalah unggas peliharaan (pets). Masuk dalam kategori ini adalah ayam kate, serama, bekisar (silangan ayam hutan hijau dengan ayam lain), pelung, ayam mutiara, merak, angsa, perkutut, burung ocehan, burung paruh bengkok, merpati. Para hobiis unggas ini tergabung dalam beberapa organisasi. Penggemar perkutut bergabung dalam P3SI (Persatuan Penggemar Perkutut Seluruh Indonesia). Penggemar burung ocehan punya PBI (Pelestari Burung Indonesia). Pehobi Ayam serama terwadahi dalam P2ASI (Persatuan Pelestari Ayam Serama Indonesia).

Ayam bekisar bernaung di bawah KEMARI (Keluarga Penggemar dan Pelestari Ayam Bekisar).  Ayam pelung punya wadah HIPPAP (Himpunan Penggemar dan Pelestari Ayam Pelung. Penggemar merpati (burung dara), punya dua lembaga. Merpati balap tergabung dalam  PPMBSI (Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonesia). Merpati pos terwadahi dalam POMPSI (Persatuan Olahraga Merpati Pos Seluruh Indonesia). Sebenarnya masih ada beberapa organisasi, baik yang menangani unggas konsumsi, maupun unggas hias. Baik yang bersifat lokal, Nasional, bahkan yang berafiliasi dengan organisasi serupa di tingkat internasional.

# # #

Kalau disimak, sebenarnya lebih banyak lembaga yang mengurus unggas peliharaan dibanding dengan lembaga yang menangani unggas konsumsi. Sejak merebaknya flu burung pada awal tahun 2000 an, bisnis unggas peliharaan juga mengalami tingkat kelesuan yang luarbiasa. Kebetulan ketika itu sedang booming ikan louhan. Hingga untuk sementara unggas memang tidak terlalu naik daun. Namun ketika itu pun sebenarnya penggemar ayam serama sedang mulai tumbuh di Indonesia. Kagiatan kontes (konkurs) perkutut dan burung ocehan juga dilaksanakan di mana-mana.

Ketika itu, flu burung memang belum menjadi isu yang menakutkan di Indonesia. Meskipun di Hongkong, RRC dan Thailand, penyakit unggas ini sudah mulai menjadi masalah. Ketika itu, yang terjadi di Indonesia baru perang pernyataan antara pihak yang percaya bahwa kasus flu burung sudah terjadi di Indonesia, serta pihak yang tidak percaya adanya flu burung. Bukti adanya kasus flu burung, baik yang menyerang unggas, maupun yang terjadi pada manusia, baru diketemukan akhir tahun 2004 dan awal 2005. Anehnya, ketika itu di Tangerang, Banten, yang dimusnahkan oleh aparat pemerintah juga termasuk ternak babi. Bukan hanya unggas. Kalau babi dianggap sebagai vektor, sebenarnya masih banyak ternak lain seperti domba, kambing, anjing dan kucing.

Faktor cuaca akibat pergantian musim, tampaknya juga ikut berpengaruh terhadap merebaknya kasus flu burung. Akhir tahun 2006 dan awal 2007, kasus flu burung yang menyerang unggas maupun manusia, lebih sering terdeteksi, dibanding pada pertengahan tahun. Kasus ini bukan hanya terjadi di pedesaan atau kawasan urban, melainkan juga di metropolitan. Hingga muncullah rencana Pemerintah DKI, untuk mengeluarkan larangan memelihara unggas di kawasan pemukiman bagi warga DKI. Unggas hias seperti burung dan ayam serama, boleh dipelihara di dalam rumah, asal dilengkapi dengan sertifikat. Namun ketentuan adanya sertifikat ini, dianggap oleh masyarakat sebagai membuka peluang korupsi di kalangan aparat Pemda.

Lagi pula, yang dimaksud sebagai unggas hias itu apa saja. Kalau disebut burung, burung apa saja. Kalau ketentuannya burung boleh dipelihara di kawasan pemukiman asalkan ada sertifikat, apakah burung unta dan kasuari juga boleh dipelihara di sekitar rumah? Kalau ayam dianggap sebagai unggas konsumsi, lalu bagaimana dengan ayam pelung, bekisar, ayam mutiara, merak dan lain-lain, yang selama ini selalu dipelihara di sekitar bahkan di dalam rumah. Bagaimana pula dengan angsa? Bukankah lazim memelihara angsa dan itik manila (entog) di kolam taman di sekitar rumah? Gubernur DKI Sutiyoso sendiri, kabarnya juga punya banyak koleksi perkutut, burung ocehan, merpati dan ayam. Sekarang, aneka unggas itu bersih dari rumah dinas maupun rumah pribadi gubernur DKI, karena dititipkan (diurus) oleh salah seorang Kepala Dinas.

# # #

Dikotomi antara unggas hias dan unggas konsumsi, sebenarnya juga tidak tepat. Dilihat dari sisi konsumen, memang ada perbedaan antara membeli perkutut dengan ayam kampung. Perkutut dibeli untuk dipelihara dan didengarkan irama “manggungnya”. Sementara ayam kampung dibeli dari pasar untuk dipotong. Bahkan merpati ada tiga macam. Hommer King dibudidayakan sebagai merpati potong. Masih ada lagi merpati balap (merpati kampung), dan merpati pos, yang dipelihara untuk tujuan kontes serta olahraga. Meskipun perkutut, burung ocehan, bekisar, dan merpati balap dipelihara bukan untuk dimakan daging serta telurnya, tetapi penangkarannya tetap sama dengan unggas lain.

Breeding farm ayam potong, ayam petelur, merpati balap, maupun perkutut, sama-sama bersifat massal. Meskipun breeding farm ayam potong dan ayam petelur pasti jauh lebih massal dari unggas hias. Namun bagi virus H5N1 yang menyebabkan penyakit flu burung, breeding farm kecil dan besar, unggas konsumsi maupun pets, tetap sama-sama beresiko untuk terinveksi. Hingga bagi kalangan penangkar, tidak perlu adanya dikotomi antara unggas hias dan unggas konsumsi. Bagi pemeliharanya, sebenarnya malahan lebih jelas lagi. Tidak mungkin di kawasan DKI Jakarta memelihara ayam potong. Jadi kalau ayam potong dibawa ke Jakarta, tujuannya jelas untuk dipotong dfan bukan sebagai pets. Sebaliknya memelihara perkutut dan bekisar, memang harus di sekitar rumah. Tidak mungkin diungsikan jauh di luar kawasan pemukiman.

Untuk itulah sebenarnya berbagai organisasi perunggasan itu harus berjuang, memberi masukan kepada pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Hati-hati menangani flu burung memang sangat perlu. Tetapi kalau segera mengeluarkan peraturan tanpa mendengarkan pihak-pihak yang tahu betul permasalahannya, akibatnya bisa menyusahkan orang banyak. Ada baiknya pemeritah pusat maupun daerah mengundang organisasi-organisasi perunggasan, untuk menerima masukan. Sebab para pedagang burung di Pasar Pramuka misalnya, sudah mulai keberatan dengan istilah flu burung. “Kalau selama ini yang terserang flu hanya ayam, mengapa disebut flu burung? Mengapa bukan flu ayam saja?” (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s