MENINJAU ULANG BISNIS PERUNGGASAN KITA

Merebaknya flu burung hingga sampai menewaskan korban manusia, mau tidak mau memaksa kita untuk meninjau ulang kebijakan bisnis perunggasan. Kalau kita bicara bisnis perunggasan, maka yang paling dominan hanyalah agroindustri ayam broiler (ayam pedaging), dan agroindustri ayam layer (ayam petelur). Jarang kita menyadari bahwa masih ada ayam kampung, puyuh, itik petelur, itik pedaging, (itik manila, itik peking), bahkan kita lupa bahwa kalkun juga merupakan sumber daging unggas yang potensial. Sebab selama ini, masyarakat kita sudah terlanjur dininabobokkan oleh ayam ras.

Sebenarnya, agroindustri ayam pedaging dan petelur, baru diawali pada tahun 1970an. Tetapi pertumbuhannya memang luarbiasa. Ketergantungan kita pada benih, pakan dan obat-obatan impor juga sangat tinggi. DOC memang sudah kita produksi sendiri. Bahkan benih parent stock (ayam induk), juga sudah diproduksi di Indonesia. Namun benih grand parent, masih harus diimpor. Terutama jenis-jenis strain baru. Sebab grand-grand parent yang sudah dilepas ke breeder kita, biasanya sudah sangat ketinggalan jaman. Selain benih, pakan pun kita masih harus impor.

Komponan pakan unggas adalah jagung kuning, dedak, bungkil, tepung casava (tepung gaplek), dan tepung ikan. Tepung ikan sebenarnya adalah udang renik yang terdapat melimpah di perairan Pasifik Tenggara, pada musim-musim tertentu. Udang ini tinggal menjaring dalam volume yang luarbiasa, mengeringkannya sebentar dan menggilingnya. Kandungan protein udang renik ini sangat tinggi, dan kandungan lemaknya sama sekali tidak ada. Sampai sekarang, belum ada alternatif pengganti tepung ikan yang lebih unggul dari jenis udang renik ini.

# # #

Namun ketergantungan dunia perunggasan kita pada bungkil, mestinya harus segera diatasi. Bungkil yang hampir 100% kita impor, merupakan bungkil kedelai, yang sebenarnya terlalu mahal untuk dikonsumsi unggas. Sebab di Indonesia, kedelai adalah bahan utama tahu, tempe dan kecap, yang merupakan menu penting bagi masyarakat paling banyak. Alternatif pengganti kedelai ini cukup banyak di kawasan tropis. Antara lain yang paling siap untuk dikembangkan adalah kecipir dan koro benguk. Sistem budidayanya, bisa sekalian dijadikan sebagai cover crops di perkebunan.

Meskipun tidak terlalu besar, impor jagung untuk pakan unggas, sebenarnya juga keterlaluan. Itulah sebabnya upaya Pemprov Gorontalo untuk secara serius menangani jagung, pantas untuk kita puji. Jagung sebenarnya dengan mudah kita produksi bukan hanya untuk kepentingan sendiri, melainkan juga untuk ekspor. Terlebih, sekarang ini jagung AS banyak diserap untuk bahan bakar (ethanol). Sekarang ini, harga kedelai pun ikut-ikutan naik pula, sebab para petani AS menjadi lebih tertarik membudidayakan jagung sebagai bahan bakar alternatif, dibanding dengan kedelai.

Dengan kondisi seperti ini sebenarnya posisi bisnis perunggasan kita sangat rapuh. Terlebih, mengingat bahwa pelaku utama perunggasan kita, merupakan perusahaan multinasional. Mereka hanya akan melihat profit, tanpa memikirkan kepentingan masyarakat luas Indonesia. Pemerintah, dalam menata bisnis perunggasan kita, juga cenderung sangat penurut dalam menghadapi para pelaku perunggasan besar. Bahkan dalam pemerintahan Megawati, dua menteri kita saling berebut menggolkan kebijakan mereka, demi kepentingan masing-masing.

Menteri Pertanian anti impor paha dan sayap ayam beku dari AS, dengan dalih melindungi peternak kita. Menteri ini jelas sudah menerima instruksi dari para importir pakan dan benih ayam. Di lain pihak, menteri perdagangan pro untuk impor paha dan sayap beku dari AS. Sebab bisnis ini memang sangat menjanjikan keuntungannya. Di AS, dua komoditas ini merupakan limbah, sebab rakyat AS hanya mau makan dada ayam. Karena pemerintah kita seperti ini, komoditas unggas lain hampir tidak pernah tersentuh kebijakan.

# # #

Kebijakan utama untuk mengubah struktur bisnis perunggasan, sebenarnya terletak pada kelembagaan dan penyaluran kredit. Pemerintah, juga LSM Indonesia, selama ini tidak pernah iklas untuk benar-benar memperkuat kelembagaan peternak. Akibatnya, yang berkembang hanya perusahaan besar, dengan bisnis utama ayam pedaging dan petelur. Bisnis ayam kampung, puyuh, itik petelur, itik pedaging, kalkun dan angsa, sama sekali tertinggal. Sebab bisnis ini tidak layak dikerjakan oleh perusahaan besar, tetapi peternak kecil tidak pernah diberi fasilitas untuk mengembangkan komoditas ini.

Ternak itik misalnya, sebenarnya punya potensi yang luar biasa. Sebab kita tidak perlu impor grand-grand parent. Pakannya juga bisa diproduksi oleh masyarakat sendiri. Potensinya sebagai penghasil telur serta daging bisa sangat sejalan. Sebab itik betinanya menghasilkan telur, sementara itik jantannya akan menjadi pedaging. Kalau kelembagaan peternak itik ini ada yang berkembang, misalnya di Kalsel, Brebes, Tegal dan Mojokerto, itu semua karena usaha para peternak sendiri. Kalau toh ada campur tangan pemerintah, masih sebatas dari Pemprov/Pemkab.

Flu burung, sama halnya dengan wabah sapi gila di Inggris, sebenarnya akibat dari kerakusan dunia peternakan modern. DOC jantan yang seharusnya diafkir (dibuang), di kalangan perusahaan peternakan, langsung dimasukkan ke dalam penggilingan pakan hidup-hidup demi penghematan. Di Inggris, tulang dan limbah RPH lainnya juga digiling untuk diberikan kepada ternak ruminansia. Padahal, limbah unggas, mestinya diberikan ke ikan. Dan sebaliknya limbah ikan ke unggas. Ternak ruminansia, idealnya tidak diberi protein hewani. Sebab di alam aslinya, sapi dan domba juga bukan makhluk karnifora.

Yang selama ini disebut sebagai flu burung (Avian Influensa, AI); adalah virus influensa sub tipe H5N1, yang hanya bisa berjangkit di kalangan unggas. Namun ternyata H5N1 juga bisa berjangkit ke manusia. Sampai sekarang para ahli masih belum mendeteksi adanya interaksi antara virus H5N1, dengan virus Human Influensa (HI) tipe B maupun C, dan membentuk sub tipe baru. Namun peluang untuk terciptanya virus sub tipe baru yang disebut sebagai antigenic shift ini, tetap bisa terjadi. Dan virus baru ini sangat berpeluang untuk menular dari unggas ke manusia, dan dari manusia ke manusia. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s