KELINCI SEDANG NAIK DAUN?

Beberapa kali saya diajak teman untuk memulai bisnis kelinci. Kata teman ini, belakangan ternak kelinci sedang naik daun. Buktinya, sekarang daging kelinci digerai di pasar swalayan papan atas. Benarkah beternak kelinci punya prospek cukup baik pada waktu mendatang ? (Suratman – Jakarta)

Anda benar! Belakangan ini, kelinci seperti sedang naik daun. Dulu, pada awal tahun 1980an, Presiden Soeharto pernah mendatangkan kelinci unggul dari Negeri Belanda, untuk dikembangkan bagi pemenuhan gizi rakyat kecil. Upaya ini gagal. Ketika itu rakyat kecil ingin makan telur dan daging ayam. Bukan daging kelinci. Belakangan ini, yang mengonsumsi daging kelinci bukan rakyat miskin, melainkan masyarakat menengah ke atas. Sejak isu flu burung merebak, masyarakat papan atas mencari alternatif daging yang aman, lezat, tetapi tetap rendah kolesterol.

Daging kelinci memenuhi semua persyaratan itu. Beternak kelinci juga sangat sederhana, tanpa perlu benih final stock (benih akhir), parent stock (induk), grand parent stock (nenek), dan grand-grand parent stock (buyut); seperti halnya pada budi daya ayam ras. Benih kelinci bisa diproduksi sendiri di dalam negeri, melalui proses pemuliaan. Pakan kelinci juga cukup hanya rumput, limbah pertanian, bahkan juga sayuran dan kulit buah limbah dapur. Beda dengan ayam ras yang bahan utama pakannya berupa jagung (swasembada), bungkil (impor), dan tepung ikan (impor).

Masih ada kelebihan kelinci dibanding dengan ayam ras, yakni ternak ini juga menghasilkan kulit dan bulu. Hasil utama kelinci Rex, malahan berupa bulu dan kulit. Hingga dagingnya hanya akan menjadi hasil sampingan. Dengan hitung-hitungan bisnis sederhana, bisa segera terlihat bahwa hasil beternak kelinci bisa lebih tinggi dibanding dengan ayam, termasuk ayam ras. Namun seperti halnya ayam ras pedaging, kelinci juga hanya bisa diternak di dataran menengah (300 – 400 m dpl), sampai dataran tinggi (2.000 m. dpl). Budi daya kelinci di sekitar Jakarta misalnya, masih dimungkinkan, asalkan jenis yang dipelihara toleran terhadap udara panas.

Populasi kelinci juga sangat cepat. Dalam jangka waktu satu tahun, kelinci mampu beranak antara dua sampai tiga kali. Sekali beranak antara 4 sampai dengan 8 ekor. Hingga tanpa pengendalian yang tepat, kelinci justru akan menjadi malapetaka. Hal ini terjadi di Australia. Awalnya, kelinci didatangkan ke benua ini dari Eropa, hanya untuk hewan piaraan. Ketika lepas ke alam, kelinci berbiak dengan sangat cepat, hingga sekarang justru menjadi hama. Kelinci memakan rumput dengan sangat rakus, hingga menghabiskan cadangan pakan sapi serta domba di negeri kanguru ini.

Idealnya kelinci dipelihara dalam kandang panggung, dengan lantai terdiri dari bilah-bilah bambu, agar kotoran serta airnya bisa langsung terbuang. Di bawah kandang panggung dibentangkan plastik, dengan bagian tengah agak melengkung ke bawah, serta bagian ujung yang satu lebih tinggi dari ujung satunya lagi. Maksudnya agar kotoran serta urine jatuh ke plastik ini, lalu mengalir ke ember penampungan. Kotoran dan urine kelinci adalah pupuk dengan kadar nitrogen (N) sangat tinggi. Karena terlalu keras akibat tingginya kandungan N menggunaan pupuk kotoran kelinci, harus terlebih dahulu dicampur dengan air.

Dalam kandang panggung  ukuran panjang 1,5, lebar 1 m, tinggi tiang 1 m, dan tinggi kandang 1 m, bisa dipelihara dua induk, dengan satu pejantan. Dua induk itu perlu dibuatkan kotak untuk beranak. Setelah induk bunting, pejantan sebaiknya dipisahkan di kandang tersendiri. Demikian pula dengan anak-anak kelinci yang sudah disapih, ditaruh dalam kandang terpisah. Untuk beternak kelinci dengan sekitar 10 induk, selain diperlukan kandang untuk induk, juga kandang pembesaran anak, yang jumlahnya harus terus disesuaikan dengan populasi kelinci.

Beternak kelinci, sebenarnya sangat sederhana. Untuk keperluan bisnis, faktor pemasaran justru menjadi lebih penting. Meskipun trend makan daging kelinci mulai marak di masyarakat, tetapi untuk masuk ke pasar tersebut tidak mudah. Sebab pasar yang sekarang ini ada sudah dalam kondisi stabil. Peningkatan permintaan, masih bisa dilayani oleh para peternak yang selama ini memasok daging ke pasar tersebut. Hingga siapapun yang akan terjun ke bisnis kelinci, harus membentuk dan mengembangkan pasar sendiri. Tanpa itu, kemungkinan gagal akan sangat tinggi.

Sebenarnya, yang peluangnya masih terbuka sangat lebar justru pasar kulit dan bulunya. Permintaan kulit berikut bulu kelinci, saat ini selalu lebih tinggi dari pasokan. Hingga sebaiknya, peternakan kelinci lebih diarahkan ke sana. Lalu bagaimana dengan dagingnya? Kalau Anda beternak kelinci dalam skala besar, cobalah menghubungi Kebun Binatang, Taman Safari, atau peternakan buaya. Mereka akan menampung daging kelinci Anda, berapa besarpun volumenya. Tentu dengan harga di bawah pasar swalayan. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s