KIAT BARU BISNIS DURIAN

Dari bulan Januari 2007 silam, di kakilima Jakarta, mulai banyak dijajakan buah durian. Di sekitar Jakarta, sebenarnya tidak tidak ada kebun durian skala komersial dalam luasan cukup. Namun  sepanjang tahun selalu saja ada durian yang dipasarkan di kota metropolitan ini. Puncaknya pada bulan Desember sampai dengan April. Pada periode ini durian akan dijumpai dalam volume melimpah, sebab pada bulan-bulan itulah terjadi musim durian di Jawa, khususnya di sekitar Jakarta. Pada bulan Juli sampai dengan November, yang beredar di Jakarta adalah durian Aceh dan Sumut. Sementara pada bulan Mei sd. Juli, yang merajai pasar durian Monthong dari Thailand.

Salah satu kelemahan bisnis durian di Indonesia adalah, tidak ada kepercayaan dari konsumen, karena mereka sering tertipu. Durian yang sepintas tampak utuh, sesampai di rumah dan dibuka ternyata busuk atau sebagian sudah rusak dimangsa penggerek buah. Durian yang di kakilima baunya sangat harum, ketika tiba di rumah dan dibuka, ternyata masih mentah atau malahan masih sangat muda, hingga rasanya hambar. Membeli durian monthong eks Thailand di pasar swalayan pun, juga perlu perhatian ekstra. Sebab durian yang sudah dikupas dan dikemas dalam wadah stereofoam, rasanya sering hambar dan tidak ada aromanya sama sekali.

Pasar durian di Indonesia, memang masih belum tertata dengan rapi. Beda dengan di Bangkok, Thailand. Di sana, para pedagang durian akan memandu pembeli, termasuk turis dari Indonesia.  Mereka tidak ingin terjadi salah informasi. Misalnya, pedagang durian kupas dalam kemasan stereofoam di kakilima, akan selalu mengatakan bahwa durian tersebut sudah kadaluwarsa. Sebab orang Thailand, mengkonsumsi durian dalam kondisi mengkal. Kalau pedagang itu menghadapi pembeli Indonesia, maka dia akan mengatakan bahwa durian tersebut memang “Indonesian taste”. Di Thailand, durian yang sudah empuk akan masuk ke industri lempok.

# # #

Di Pasar Induk Thalad Thai di Bangkok pun, pelancong dari Indonesia tidak akan pernah tertipu. Sebab pedagang di sana sudah tahu selera Indonesia. Mereka akan selalu bertanya: “Indonesian taste, or Thai taste?”. Kalau kita bilang Indonesia, maka mereka akan menyodorkan Chanee, Karnyou atau Kradum Tong yang sudah benar-benar masak, yang bagi mereka merupakan durian afkir. Jarang mereka menyodorkan Monthong meski sudah kelewat masak, sebab rasa manisnya tidak akan sebaik Chenee, atau Karnyou. Di Thailand, pedagang durian memang tidak pernah menipu.

Para pedagang durian di kalilima Jakarta, lalu menciptakan kiat baru. Pedagang yang jujur, menganjurkan pembeli untuk lengsung membuka dan memakan durian yang merek pilih, langsung di tempat. Perjanjiannya, kalau tidak manis, mentah, atau busuk, tidak dimakan dibayar, dan juga tidak perlu dibayar. Namun pedagang yang masih mau menipu, akan mengemas durian rusak, busuk dan mentah (muda), dicampur dengan durian kualitas baik. Kiat ini banyak dilakukan di tepi jalan tol, dan juga di jalan-jalan raya di luar kota. Mereka yang berani membeli durian kemasan untuk dibawa pulang, akan kecewa berat, sebab sebagian besar sudah rusak, busuk, tawar atau mentah. Klaim pasti sulit dilakukan, sebab pembelinya berasal dari jauh.

Para pedagang yang tidak jujur ini juga sering menipu pembeli amatiran, atau pendatang baru, dengan membujuk untuk memilih durian yang mentah, busuk atau ada cacat lainnya. Kiat yang mereka lakukan adalah, apabila ada durian yang ujungnya sudah merekah, tanda sudah terlalu masak, rekahan itu akan ditutup kembali dan direkatkan dengan bantuan lidi bambu. Hingga seakan-akan durian itu sudah masak dan masih tertutup rapat. Sebab durian yang sudah merekah ujungnya, isinya akan berasa masam, atau malahan sudah membusuk.

Kiat yang pedagang mengelabuhi pembeli agar mau membeli durian mentah adalah, dengan mengoleskan durian matang ke bagian kulit durian mentah itu. Demikian pula halnya kalau kita akan mencicipi. Bahkan sekarang, banyak penjaja durian yang berbekalkan esense durian. Sebab sekarang esense durian mudah dibeli di pasar atau warung, dengan harga yang sangat murah. Pedagang yang mencari untung dengan cara menipu pembeli seperti ini, sekarang jumlahnya sudah banyak berkurang. Sebab pembeli akhirnya juga makin pintar, dan banyak tahu kiat pedagang yang akan menipunya.

# # #

Selama ini, pedagang durian selalu menjual dagangan mereka dengan cara tawar menawar. Tampaknya konsumen juga mulai enggan untuk melakukan tawar-menawar dengan pedagang. Hingga sekarang muncul kiat baru menjual durian, dengan cara memasang harga. Di kakilima Jakarta, sejak beberapa bulan terakhir ini banyak pedagang yang memilah-milah durian mereka dan memberinya harga Rp 5.000,- sd. Rp 7.500,- Cara ini diadopsi dari para pedagang apel, jeruk, dan pir, yang menjual dagangan mereka secara kiloan maupun bijian. Beda dengan di pasar swalayan, para pedagang kakilima, masih belum mau memasarkan durian mereka secara kiloan.

Kelebihan menjual durian secara bijian dengan harga pas adalah, pembeli tetap bisa memilih. Sementara durian yang sudah dikemas beberapa butir dalam satu paket, tidak bisa dipilih lagi. Satu paket itu harus dibeli semua. Kiat baru ini, cukup menguntungkan konsumen durian kelas bawah. Sebab hanya dengan uang Rp 10.000,- mereka sudah bisa membawa pulang durian dua butir durian yang benar-benar masak dan enak. Dengan cara ini pun, pedagang masih untung, sebab di tingkat petani, durian dibeli secara borongan. Bahkan di Sumsel dan Lampung, durian limaribuan ini, bisa dibeli dengan harga hanya Rp 2.000,- per butir.
Bisnis durian sebenarnya cukup menarik. Namun selama ini kita belum pernah punya kebun durian dalam skala komersial yang luasnya memadai. Kebun-kebun durian yang dikelola secara profesional, luasnya masih sebatas di bawah 100 hektare. Hingga durian yang dipasarkan di Indonesia, selama ini masih berasal dari kebun rakyat yang sama sekali tidak dirawat. Jenis duriannya pun masih sangat beragam. Hingga pedagang harus menggunakan berbagai kiat untuk memasarkan produk mereka. Termasuk kiat menjual eceran dengan harga lima ribuan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s