PROSPEK SEKTOR AGRO 2007

Tiap awal tahun, pelaku bisnis selalu bertanya-tanya: Bagaimana prospek bisnis tahun 2007 ini? Para pelaku bisnis agro akan mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik: Bagaimana peluang bisnis agro pada tahun 2007 ini? Pertanyaan demikian wajar diajukan. Sebab masing-masing tahun punya karakter tersendiri. Kebijakan pemerintah tentu sangat menentukan prospek bisnis di segala sektor. Hingga ramalan tentang prospek bisnis, selalu dilakukan dengan memprediksi, kebijakan apa saja yang akan dikeluarkan pemerintah selama 2007 ini?

Khusus bisnis agro, jawabab dari pertanyaan tersebut tidak hanya terkait dengan kebijakan pemerintah. Kondisi alam pun akan ikut menentukan sukses tidaknya bisnis agro pada tahun ini. Musim penghujan yang datang terlambat pada tahun 2006, akan sangat menentukan bisnis agro tahun 2007. Demikian pula datangnya banjir di beberapa kawasan, angin puting beliung yang melanda sebagian tanahair, dan juga tanah longsor. Musim kemarau 2007 juga akan sangat menentukan bisnis agro. Kalau kemarau berjalan normal dari April sampai Oktober, maka bisnis agro akan normal pula.

Kadang-kadang juga ada hal yang lebih spesifik lagi. Apakah sepanjang tahun 2007 ini nanti akan banyak tokoh nasional yang mantu, naik pangkat, memperoleh penghargaan, bahkan meninggal dunia. Sedikit banyaknya peristiwa seperti ini, akan sangat menentukan omset bisnis bunga. Pernah pada suatu tahun, para petani bunga di Bandungan mengeluh karena pasar lesu. Kemudian pada waktu yang sangat berdekatan, ada beberapa tokoh nasional yang meninggal dunia. Petani dan pedagang bunga langsung menikmati hasil panen mereka.

# # #

Pertanyaan yang diajukan oleh kalangan awam, biasanya langsung menyangkut satu komoditas. Tanaman apa yang akan menguntungkan pada tahun 2007 ini nanti. Apakah jarak, aglaonema, sawit, atau nanti akan ada tanaman ajaib lain yang tiba-tiba mencuat dan menjadi primadona? Pertanyaan klasik seperti ini, mengisyaratkan bahwa masyarakat tidakpernah mau belajar. Kita pernah tertipu dengan komoditas jangkrik, cacing, pisang abaca, pace, dan lain-lain, tetapi masih selalu berharap akan ada komoditas ajaib yang bisa membuat orang cepat kaya.

Tahun 2007, memang belum bisa membuktikan bahwa jarak akan mendatangkan kesengsaraan petani. Sebab demam tanaman jarak baru dimulai tahun 2006. Paling cepat, jarak yang ditanam tahun 2006 tersebut baru akan mulai dipanen hasilnya tahun 2008. Ketika itulah petani akan kecewa, sebab hasilnya tidak pernah seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Produktivitas jarak, hanya akan berkisar sekitar 1,5 ton minyak per hektar per tahun, dengan harga yang harus di bawah Rp 4.200,- per liter (harga solar). Fakta inilah yang selama ini selalu disembunyikan oleh para promotor jarak.

Pelaku agro sejati, tidak pernah tertarik dengan “komoditas ajaib” seperti ini. Mereka akan selalu setia dengan komoditas yang sudah puluhan tahun mereka geluti. Seorang petani jeruk nipis, mengatakan bahwa ketika harga komoditas ini hanya Rp 250,- per kg. pun, dia tetap memanen dan mamasok ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta. Sebab suatu ketika nanti, harga jeruk nipis akan menjadi Rp 250,- per butir, atau di atas Rp 10.000,- per kg. Karena ia sudah puluhan tahun menjadi petani jeruk nipis, maka perangai pasar ini sudah sangat ia pahami. Kalau dihitung selama setahun penuh, ia masih untung.

Para petani kol di kawasan penghasil sayuran, juga akan tetap menanam kol, berapapun harganya. Sebab hanya dengan cara seperti inilah mereka bisa meraih keuntungan sebagai petani kol. Mereka tidak pernah mengimpikan adanya komoditas ajaib yang serba hebat. Konsistensi seperti ini, tampaknya bisa mengatasi permasalahan harga, yang sebenarnya hanya merupakan akibat dari hukum pasar. Kalau suplai lebih besar dari permintaan, maka harga akan jatuh. Kalau suplai lebih kecil dari permintaan maka harga akan melambung tinggi.

# # #

Dalam kondisi yang sudah sangat mengglobal seperti sekarang ini, pengaruh kebijakan pemerintah negara lain juga ikut menentukan prospek bisnis agro. Ketika pemerintah Taiwan mengeluarkan peraturan ketat soal impor buah, maka petani Indonesia, Malaysia, Filipina, dan terutama Thailand, sangat terpukul. Kalau bencana kekeringan atau banjir melanda suatu negara, maka negara yang cuacanya bagus akan memetik rejeki. Tiap bulan September, Oktober dan November, taifun secara rutin melanda Taiwan. Ketika itulah kol dari Jawa Timur bisa masuk Taiwan dengan mudah.

Dalam menghadapi pasar komoditas agro yang sudah sangat mengglobal, petani Indonesia harus memperhitungkan pula kondisi global tersebut. Yang harus diperhatikan bukan sekadar masalah cuaca global, melainkan juga berbagai ketentuan WTO maupun FAO. Baik menyangkut standar mutu, subsidi, tarif maupun kebijakan lainnya. Para titik ini, para petani kita sangat lemah. Kelemahan ini, terutama disebabkan oleh belum adanya kelembagaan petani yang benar-benar kuat, yang berafiliasi dengan kelembagaan serupa di tingkat internasional.

Yang juga menjadi kendala bagi bisnis agro di Indonesia adalah masalah off farm. Bisnis agro di Indonesia, sangat tidak efisien bukan karena faktor on farm, melainkan off farmnya. Para petani sudah berusaha keras agar produk yang mereka hasilkan bisa diserap pasar dengan harga serendah mungkin. Namun biaya transportasi dan terutama biaya silumannya menjadi sangat tinggi, hingga harga yang harus dibayar konsumen menjadi terlalu besar. Hal seperti ini, hanya bisa diatasi kalau kelembagaan petani bisa dibentuk, dan bisa berfungsi untuk mengurus kepentingan petani. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s