MENGAPA HARGA BERAS MERAYAP NAIK?

Sejak beberapa bulan September silam, harga beras pelan-ela merayap naik. Kenaikan paling tinggi terjadi menjelang Idul Fitri. Biasanya setelah Idul Fitri, harga akan kembali turun. Namun kali ini, setelah Idul Fitri lewat, harga baras justru terus naik. Harga beras kualitas sedang yang sebelumnya Rp 3.800,- sekarang sudah Rp 4.000,- per kg. Padahal sebelum September, harga beras serupa masih Rp 3.500,- Bahkan sebelum kenaikan BBM tahun 2005, harga beras kualitas sedang masih di bawah Rp 3.000,-

Kenaikan harga beras kali ini, disebabkan oleh dua faktor yang dominan. Pertama, produksi beras sangat dipengaruhi oleh harga pupuk, terutama urea. Urea diproduksi dari gas alam. Kenaikan harga minyak bumi dan gas alam secara global, telah ikut pula menaikkan harga pupuk. Kedua, musim kemarau tahun ini berlangsung cukup panjang, hingga banyak saluran irigasi yang kering lebih awal. Akibatnya, banyak panen gadu (panen musim tanam kedua) yang mengalami kegagalan.

Faktor inilah yang menyebabkan pemerintah, berniat untuk mengimpor beras, sekaligus menaikkan harga eceran pupuk. Biasanya, kebijakan pemerintah yang tidak populer ini, akan segera menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Selama ini, yang paling lantang menentang kebijakan impor beras dan kenaikan harga pupuk, adalah aktivis LSM dan mahasiswa. Dalih mereka adalah membela petani. Padahal kenyataannya, petani tidak pernah menyimpan gabah atau beras mereka.

Sekarang, petani selalu menjual hasil penen mereka langsung di sawah, kepada para tengkulak. Hingga harga beras naik atau turun, tidak akan berdampak langsung kepada petani. Yang akan memperoleh keuntungan atau kerugian dari kebijakan pemerintah, justru para pedagang. Merekalah yang selama ini menyimpan beras para petani. Hingga kenaikan harga beras akibat pupuk naik, tidak pernah bisa dinikmati oleh para petani. Sebaliknya, penurunan harga beras akibat impor, juga tidak merugikan petani.

# # #

Kenaikan harga beras selama lima tahun terakhir, sebenarnya sudah sangat tinggi. Tahun 2001, harga beras kualitas sedang, masih di bawah Rp 2.000,- Harga gabah di tingkat petani, masih bisa jatuh sampai di bawah Rp 800,- per kg. Sekarang, harga beras kualitas sedang sudah Rp 4.000,- per kg. Hingga dalih para pembela petani, bahwa impor beras akan menjatuhkan harga, menjadi tidak terbukti. Tetapi kenaikan harga beras sampai 100% selama lima tahun terakhir, juga tidak bias memakmurkan petani.

Hal ini bisa terjadi, karena naik turunnya harga suatu komoditas, tidak berkorelasi dengan tingkat keuntungan. Bisa saja harga beras jatuh, tetapi petani tetap untung. Sebaliknya ketika harga beras naik, petani justru rugi. Sebab tingkat keuntungan yang bisa diperoleh petani dari suatu komoditas, ditentukan oleh biaya produksi dan harga jual. Semakin efisien biaya semakin tinggi tingkat keuntungan petani. Produktivitas per satuan luas lahan (hektar), per satuan musim tanam, juga tidak berpengaruh ke pendapatan petani.

Misalnya, kalau dari satu hektar lahan sawah yang sebelumnya bisa menghasilkan 4 ton gabah kering, kemudian menjadi 6 ton, pendapatan petani belum tentu naik. Sebab masih harus dipertanyakan, berapa biaya produksi untuk masing-masing hasil panen tersebut. Hingga di AS misalnya, yang dipermasalahkan bukan produktivitas lahan per satuan musim tanam, melainkan berapa US $ seharusnya biaya produksi per kg. gandum, jagung atau kedelai, agar bisa dijual dengan harga pantas ke konsumen.

Untuk itu, petani harus benar-benar menghitung dengan cermat, agar biaya produksi per satuan bobot komoditas, bisa sangat efisien. Sebab petani AS, tidak hanya bersaing dengan sesama petani AS sendiri, melainkan juga dengan petani MEE, Australia, India dan RRC. Hingga petani gandum AS tidak terlalu peduli bahwa produktivitas jagung mereka 8 ton pipilan kering per hektar per tahun. Sebab yang sangat mereka perhatikan adalah, berapa biaya untuk memproduksi tiap kg. jagung tersebut.

# # #

Petani Indonesia masih sangat lemah, dan justru diperlemah oleh pemerintah. LSM selama ini selalu berkampanye bahwa mereka membantu petani melawan pemerintah dan perusahaan multinasional. Padahal LSM pun sebenarnya telah menjadi permasalahan baru bagi petani. Moralitas aktivis LSM yang selama ini membela petani, ternyata tidak jauh berbeda dengan moralitas aparat pemerintah. Petani yang sebelumnya sangat tergantung dengan pemerintah, sekarang menjadi tergantung pada LSM.

Petani padi kita lalu menjadi sangat tidak independen. Petani gandum dan jagung di AS, akan berhenti menanam gandum apabila biaya produksi sudah lebih tinggi dari harga jual. Tetapi Asosiasi Petani Gandum AS akan membujuk petani agar tetap mau menanam gandum. Kalau petani rugi, maka kerugian itu akan ditutup oleh Asosiasi. Bahkan kalau petani gagal panen (puso), maka perusahaan asuransi akan menanggungnya. Hingga praktis, petani tidak pernah dirugikan.

Tetapi hal yang sebalinya juga akan terjadi. Kalau harga sedang baik, petani tetap tidak akan bisa meraih keuntungan yang luar biasa. Bahkan sebagian keuntungan itu akan dipungut oleh Asosiasi, untuk menutup kerugian pada saat harga jatuh. Di Indonesia, petani padi kita masih berpola hidup seperti satu abad yang lalu, sementara sekarang sudah ada pabrik pupuk dan pestisida, yang sangat berkepetingan dengan petani. Hubungan antara petani dengan masyarakat modern, lalu menjadi timpang.

Diperkirakan, kenaikan harga beras ini akan terus berlanjut, bahkan kemungkinan besar akan terjadi krisis pangan. Sebab kemarai tahun 2006, berlangsung sampai dengan pertengahan Desember. Meskipun sejak November sudah mulai ada hujan secara sporadis. Petani baru akan mulai menanam padi paling cepat pada awal Januari. Hingga panen paling cepat akan terjadi pada bulan April 2007. Padahal normalnya, musim tanam akan jatuh pada bulan November dan panen raya terjadi bulan Februari. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s