MEMBANGUN RUMAH WALET

Pulang dari rekreasi di Tanjung Lesung, Kab. Pandeglang, Banten, Sdr. Budi dari Bogor, ingin membangun rumah walet. Di sepanjang jalan Serang Tanjung Lesung, memang  banyak sekali rumah walet. Bisakah burung ini  dipancing datang dengan  rekaman suara walet yang diputar terus menerus?

Sdr. Budi, walet mau tinggal di rumah, asal kondisinya sama dengan kondisi gua. Pertama, ruangan harus gelap 100%. Kedua, langit-langit ruangan harus ada palang-palang beton atau kayu. Pinggiran palang-palang itu akan membentuk sudut 90º dengan permukaan langit-langit. Di sudut itulah walet akan membangun sarang. Rumah-rumah walet yang ada, hampir seluruhnya perluasan atau perbaikan dari rumah tua yang sejak awal sudah dihuni walet. Jarang ada rumah walet yang sengaja dibangun kosong, kemudian kawanan walet masuk dan bersarang.

Populasi walet, sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan. Kalau kawasan itu masih berupa sawah, ladang, perkebunan, hutan dan rawa-rawa, maka populasi walet akan terus meningkat. Sebab populasi serangga juga akan terus naik. Kalau sawah, kebun dan hutan makin ciut, rawa ditimbun, maka populasi seranga akan susut. Akibatnya populasi walet juga akan turun. Pola panen sarang juga akan menentukan populasi walet. Kalau sarang terus-terusan dipanen tanpa menunggu anak walet terbang, maka populasinya akan terus menyusut.

Kalau jelas di sekitar lokasi tadi lingkungan sudah rusak, maka membangun rumah walet merupakan hal yang sia-sia. Tetapi, lingkungan yang sangat mendukung pun, belum memberi peluang pembangunan rumah walet. Sebab bisa saja populasi walet di kawasan itu masih kecil, dibanding kapasitas ruang di rumah walet yang sudah ada. Dukungan lingkungan dan populasi yang cukup pun, belum menjamin rumah walet segera terisi. Sebab walet memiliki kepekaan tinggi, dalam memilih pemukiman baru. Mereka cenderung memilih rumah kuno yang kosong dan gelap. Bukan rumah yang baru dibangun.

Para konsultan walet akan selalu mengatakan, bahwa rumah baru tetap berpeluang tinggi diisi walet. Untuk itu dinding semen yang baru, harus dilumuri kotoran walet. Lantainya juga diberi tumpukan kotoran walet. CD atau DVD suara walet diputar dan lain-lain upaya. Tetapi upaya ini akan sia-sia, kalau lingkungan sudah tidak mendukung dan populasi waletnya juga rendah. Para investor rumah walet, umumnya akan tergiur dengan impian bisa memanen sampai kuintalan sarang. Kalau per kg. bisa laku Rp 15 juta, maka 100 kg. sarang walet, berarti 1,5 milyar rupiah.

Impian untuk punya rumah walet, sebenarnya akan lebih rasional, dengan mengembangkan rumah yang sudah dihuni burung sriti (Collocalia esculenta). Sriti, masih satu famili (Apodidae), dengan walet, beda genus. Walet genus Aerodramus, sriti Collocalia. Ukuran sriti lebih kecil, sarangnya terbuat dari rumput kering dicampur liur, dan harus di tempat terang. Walet (Aerodramus fuciphagus), menghendaki ruangan gelap total, ukuran tubuh lebih besar, dan sarangnya terbuat dari air liur100%. Selain perbedaan itu, penampilan, pola hidup dan makanan mereka persis sama.

Rumah yang sudah dihuni sriti, harganya sangat tinggi. Seberapa tinggi harga rumah sriti, tergantung lokasi dan besarnya populasi burung. Kalau di sekitar  lokasi rumah sriti masih terhampar sawah, perkebunan dan hutan, maka nilai rumah itu akan cukup tinggi. Kalau di sekitarnya kawasan industri, harganya akan lebih rendah. Namun kualitas lokasi ini, jarang menjadi bahan pertimbangan para investor walet. Pokoknya rumah yang sudah ada sritinya akan dibeli dengan harga tinggi. Faktor yang menentukan tingginya harga justru populasi sritinya.

Meskipun sudah ada sriti, membuat rumah walet tetap memerlukan ketrampilan tersendiri. Pertama-tama telur sriti harus diganti dengan telur walet. Telur walet bisa diperoleh dari pemilik rumah walet yang akan memanen sarang dengan sistem rampasan. Telur itu pantang terpegang tangan manusia karena bisa tidak menetas. Setelah telur dierami dan menetas, ada kemungkinan sritinya takut, karena menjumpai ukuran anaknya lebih besar dari dirinya. Pemilik rumah harus menyuapi anak walet itu dengan serangga.

Begitu walet menetas, sebagian ruang tempat sarang sriti harus digelapkan. Di situlah nantinya walet akan bersarang. Tempat sritinya harus tetap dibiarkan terang. Pintu masuk untuk sriti dan walet juga harus dibedakan. Pada tahap awal, sarang walet tidak boleh diambil (dipanen). Kotorannya juga tidak boleh dibersihkan. Setelah populasi walet tambah banyak, harus segera dibangun ruangan atau rumah permanen yang lebih luas. Sdr. Budi, mengembangkan rumah sriti menjadi rumah walet, jauh lebih rasional daripada membangun rumah baru dan menunggu walet datang. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s