KREDIT BAGI PETANI MISKIN

Belakangan ini, kembali terdengar gagasan untuk mengalokasikan kredit bagi petani miskin. Gagasan ini muncul, terutama setelah World Bank, merilis hasil penelitian terhadap kondisi kemiskinan di Indonesia, berjudul “Era Baru dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia”. World Bank memperkirakan, ada sekitar 108,78 juta penduduk Indonesia (49%), yang tergolong miskin, serta rentan menjadi miskin. Selama ini memang ada anggapan umum bahwa masyarakat miskin, terutama petaninya, memerlukan kredit.

Karenanya, sejak awal pemerintahan Orde Baru, sudah bermunculan program kredit bagi petani miskin. Mulai dari kredit Bimas (Mimbingan Massal), Inmas (Intensifikasi Massal), Insus (Intensifikasi Khusus), KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen), KIK (Kredit Investasi Kecil), KUK (Kredit Usaha Kecil), KCK (Kredit Candak Kulak), dan lain-lain. Hasilnya, sebagian besar mengalami kegagalan. Bahkan KUT (Kredit Usaha Tani) yang setelah era Reformasi diluncurkan pun, banyak yang menjadi kredit macet.

Sebagian besar penerima kredit pertanian, adalah petani padi yang rata-rata miskin. Meskipun sudah sejak awal Orde Baru mereka menerima kredit pertanian, tetapi hampir tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Masuknya listrik, sarana informasi, komunikasi, dan transportasi, justru membuat posisi tawar mereka bertambah lemah. Misalnya, dengan masuknya televisi, sepeda motor dan telepon seluler, para petani justru semakin konsumtif. Bukan semakin produktif.

Kredit program massal yang diluncurkan oleh pemerintah Orde Baru, bertujuan utama untuk meningkatkan produksi beras nasional, hingga harganya bisa murah. Sebab pada tahun 1950an dan 1960an, harga beras benar-benar sangat tinggi. Ketika itulah sebenarnya petani padi bisa menikmati hasil panennya. Namun mayoritas rakyat Indonesia kelaparan. Hingga bantuan bulgur dan tepung jagung dari FAO, serta susu bubuk dari UNICEF selalu ditunggu-tunggu masyarakat.

# # #

Selama lebih dari 30 tahun, beras bisa menjadi murah dan terjangkau masyarakat banyak. Di satu pihak, prestasi pemerintah Orde Baru ini memang positif. Namun di lain pihak, ada beberapa faktor yang perlu dilihat dengan sikap kritis. Murahnya harga beras, telah mengakibatkan pangan dari produk non beras menjadi tersisih. Sagu adalah produk pangan asli Asia Tenggara dan Pasifik yang bias diandalkan. Di kawasan timur Indonesia, terutama di Papua, keladi, talas dan ubu jalar juga tersisih oleh beras.

Di lain pihak, kredit program massal telah ikut memicu perilaku korupsi. Sebab kredit program massal tersebut, sebenarnya merupakan upaya massal dari perusahaan multi nasional, untuk memasarkan benih, pupuk, dan pestisida, yang diikuti berbagai manipulasi. Agar bisa masuk ke dalam paket Bimas, perusahaan pupuk dan pestisida, harus menyuap aparat Departemen dan Dinas. Para pengurus KUD dan kepela desa, juga ikut pula korupsi, dengan segala macam cara.

Kredit program massal, sebenarnya juga diikuti oleh pengembangan lembaga. Di tingkat grass root, dibentuklah kelompok tani, yang menerapkan sistem pertanian padi cara baru, dengan bantuan penyuluh pertanian. Juga dibentuk Koperasi Unit Desa (KUD). Tahun 1973, pemerintah juga menyatukan berbagai organisasi petani dalam satu wadah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Namun kelembagaan petani tersebut, lebih berorientasi kepada kepentingan pemerintah. Bukan kepentingan petani.

Kredit untuk petani, sebenarnya paling sehat berupa kredit biasa dari bank. Kendalanya adalah, petani tidak punya koleteral. Atau mereka punya koleteral, namun tidak pernah bersedia untuk menggunakannya sebagai agunan dalam mengambil kredit. Kendala demikian sebenarnya juga terjadi pada para petani di negara maju. Baik di Eropa, AS maupun Jepang. Namun di negara-negara maju ini, petaninya memiliki kelembagaan yang baik. Lembaga inilah yang memberikan jaminan (menjadi avalis) kepada bank.

# # #

Kelembagaan petani di negara maju, selalu berupa kelompok dengan komoditas yang homogen. Petani gandum mengelompok dengan petani gandum, petani jagung mengelompok dengan sesama petani jagung, dan seterusnya. Kelompok tani ini, kemudian menjadi koperasi yang berbadan hukum. Selain itu, untuk berhubungan dengan pemerintah dan pihak luar, para petani membentuk asosiasi. Asosiasi inipun, komoditasnya homogen. Misalnya Asosiasi Petani Gandum.

Hingga di negeri maju, tidak pernah ada kredit program massal. Petani bisa mengambil kredit atau tidak mengambilnya, tergantung ada tidaknya  kebutuhan. Proses pengambilan kredit juga sangat mudah. Sebab data lengkap para petani, juga sudah ada di bank. Hingga dengan membuka file di komputer, bank akan segera tahu, nama petani, alamat lengkap, luas lahan, jenis komoditas, volume panen dan track recordnya. Petani yang bukan anggota kelompok dan koperasi pun, tercatat datanya.

Data inilah yang disebut debagai database pertanian, yang juga tersusun berdasarkan jenis komoditasnya. Manfaat database, bukan hanya sekadar untuk memperlancar penyaluran kredit, melainkan juga untuk mendeteksi, agar produksi komoditas tertentu tidak under atau over. Menskipun sudah terdeteksi dengan database yang online, tetap saja masih bisa terjadi over atau under produksi. Sebab pertanian adalah kegiatan yang masih sangat mengandalkan kemurahan alam.

Akibat faktor alam yang dominan, panen akan melimpah atau sebaliknya gagal. Ketika panen melimpah, ada kemungkinan harga akan jatuh. Ketika itulah koperasi dan asosiasi akan berperanmembantu petani, dengan menutup kerugian petani. namun sebaliknya, kalau harga sdang bagus, koperasi dan asosiasi harus memungut sebagian dari keuntungan petani, untuk disimpan. Dana  inilah sebenarnya yang digunakan oleh koperasi dan asosiasi untuk menutup kerugian, pada waktu harga jatuh. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s