KIAT MENGATASI TINGGINYA HARGA PUPUK

Naiknya harga minyak bumi dan gas alam di pasar dunia, telah berdampak pada naiknya harga pupuk. Terutama pupuk urea, dan ZA (Zwavelzuur Amoniak), yang merupakan pupuk nitrogen (N). Bahan baku nitrogen untuk urea dan ZA adalah gas alam. Kalau harga gas alam naik, harga urea dan ZA juga akan ikut naik. Yang juga pasti naik tetapi kenaikannya tidak terlalu besar adalah pupuk NPK (Nitrogen, Phospat, Kalium). Bahan baku nitrogen pada NPK tetap menggunakan gas alam. Pupuk phospat, bahan bakunya berupa rock phospat (batuan phospat), dan pupuk K (Kalium) berbahan baku logam kalium (potasium).

Untuk memproduksi padi, jagung, gandum dan bahan pangan lainnya, pupuk urea sangat diperlukan. Kebutuhan budidaya padi, jagung dan gandum per hektar per musim tanam antara 1 kuintal sampai 3 kuintal urea, tergantung tingkat kesuburan tanahnya. Urea paling banyak diperlukan tanaman untuk fase pertumbuhan, dan membentuk karbohidrat  (CnH2nOn)). Pada budidaya tebu, N yang diperlukan bukan N pada urea, melainkan N berupa ZA. Hingga kenaikan harga gas alam, selain berpengaruh pada kenaikan harga urea, juga pada ZA. Jadi selain petani komoditas serealia (biji-bijian) petani tebu pun akan terkena imbas kenaikan harga gas alam.

Sebenarnya kenaikan harga pupuk, terutama urea dan ZA, tidak perlu terlalu mencemaskan petani. Asalkan ditempuh langkah-langkah strategis. Selain itu, lahan sawah di Jawa dan Sumetera, terutama di dataran rendah, selama ini sudah sangat tercemar urea. Artinya, kandungan N pada tanah dan terutama air sungai, waduk, rawa dan danau, sudah melempaui ambang batas. Salah satu indikator tingginya pencemaran N pada air sungai, waduk, danau dan rawa adalah, pertumbuhan enceng gondok yang sangat pesat. Hingga dalam waktu singkat perairan rawa atau danau itu akan tertutup enceng gondok.

# # #

Pupuk urea, diciptakan untuk perespon penciptaan padi varietas unggul baru. Padi lokal lama seperti pandanwangi, mentik wangi, rojolele dan lain-lain, bisa dibudidayakan tanpa pupuk urea sama sekali. Padi-padi  verietas unggul baru, akan memberikan hasil optimal, mampu merespon urea, apabila benihnya berupa keturunan F1. Kalau benihnya sudah F2, F3, F4, dan seterusnya, maka respon terhadap urea akan menurun. Hingga hasil per satuan hektar per satuan musim tanam, juga akan menurun. Kalau panen musim yang lalu dengan benih F1 per hektar menghasilkan 4 ton, maka benih dari hasil panen itu (F2) kalau ditanam hanya akan menghasilkan 3,9 ton.

Kalau benih F2 itu dibenihkan lagi hingga menjadi F5, maka hasilnya akan terus menurun. Petani mengira penurunan ini akibat kekurangan urea. Hingga kalau tahun sebelumnya mereka hanya memupuk dengan 1 kuintal per hektar, maka tahun ini ditambah lagi dengan 1,1 kuintal. Demikian seterusnya, hingga ketika yang ditanam benih F5 maka hasilnya sangat rendah.  Meskipun pupuk ureanya sudah mencapai 3 kuintal per hektar. Pola pertanian demikianlah yang mengakibatkan penggunaan urea terus meningkat, tetapi panen tetap rendah. Kalau kita mengharap panen tinggi dengan urea rendah, maka benihnya harus F1 yang terus dibeli dari penangkar benih.

Kalau petani menanam padi lokal, maka benihnya bisa memproduksi sendiri dan tidak akan terjadi degradasi. Sebab mentik wangi, pandan wangi, rojo lele dan lain-lain itu, merupakan varietas yang sifat unggulnya menetap. Beda dengan IR 64 yang sifat unggulnya akan terus menurun kalau dibenihkan kembali. Padi-padi unggul lokal ini, justru akan menolak pupuk urea. Kalau rojolele dipupuk urea, maka rumpunnya akan gemuk-gemuk, sementara padinya biasa saja. Padi pandan wangi yang dipupuk urea, aroma pandannya juga kurang tajam, sementara nasinya akan mudah basi. Hingga padi lokal unggul harus dipupuk dengan pupuk kandang.

# # #

Pupuk kandang merupakan sumber N yang sangat tinggi.  N dalam pupuk kandang, terutama kotoran ternak besar (sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, babi, unta), berasal dari urine (air kencing). Bahkan sebenarnya, kencing manusia pun kaya sekali akan unsur N. Istilah urea sendiri, berasal dari kata urine. Di dalam tubuh manusia dan hewan, makanan, terutama karbohidrat, akan dibakar dengan bantuan oksigen, hingga menghasilkan energi. Hasil buangannya adalah CO2 yang akan dibuang malalui napas kita, serta urea (urine) yang dibuang melalui keringat dan air kencing. Kandungan utama air kencing adalah nitrogen.

Penggunaan urea pabrik secara dalam dosis tinggi secara terus-menerus, juga potensial merusak tanah. Struktur tanah akan menjadi liar ketika basah dan keras ketika kering. Akar tanaman akan sulit bernapas dalam tanah yang sudah teracuni urea sperti ini. Untuk memperbaiki tanah yang sudah teracuni urea, diperlukan bahan organik, misalnya kompos, minimal lima kali lipat pupuk ureanya. Jadi kalau kita menaruh 2 kuintal urea, maka pupuk organiknya perlu 1 ton. Urea dalam pupuk kandang, tidak akan meracuni tanah, karena mudah sekali terurai menjadi N dalam udara. Selain itu, pupuk kandang juga sudah mengandung bahan organik yang sekaligus akan memperbaiki struktur tanah.

Secara ekonomis, membudidayakan padi lokal unggul dengan pupuk kandang, tidak akan kalah dengan budidaya padi varietas unggul baru. Meskipun padi lokal, umurnya sedikit lebih panjang dan hasil panennya juga lebih rendah. Kelebihan budidaya padi lokal unggul adalah tidak perlu membeli benih, juga tidak memerlukan pupuk urea. Namun harga pupuk kandang pun, sekarng tidak kalah mahalnya dibanding urea. Hingga petani memang mutlak harus memelihara ternak. Baik itu kambing, domba, atau sapi. Sebab di Indonesia, penggunaan urine dan tinja manusia untuk pupuk seperti halnya di RRC, masih belum waktunya dilakukan. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s