BENARKAH ALBISIA JADI REBUTAN?

Terprovkasi oleh judul cover story sebuah majalah, Sdri. Isma di Jakarta, menanami tanah orang tuanya yang nganggur di Kab. Magelang, Jateng. Biasanya, komoditas yang dihebohkan majalah tersebut justru sering menipu, misalnya anthurium.  Pertanyaannya, apakah benar albisia jadi rebutan?

Sdri. Isma, sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya akan sedikit menjelaskan tentang albisia. Di Jawa Tengah tanaman ini dikenal sebagai sengon laut, kayu sengon, kayu laut, sengon landi, sengon sabrang, dan kalbi. Di Jawa Barat disebut jeungjing, jengjing atau jeungjing laut. Di Maluku namanya seja  (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Todore). Banyaknya variasi nama albisia di Maluku, bisa dimengerti, sebab ia memang berasal dari sana. Oleh Belanda, albisia dibawa ke Jawa, Asia Tenggara, dan kemudian ke seluruh kawasan tropis di dunia.

Awalnya nama ilmiah albisia adalah  Albizia falcata atau Albizia falcataria. Sekarang dibakukan menjadi Albizia moluccana dengan sinonim Falcataria moluccana. Nama dagangnya Moluccan albizia. Nama Moluccana dan Moluccan, berasal dari kata Molucca (Maluku), tempat asal-usul tanaman ini. Albisia adalah genus, yang terdiri dari sekitar 150 spesies, berupa pohon atau semak. Hampir semua pohon dari spesies albisia, menghasilkan kayu dengan tingkat pertumbuhan sangat cepat,  dan Albizia moluccana merupakan yang paling diunggulkan.

Hingga sebutan albisia, selalu melekat pada Albizia moluccana. Selain pertumbuhannya cepat, batang albisia lurus, bentuknya bulat sempurna, permukaan batang halus dan kayunya tidak berbanir. Sifat batang ini, telah membuat kayu albisia menjadi komoditas perdagangan yang cukup penting. Sampai dengan tahun 1970an, albisia masih merupakan kayu dengan nilai ekonomis sangat rendah. Sebab agroindustri berbahan kayu albisia masih belum ada. Padahal, potensi albisia untuk menjadi kayu olahan sangat besar.

Albisia, terutama merupakan bahan industri kotak kayu ringan, tangkai korek api dan pulp. Meskipun tergolong sebagai kayu tropis, albisia mampu menjadi substitusi pinus sub tropis sebagai bahan pulp. Pulp adalah bubur selulosa untuk bahan kertas. Kayu tropis, termasuk Pinus Merkusii, hanya cocok untuk bahan pulp serat pendek. Yang dimaksud sebagai pulp serat pendek adalah, bubur selulosa yang hanya cocok untuk kertas budaya (HVS, AP, Linen, dll), yang berwarna putih, dan umumnya berupa lembaran yang sudah terpotong dengan ukuran tertentu (sheet).

Pulp kayu tropis berserat pendek, tidak mungkin dijadikan kertas roll untuk mesin cetak sistem web. Kecuali albisia yang panjang rata-rata seratnya mencapai 1.15 mm, hingga memungkinkannya untuk menjadi bahan kertas roll. Kelebihan lain dari kayu albisia sebagai bahan pulp adalah, proses pengolahannya tidak memerlukan banyak bahan kimia. Sebab warna kayunya sudah sangat putih. Hingga perlakuan bleaching untuk kayu albisia, tidak akan sebanyak kayu pinus dan akasia, yang warnanya cenderung kecokelatan. Anehnya, Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk produksi pulp, justru terdiri dari Pinus merkusii dan Akasia mangium.

Namun demikian, yang menyebabkan akasia menjadi “rebutan” adalah terbukanya ekspor rajangan kayu ke Jepang dan Korea. Albisia umur enam sd. tujuh tahunan, dengan diameter antara 15 sd. 30 cm, dipotong sepanjang 1 m, lalu dirajang dalam ukuran 5X5 cm. Rajangan kayu albisia inilah yang banyak diekspor ke Jepang dan Korea. Pabrik albisia untuk ekspor, antara lain memang di Kab. Magelang, Jateng. Jadi, kalau Anda menanam albisia di Kab. Magelang, sungguh sangat tepat. Istilah “menjadi rebutan” juga tepat, sebab sekarang ini albisia bukan hanya menjadi incaran pedagang, melainkan juga maling.

Selain dirajang untuk ekspor ke Jepang, albisia juga bisa menjadi alternatif substitusi pulp serat panjang, dan penghasil biomassa. Pada umur 5 tahun, albisia mampu menghasilkan biomassa sekitar 50 metrik ton dari tiap hektar lahan. Biomassa adalah bahan organik berupa limbah cabang, ranting, dan daun, yang merupakan hasil sampingan dari agroindustri albisia. Data ini diperoleh dari HTI di pulau Mindanau, Filipina, dengen elevasi antara 50 sd. 100 m. dpl. Biomassa adalah bahan untuk Midle Density Fibre (MDF) atau energi alternatif.

Karena sering dilanda gempa, Jepang menyenangi bahan bangunan dan meubel dari kayu ringan. Selain albisia, kayu ringan lainnya adalag gamelina (Gmelina arborea), dan balsa (Ochroma lagopus). Namun kualitas kayu gamelina, terutama tekstur batangnya, tidak sebaik albisia. Sementara kayu balsa yang terkenal ringan dan kuat, harganya di pasar internasional sudah cukup tinggi. Harga kayu albisia, relatif masih lebih murah dibanding dengan balsa, hingga dipromosikan sebagai “menjadi rebutan”. Sdri Isma, pilihan Anda untuk menanam albisia, sangat tepat. # # #

One thought on “BENARKAH ALBISIA JADI REBUTAN?

  1. Mohon info dan ulasan mengenai bahan baku untuk kayu energi (wood pellets) berikut kulitas dan peluang pasar exportnya. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s