KELEMBAGAAN AGROINDUSTRI ANGGREK

Bulan November 2006, Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), tepat berusian 50 tahun. PAI adalah tempat berhimpun (society), bagi individu dengan berbagai profesi, namun tertarik pada peranggrekan. Di tingkat global PAI, berafiliasi dengan IOC (International Orchid Conference). Untuk urusan registrasi spesies maupun hibrida baru, PAI berhubungan dengan RHS (Royal Horticulture Society). Karena Indonesia terikat dengan konvensi Geneva, maka perdagangan anggrek kita juga harus merujuk pada ketentuan WTO dengan CITESnya (Commitee on International Trade of Endangered Species).

Idealnya, selain society diperlukan pula asosiasi. Di Bandung saat ini sudah ada Asosiasi Petani Anggrek Indonesia (APAI). Namun anggota APAI masih sebatas pada pengusaha anggrek skala kecil dan menengah, secara individual. Asosiasi, idealnya beranggotakan lembaga besar yang homogen. Misalnya pengusaha breeding, grower atau trader. Para petani kecil, terlebih dahulu bergabung dalam kelompok, lalu koperasi. Koperasi inilah yang kemudian menjadi anggota asosiasi, hingga bisa sejajar dengan pengusaha anggrek skala besar.

Orientasi asosiasi, hanyalah aspek kebijakan, bukan kegiatan teknis seperti penyelenggaraan pameran. Di Indonesia, kelembagaan kelompok – koperasi – asosiasi yang bisa fungsional seperti ini belum pernah terbentuk. Beberapa tahun terakhir ini, bermunculan pula organisasi dengan predikat society. Misalnya Surabaya Orchid Society, Bali Orchid Society, dan Jakarta Orchid Society. Lahirnya society ini, tidak pernah didasari oleh konsep yang matang, hingga tampak hanya menjadi duplikat PAI.

# # #

Selain society yang menjadi duplikat PAI, APAI pun juga melakukan hal yang sama. Hingga terjadi dualisme kelembagaan di kota Bandung dan sekitarnya. Padahal, society dan association, seharusnya bisa saling melengkapi. Bukan saling bersaing, akibat kerancuan terminologis. Selama ini, lembaga yang juga menangani anggrek adalah Yayasan Anggrek Indonesia (YAI). Lembaga ini didirikan oleh para fungsionaris PAI dan individu lainnya pada tahun 1994. Meskipun didirikan oleh para fungsionaris PAI, YAI tetap memiliki AD/ART sendiri dan bersifat independen.

Seluruh kegiatan kelompok, koperasi, asosiasi, himpunan, yayasan, lembaga pemerintah, dan perguruan tinggi, kesemuanya harus berujung pada kegiatan bisnis anggrek. Kegiatan bisnis ini berupa produksi dan pemasaran. Kegiatan yang harus didanai penuh oleh pemerintah, BUMN, swasta, dan lembaga donor termasuk yayasan, adalah proyek-proyek konservasi. Misalnya, memassalkan spesies yang masuk apendix, hingga perburuannya di alam terhenti sama sekali.

Akibat kerancuan terminologis tentang kelembagaan, maka selama ini agroindustri peranggrekan nasional seperti berjalan di tempat. Agribisnis dan agroindustri anggrek, sebenarnya akan berkembang, apabila memperoleh dukungan teknis dari perangkat produksi, pemasaran, akunting, administrasi, keuangan. dan PSDM. Sistem ini, hanya mungkin diaplikasikan di lembaga besar. Pada kenyataannya, peranggrekan Indonesia, didominasi oleh pelaku sangat kecil (mikro), sedikit pelaku besar,  sementara pelaku menengah hampir tidak ada.

Sistem yang secara fungsional bisa diaplikasikan dalam kelembagaan kelompok, koperasi dan asosiasi, akan membuat petani kecil bisa sejajar dengan pengusahanya. Dengan sistem yang bisa fungsional dalam kelembagaan kelompok, koperasi dan asosiasi, maka transaksi bisnis antara yang kecil dan yang besar bisa berlangsung lebih lancar. Transaksi bisnis yang sehat, idealnya memang  terjadi antara dua badan hukum. Bukan antara petani kecil secara indivual,  dengan perusahaan besar sebagai lembaga.

# # #

Istilah kemitraan yang ada dalam UU Perkoperasian dan UU tentang UKM, sebenarnya sulit terealisasi di di Indonesia. Sebab yang bisa bermitra, hanyalah dua pihak yang setara dalam banyak hal. Petani anggrek dengan lahan kurang dari 0,25 hektare, akan sulit untuk bermitra, dengan perusahaan yang luas kebunnya mencapai puluhan hektar. Sietem agroindustri yang sudah teraplikasikan dalam kelompok, koperas dan asosiasi, penganggrek kita studi banding ke Pangalengan, Bandung.

Di sana ada Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS), yang sistem kerjanya sangat fungsional. Karenanya, dibanding agroindustri susu di Boyolali (Jateng) dan Pujon (Jatim), KPBS jauh lebih unggul. Sistem yang sudah teaplikasi dengan baik juga terdapat pada Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (KOPTTI). Di Tangkit (Jambi), juga ada kelompok dan koperasi agroindustri nanas, yang luas tanaman nanasnya (4.000 hektar), lebih besar dari Great Giant Peanaple di Lampung.

Sebenarnya, selama ini Departemen Pertanian sudah sangat memperhatikan agroindustri anggrek, dengan berbagai programnya. Dinas-dinas teknis di pemerintah daerah pun, banyak yang memiliki program khusus anggrek. Juga kelembagaan di lingkup perguruan tinggi. Hingga anggrek, sudah cukup diperhatikan oleh lembaga pemerintah, swasta,  maupun organisasi kemasyarakatan. Tetapi mengapa berbagai program ini, seakan hilang begitu saja? Ada dua sebab, pertama, kelembagaan dan sistem peranggrekan sendiri belum pernah terbangun secara fungsional. Kelembagaan yang selama ini sudah ada, lebih bersift seremonial struktural.

Kedua, tanpa adanya database peranggrekan, tidak akan pernah ada program yang bisa berhasil dengan baik. Sebab ibarat akan menyerang musuh, kita tidak punya data dan peta kawasan yang akan diserbu. Pemerintah, swasta dan perguruan tinggi kita, sama sekali tidak  tertarik membangun database. Jangankan database anggrek. Database padi pun kita belum punya. Yang ada baru data statistik. Data statistik ini pun masih berorientasi ke teritorial, bukan komoditasnya. (R) # # #

One thought on “KELEMBAGAAN AGROINDUSTRI ANGGREK

  1. Ya susah kalau data tidak disiapkan dengan benar. Padahal penyuluh bisa sekalian mencatat setiap musim apa yang ditanam petani luas, hasil perhektar, jumlah produksi setiap kecamatan. Dengan demikian penyuluh tahu benar kondisi pertanian di daerahnya dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki produksi tersebut.
    Oh Indonesiaku, nasibmu kapan majunya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s