BISNIS ITIK PEDAGING

Sdr. Anton dari Bekasi, diajak temannya untuk menggemukkan itik jantan. Kata temannya, pasar itik pedaging sangat bagus. Benarkah usaha penggemukan itik pedaging prospeknya bagus? Apakah juga  benar, bahwa yang dijual sebagai “daging burung” di banyak kaki lima di Jabotabek sebenarnya itik jantan?

Benar, yang dijual sebagai “goreng burung” di kakilima di Jakarta dan sekitarnya, adalah Day Old Duck (DOD=itik umur sehari) jantan yang digemukkan. Penggemukan DOD jantan ini hanya berlangsung antara setengah bulan sampai dengan paling lama dua bulan. Setelah dipelihara setengah bulan sampai dengan dua bulan, bobot DOD jantan itu bervariasi antara 0,5 kg, hingga benar-benar seperti burung, sampai dengan 1 kg. Anak itik jantan inilah yang digoreng, dan dipromosikan sebagai “daging burung”.

Pada jaman penjajahan, yang dijual di kakilima memang benar burung ayam-ayaman (Gallierex cinerea), yang populasinya masih sangat melimpah di sekitar Batavia. Ketika populasi ayam-ayaman menyusut, pedagang manggantinya dengan anak itik jantan yang digemukkan. DOD yang digemukkan itu berasal dari sentra peternakan itik di Kuningan, Brebes dan Tegal, serta dari Amuntai, di Kalimantan Selatan. DOD dari Kalsel, dibawa dengan trasportasi udara, Banjarmasin, Soakarno-Hatta.

Permintaan daging itik, memang selalu lebih tinggi dari pasokan. Hingga DOD dari Kalsel pun, didatangkan untuk memenuhi permintaan. Sentra itik di Indonesia ada di Kuningan-Brebes-Tegal (perbatasan Jabar-Jateng); Mojokerto (Jatim), Bali (itik jambul, kulit telur putih), dan Amuntai Kalsel (itik alabio). DOD jantan dari Bali, habis terserap di Bali, yang dari Mojokerto, habis terserap di Surabaya. Hingga pasokan DOD ke Jakarta, hanya berasal dari Kuningan, Brebes, dan Tegal, serta dari Kalsel.

DOD yang didatangkan dari Kalsel, dan perbatasan Jabar-Jateng, akan digemukkan di sekitar Jakarta. Lokasi penggemukan itu berada di sekitar Cengkareng (Banten), dan Bekasi. DOD yang turun dari kargo pesawat di Soakarno-Hatta, sebagian besar akan digemukkan di sekitar Cengkareng. Yang berasal dari Kuningan, Brebes, dan Tegal, akan diturunkan di Bekasi, untuk digemukkan di kawasan ini. Penggemukkan DOD menggunakan pakan ayam broiller (starter dan grower).

Belakangan ini, pasar itik pedaging bertambah luas, dengan maraknya restoran dan warung makan “bebek”, baik bakar maupun goreng. Bahkan banyak warung yang langsung mempromosikan dagangan mereka sebagai “nasi bebek”. Sekitar 20 tahun silam, pasar itik pedaging hanya berkembang di Jatim, Bali  Kalsel, Kaltim. Di Jateng, DIY, dan DKI Jakarta, warung makan masih sering memalsu ayam goreng/bakar, dengan daging itik. Sebutan itik goreng sebagai “burung” bahkan masih berlangsung sampai sekarang.

Seiring dengan marakya restoran dan warung makan “bebek”, para penjual “burung goreng” pun sudah mulai memasang tulisan “Burung/Bebek Goreng”. Sama dengan permintaan DOD jantan yang digemukkan, permintaan daging itik dewasa pun tumbuh dengan pesat. Pasokan daging itik dewasa, bukan berasal dari DOD jantan yang digemukkan, melainkan dari itik petelur afkir, yang digemukkan. Pemelihara itik petelur, biasanya langsung mengafkir itik mereka setelah satu kali masa produksi (1 tahun).

Di dunia ini, ada empat kategori itik piaraan. Paling kecil kategori bantam: Itik Call, Karibia, Malard, dan Australian Spotted. Kedua, kelas ringan: Itik Lightweigh, Bali, Indian Runner (itik karawang, tegal, magelang, dan mojosari), Alabio (Indian Runner >< Peking), Khaki Campbell, Welsh Harlequin, dan Magpie. Ketiga, kelas sedang: Itik Ancona, Cayuga, Crested, Buff Orpington, Blue Swedish, Pink German. Keempat kelas berat: Itik Appleyard, Aylesbury, Muscovy (entog, itik manila), Peking, Rouen, Saxony, dan Gressingham (Mallard liar >< Itik Peking).

Di pasar internasional, yang dikembangkan sebagai itik pedaging hanya katergori empat, terutama itik peking dan entog. Di Indonesia, yang lebih berkembang justru daging itik kategori dua, berupa itik jantan yang digemukkan, dan itik betina afkir. Pengembangan itik pedaging (peking) secara massal seperti di Eropa, AS, Jepang, dan RRC, belum terjadi di negeri kita. Meskipun dewasa ini juga mulai berkembang itik pedaging silangan antara itik manila betina Cairina moschata dan Cairina scutulata, dengan itik indian runner (itik petelur), terutama itik magelang.

Silangan betina Cairina moschata, dan jantan itik magelang, menghasilkan itik pedaging yang pertumbuhannya sangat pesat. Itik silangan ini mandul, hingga jantan maupun betinanya, semua akan digemukkan sebagai itik pedaging. Masyarakat menyebut itik pedaging hibrida ini sebagai tiktog (itik dan entog), atau itik serati. Dengan pengembangan itik pedaging tiktog, sebenarnya produksi unggas pedaging kita tidak akan terlalu tergantung pada grand-grandparent stock dari AS. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s