NASIB NUTRISI SAPUTRA

Tanggal 6 September 2006, Umar Hasan Saputra seorang dosen IPB, diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Negara. Bersama timnya: Roy Sembel, Aribowo, Sri Bawono, Heru Wibawa, Kori Enk, dan Yuke Eliyani serta didampingi oleh pengusaha nasional Ir. Ciputra, mereka mempresentasikan hasil penemuan berupa “pupuk ajaib” Nutrisi Saputra. Penemuan ini merupakan aplikasi dari teknologi Water Stimulation Feed (WSF), yang mampu meningkatkan hasil padi sawah dari rata-rata 4 ton per hektar menjadi 9 ton per hektar.

Presiden sangat terkesan oleh paparan Umar Hasan Saputra. Secara spontan SBY minta agar Umar Hasan Saputra mempresentasikan hasil temuan yang hebat ini kepada para menteri dan gubernur se Indonesia. Tanggal 7 September, setelah sidang kabinet, para menteri dan gubernur terpukau oleh paparan Umar Hasan Saputra. Mereka berebut untuk memperoleh pupuk ajaib ini. Ketika itu secara spontan, SBY mengatakan bahwa Umar Hasan Saputra layak untuk menerima Hadiah Nobel. Sementara Ir. Ciputra menyebut bahwa temuan Saputra merupakan sebuah “revolusi”.

Ada enam klaim revolusioner yang ditawarkan Nutrisi Saputra. Pertama, hasil panen menjadi dua kali lipat. Kedua, kualitas beras jauh lebih baik, dengan bulir-bulir padi yang lebih besar. Ketiga, waktu panen lebih cepat sembilanbelas hari dari umur panen normal. Keempat, biaya produksi menjadi lebih rendah. Kelima, produk ini ramah lingkungan, karena terbuat dari bahan alami. Keenam, produk ini cocok untuk lahan tandus dan kering. Zat prekursor dalam produk ini, hanya membutuhkan sedikit air guna memicu pembentukan nutrisi esensial. Nutrisi ini berupa pupuk majemuk lengkap yang terdiri dari unsur hara makro primer (N, P, K), unsur hara makro sekunder (Mg, S, Ca), dan unsur makro elemen esensial (Fe, B, Bo, Mn, Zn, Cl).

# # #

Namun tanggal 18 Oktober 2006, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian (Deptan), Sutarto Alimoeso, menyatakan bahwa Nutrisi Saputra belum memiliki ijin dari Deptan. Hingga peredarannya secara komersial jelas melanggar hukum. Sebenarnya Deptan pernah memberi peringatan kepada produsen  Nutrisi Saputra, agar terlebih dahulu mengurus perijinan sebelum produk tersebut diedarkan secara komersial. Namun sampai dengan tanggal 18 Oktober 2006, Umar Hasan Saputra belum juga mengurus perijinan tersebut.

Deptan tidak akan merekomendasikan penggunaan produk tanpa ijin kepada petani. Sebab sehebat apa pun sebuah produk, prosedur resmi sesuai dengan perundang-undangan harus dipenuhi. Saat ini sudah ada empat produk Nutrisi Saputra yang beredar di pasaran. Di Jawa Barat beredar WSF-Nutri Agro Plus berupa serbuk. Di Jawa Timur WSF Formula Saputra (cair), WSF Techno (serbuk) dan WSF Nutrisi Saputra. Untuk itu, Deptan telah melakukan serangkaian ujicoba terhadap produk tak berijin tersebut. Hasilnya, pemakaian jangka panjang terhadap produk ini, justru akan merusak tanah.

Ujicoba yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian, Deptan, juga menemukan, bahwa Nutrisi Saputra hanya mengandung satu dari 16 unsur minimal suatu produk pupuk. Ujicoba terhadap Nutrisi Saputra dilakukan Badan Litbang Pertanian, Deptan, di sebuah laboratorium independen. Hasilnya, kandungan utama Nutrisi Saputra hanya karbon (C) organik, sebesar 24,79%. Kandungan unsur hara lainnya sangat rendah, hingga diperkirakan tidak akan cukup efektif untuk diserap oleh tanaman. Ahmad Suryana, Kepala Badan Litbang Pertanian, Deptan, menyatakan tidak akan meregister pupuk ini untuk diedarkan secara komersial.

Sebab kalau dipaksakan, dampaknya akan mengakibatkan defisit unsur hara dalam tanah. Sebenarnya Iswandi Anas, kolega  Umar Hasan Saputra dari IBP, sudah pernah memperingatkan hal ini. Guru Besar Ilmu Tanah IPB ini, dalam tulisannya di Harian Kompas 9 Oktober 2006, menyatakan bahwa: “Bila pupuk ini tak sesuai dengan claim yang selalu didengung-dengungkan oleh penemu dan pendukungnya, maka makian, umpatan, bahkan lebih dari itu akan terjadi. Semoga kita mau bersabar dan berpikir serta mengambil keputusan berdasarkan kaidah ilmiah. Kita tidak hidup dalam Republik Mimpi seperti yang ditayangkan di televisi. Mari kita semua berpikir dan bertindak dengan menggunakan nalar dan akal sehat kita.”

# # #

Petani kita memang sudah sangat sering ditipu. Tahun 1980an, seorang ketua organisasi pertanian yang kemudian menjadi menteri, memperkenalkan “Bodem Korektor” yang diharapkan akan menyuburkan lahan tandus di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Pernah pula ada pengusaha yang memperkenalkan Sonic Bloom, sebuah penemuan dari AS yang akan mampu melipatgandakan hasil pertanian. Namun yang paling sering terjadi, petani kita ditipu oleh adanya komoditas ajaib. Namanya bisa cacing, jangkrik, pace, lobster air tawar, pisang abaca dan yang terakhir ini jarak pagar.

Rakyat kita juga pernah ditipu oleh program “Agribisnis Bagi Hasil”. Semua penipuan itu selalu berdalih, akan bisa memakmurkan petani dalam jangka waktu sangat singkat dan tidak ada resiko sama sekali. Meskipun sudah puluhan kali ditipu, masyarakat Indonesia tampaknya tidak pernah jera. Hingga Gubernur, Menteri bahkan Presiden pun terkagum-kagum pada Nutrisi Saputra. Padahal di dunia ini tidak pernah ada pupuk ajaib. Sebab pupuk, sama halnya dengan makanan, harus digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Kalau di tanah unsur hara N (nitrogen) cukup, maka tanaman tidak perlu dipupuk N. Kalau tanah kurang unsur P (phospat), maka perlu diberi pupuk P. Kemudian, pupuk hanyalah salah satu faktor di antara sekian banyak faktor yang akan menentukan sukses tidaknya sebuah kegiatan agro. Faktor lain adalah benih, air, sinar matahari, suhu dan kelembapan udara, angin, struktur tanah, hama dan penyakit tanaman. Meskipun tanaman diberi pupuk sehebat apa pun, kalau faktor-faktor lainnya tidak mendukung, maka hasilnya tetap akan jelek atau malahan gagal sama sekali. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s