PELUANG PESTISIDA ORGANIK

Sdri. Rahmah, di Klaten, ingin mencoba pestisida organik, untuk tanaman padi, sayuran, dan palawija di sawahnya. Bahan apa sajakah yang bisa dijadikan pestisida organik? Apakah benar pestisida organik, sama ampuhnya dengan  pestisida kimia buatan pabrik, tetapi biayanya bisa lebih murah?

Belakangan ini, harga pestisida kimia buatan pabrik, cenderung terus naik. Sebab harga minyak bumi, bahan utama pestisida kimia,  sejak lima tahun terakhir juga naik sampai beberapa kali lipat. Selain itu biaya produksi, dan transportasi, juga ikut naik akibat kenaikan harga BBM. Harga produk pertanian memang juga ikut mengalami kenaikan, yang juga cukup tinggi. Tetapi kenaikan harga tersebut, terutama hanya dinikmati oleh pedagang, bukan oleh petani.

Niat Sdri. Rahmah untuk memanfaatkan pestisida organik, bisa menjadi solusi yang tepat. Yang perlu Anda perhatikan, pestisida, dan juga pupuk, baru layak digunakan apabila benar-benar diperlukan. Lahan pertanian baru perlu dipupuk, kalau kekurangan unsur hara. Kebutuhan hara masing-masing tanaman juga berbeda. Pemberian pestisida juga baru diperlukan, kalau dalam satu areal tanaman, dijumpai gejala serangan hama atau penyakit, yang sudah di atas ambang ekonomi.

Pestisida merupakan racun untuk membasmi pengganggu tanaman. Pestisida  terdiri dari insektisida (serangga), fungisida (jamur), baterisida (bakteri), herbisida (gulma), nematisida (nematoda), algaesida (lumut), virusida (virus), moluskisida (siput), rodentisida (tikus), avisida (burung), larvisida (larva), dan akarisida (tungau). Dari bermacam pestisida ini, yang paling mungkin diganti dengan bahan organik, adalah insektisida, fungisida, dan bakterisida.

Salah satu insektisida organik paling terkenal, dan ampuh adalah rotenon, dari akar tuba. Tuba adalah tumbuhan asli Asia Tenggara, dan Pasifik Barat Daya. Bisa tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1.000 meter dpl.  Tuba berupa liana (tanaman memanjat, berkayu), yang memerlukan pohon lain sebagai panjatan. Tuba dipanen dengan cara membongkar tanaman, akarnya diambil, lalu bonggolnya kembali ditanam. Akar tuba segar bisa langsung digunakan, atau dikeringkan, dan disimpan.

Sebelum digunakan, akar tuba segar atau kering ditumbuk, direndam air, hingga rotenonnya larut. Larutan rotenon berwarna putih susu, dan beraroma sangat keras. Larutan ini disaring, kemudian dimasukkan ke dalam sprayer, lalu disemprotkan ke tanaman yang diserang hama. Rotenon (Rotenonne, C23H22O6), pertama kali diisolasi oleh Emmanuel Geoffroy tahun 1895, dari tumbuhan barbasco (Lonchocarpus nicou),  yang tumbuh di Guyana Perancis.

Selain dalam tuba, dan barbasco, rotenon juga terdapat pada Hoary Pea, Goat’s Rue, Jicama plant (Tephrosia virginiana), Corkwood Tree (Duboisia myoporoides), Great Mullein (Verbascum thapsus), dan biji bengkuang, (Jícama, hee-kah-mah, Mexican Potato, Mexican Turnip, Pachyrhizus erosus). Kandungan rotenon pada akar tuba, paling tinggi dibanding beberapa tumbuhan tadi. Di Indonseia, yang paling berpeluang untuk agroindustri pestisida organik adalah akar tuba, dan biji bengkuang.

Bahan pestisida alami lainnya adalah nikotin pada tembakau (Nicotiana tabacum), saponin pada biji teh (Camellia sinensis), dan lerak (Sapindus rarak), serta diosgenin pada umbi gadung (wild yam, Dioscorea hispida). Selama ini, bahan-bahan tersebut juga sudah banyak dimanfaatkan sebagai pestisida alami oleh masyarakat kita. Tembakau dan biji teh, paling banyak dimanfaatan oleh para petambak, untuk membasmi hama bandeng serta udang.

Pemanfaatan lerak masih belum sebagai pestisida masih belum optimal, sebab komoditas ini lebih ekonomis dijual sebagai sabun alami. Gadung juga lebih banyak diserap sebagai bahan pangan, terutama untuk keripik gadung. Dari empat komoditas ini, prospek tembakau lebih besar. Sebab suplai tembakau bisa lebih kontinu dibanding biji teh, terlebih dengan lerak. Saponin dari biji teh, sebenarnya lebif efektif sebagai pestisida. Kendalanya, suplai biji teh tidak bisa kontinu. * * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s