PELUANG INDUSTRI KOMPOS

Sdri. Susy, di Depok, ingin mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos. Katanya, pasar kompos sebagai pupuk cukup baik. Benarkah prospek bisnis kompos cukup menjanjikan di masa mendatang ini? Apakah ada obat untuk mempercepat proses pembuatan kompos?

Prospek bisnis kompos memang cukup baik, bukan hanya di masa mendatang, juga sekarang ini dan pada waktu-waktu yang lalu. Kompos adalah bahan organik, terutama limbah pertanian yang difermentasi dengan bantuan bakteri atau kapang (jamur). Semua bahan tumbuh-tumbuhan, mulai dari daun, kulit kayu, sekam padi, kulit jagung, kulit pisang dan lain-lain bisa diolah menjadi kompos. Proses pembuatan kompos juga cukup sederhana. Yang tidak sederhana, justru pendistribusian dan pemasarannya.

Sampah rumah tangga, juga bisa diolah menjadi kompos. Kelemahan sampah rumah tangga adalah, bahannya yang heterogen, dan kadang juga menimbulkan bau. terutama limbah kulit udang, ikan dan sayuran, yang berasal dari dapur. Justru dengan proses pengomposan (fermentasi) bau tak sedap ini bisa dihilangkan. Bau tak sedap dari sampah rumah tangga, ditimbulkan oleh proses fermentasi (pembusukan), oleh bakteri unaerob, atau bakteri yang bisa berkembangbiak tanpa oksigen (udara).

Kalau sampah rumah tangga diberi bakteri aerob, yakni bakteri yang hanya bisa berkembangbiak dalam kondisi ada oksigen, maka bau itu akan hilang. Biang bakteri aerob dengan berbagai merek, bisa dibeli di apotik atau toko-toko pertanian. Selain dengan bakteri, pembuatan kompos juga bisa dilakukan dengan bantuan kapang, dan cacing tanah. Di Jepang, kapang tempe Rhizopus dan Aspergillus, digunakan untuk memfermentasi bahan organik limbah pertanian menjadi kompos.

Bakteri dan kapang ini bisa ditaburkan, atau disiramkan di atas tumpukan sampah, atau di tempat sampah di masing-masing rumah tangga. Upaya ini sudah sangat membantu, sebab sampah menjadi tidak berbau. Benih cacing tidak bisa ditaruh dalam sampah yang sedang terfermentasi, karena suhunya terlalu tinggi. Kalau akan digunakan cacing, sampah tidak diberi bakteriatau kapang. Selanjutnya, sampah bisa ditimbun di satu lokasi yang aman, hingga terjadi proses pengomposan atau dikonsumsi oleh cacing. Tumpukan sampah ini bisa dibuat berukuran panjang 3 sd. 4 m, lebar 2,5 m, dan tinggi 1m. Tumpukan kompos harus ditutup dengan terpal plastik yang tidak tembus pandang.

Sampah rumah tangga yang akan dikomposkan, bisa disortir terlebih dahulu, bisa pula tidak. Kalau sortasi dilakukan belakangan akan lebih higienis, sebab dalam proses pengomposan, bakteri, kapang dan kuman patogen dalam sampah sudah mati. Demikian pula ketika sampah dikonsumsi oleh cacing tanah. Sampah yang telah menjadi kompos, atau menjadi “kascing” (bekas cacing), ditandai dengan hancurnya bahan organik. Limbah keras berupa kayu, plastik, terutama kantong kresek, dan lain-lain bisa diambil secara manual. Selanjutnya kompos diayak untuk memperolah butiran yang seragam.

Akan lebih baik lagi, kalau bahan kompos berupa meterial yang agak homogen. Misalnya kulit jagung, kulit taoge, kulit pisang, sortiran sayuran, dan buah-buahan dari pasar. Asalkan sejak awal diberi bakteri aerob, limbah ini tidak akan berbau. Limbah organik yang berukuran agak besar, serta liat, misalnya kulit jagung dan kulit pisang, harus dicincang secara manual menggunakan golok, atau  dengan mesin pencacah (chooper), baru difermentasi.

Masyarakat Jakarta dan sekitarnya, selama ini selalu kekurangan kompos kualitas baik, terlebih kascing. Tetapi di lain pihak, Pemprov DKI dan beberapa LSM yang mencoba memroduksi kompos dari sampah kota, kesulitan untuk memasarkan produk mereka. Kesulitan ini bukan disebabkan oleh tidak adanya kebutuhan, melainkan justru tidak kontinunya pasokan. Pemprov DKI dan LSM yang memroduksi kompos, tidak pernah memikirkan bagaimana mengemas, dan mendistribusikan produk tersebut.

Masyarakat Jakarta memerlukan kompos bukan sekadar sebagai pupuk, melainkan juga untuk media tanam. Hingga permintaannya relatif besar. Kompos itu harus sudah matang, higienis, dan juga disertai analisis kandungan nutrisi. Tes nutrisi bisa dilakukan di lab IPB, Sucofindo, atau lembaga lain. Salah satu cara memasarkan kompos dari sampah kota adalah, dengan menggunakannya untuk bertanam sayuran serta tanaman obat. Sdri. Susy, tanaman itulah yang akan menjadi komoditas bisnis. Bukan sekadar komposnya. Penanganan sampah dengan cacing, akan menghasilkan kascing dan cacing sebagai pakan ikan atau itik. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s