MIMPI GAMBUT SEJUTA HEKTAR

Indonesia pernah bermimpi punya lahan padi sejuta hektar, di lahan gambut. Meski para ahli tidak setuju, proyek jalan terus. Sampai akhirnya terhenti karena faktor teknis, dan jatuhnya pemerintah Orde Baru. Indonesia memang punya jutaan hektar lahan gambut yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sampai sekarang lahan itu belum termanfaatkan. Rawa gambut ini hanya ditumbuhi rumbia, mangrove, paku-pakuan dan tanaman yang tahan terendam air masam. Tanah gambut yang sudah terlanjur kering, sulit dibasahi hingga mudah terbakar.

Gambut di Indonesia merupakan tipe gambut rawa (peat swamps). Selain itu, masih ada lima tipe gambut lainnya, yakni blanket mires (Inggris), raised mires (Eropa Utara), string mires (Scandinavia), tundra mires (Alaska, Kanada), palsa mires (Rusia). Masing-masing tipe gambut memiliki karakteristik yang berbeda, sesuai dengan agroklimat dan bahan pembentuknya. Tetapi, semua tipe gambut juga memiliki karekteristik yang sama, yakni barasal dari bahan tumbuhan yang terendam selama ribuan bahkan jutaan tahun.

Semua lahan gambut sangat masam (pH rendah, kurang dari 4,5). Tandanya air rawa ini berwarna cokelat, meskipun sangat jernih. Tumbuhan yang bisa hidup di atas lahan dengan pH. 4,5 sangat terbatas. Sebab tanaman menghendaki pH tanah netral (pH 7,5). Jenis tumbuhan yang tahan tanah masam hanyalah mangrove dan tanaman rawa lainnya. Tanaman padi, jagung, singkong, kacang tanah, sayuran, buah-buahan, karet, kakao, dan sawit, hanya menghendaki lahan per pH netral. Hingga bertani di lahan gambut, memerlukan teknologi khusus.

# # #

Teknik pertama adalah pengambilan lapisan gambut sampai habis. Setelah itu lahan siap untuk diolah menjadi areal pertanian. Lapisan gambut yang dipanen, dapat dijadikan bahan bakar. Baik dengan dibakar langsung, dijadikan biogas atau briket arang. Hasil gambut ini juga bisa dijadikan pupuk organik, setelah dilakukan pengomposan. Sebab bahan organik gambut, tidak pernah terkomposkan, karena terendam air terus-menerus. Cara ini bisa dilakukan, kalau lahan gambut itu tidak berupa rawa-rawa. Kalau berupa rawa-rawa, perlu dibuat saluran drainase.

Masyarakat tradisional, bertani di lahan gambut dengan teknologi pencucian. Mereka membuat tanggul mengelilingi lahan. Bagian hulu dan hilir lahan, diberi saluran air. Pada musim penghujan atau ketika rawa pasang, air dimasukkan ke lahan tersebut melalui bagian hulu, sementara bagian hilirnya ditutup. Seluruh lahan akan tergenang air. Ketika kemarau atau air surut, saluran  di bagian hulu ditutup, dan di bagian hilir dibuka. Air masam dari lahan tersebut akan mengalir keluar. Proses ini dilakukan secara terus-menerus sampai tanah gambut tercuci.

Lahan gambut yang sudah tercuci, umumnya dijadikan areal pertanian padi pasang surut. Para petani di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, juga menggunakan teknologi tabukan untuk bertanam jeruk di lahan gambut. Mereka membuat gundukan-gundukan tanah di rawa gambut. Pada gundukan tanah itulah petani menanam jeruk, kelapa, nanas, karet dan lain-lain. Gundukan tanah tabukan itu tidak boleh dibiarkan mengering, sebab akan sulit untuk dibasahi kembali. Agar pH tanah naik, tabukan dibiarkan beberapa bulan sebelum siap untuk ditanami.

Pada prinsipnya, lahan gambut baru bisa dijadikan areal pertanian setelah gambutnya diambil. Kalau gambutnya akan tetap dibiarkan berada di lahan tersebut, harus dilakukan pencucian, tabukan, atau pemberian kapur pertanian. Yang dimaksud dengan kapur pertanian adalah batu gamping (kalsium oksida, CaO), yang digiling halus tanpa dibakar.  Sementara kapur bangunan (kapur tohor) adalah batu gamping yang dibakar. Tanah gambut juga bisa dinetralkan dengan kapur dolomit (CaCO3). Kalau kapur pertanian berwarna putih kecokelatan, maka kapur dolomit berwarna kehijauan.

# # #

Tanah gambut yang akan dinetralkan dengan kapur pertanian atau dolomit, harus terlebih dahulu dibebaskan dari genangan air. Setelah itu, lahan diolah, kapur atau dolomit ditebarkan dan diaduk rata dengan tanah. Dibiarkan selama 1 minggu sampai 10 hari, baru kemudian diukur pHnya. Kemasaman atau pH tanah, diukur dengan pH meter, atau kertas lakmus, yang banyak dijual di toko kimia atau kios peralatan pertanian. Dengan pH 4,5 diperlukan sampai 20 ton kapur pertanian atau dolomit, agar pH menjadi 6 sd. 7,5. Hingga menaikkan pH tanah dengan kapur pertanian, biayanya relatif tinggi.

Selain dengan kapur pertanian dan dolomit, menaikkan pH tanah gambut juga bisa dilakukan dengan kulit kerang (karang laut) yang digiling. Masyarakat tradisional, biasa membakar lahan gambut sebelum dijadikan areal pertanian. Cara ini bisa dibenarkan secara ilmiah, sebab abu juga bisa menaikkan pH tanah. Tetapi cara ini tidak bisa dibenarkan secara ekologis, sebab akan mengakibatkan pencemaran udara dengan asap, dan perusakan lingkungan hidup. Kombinasi pengambilan gambut, pencucian, dan  tabukan, dengan pemberian kapur pertanian,  merupakan cara paling baik.

Setelah tanah gambut netral, maka tanaman apa pun bisa dibudidayakan di lahan tersebut. Proyek lahan gambut sejuta hektar, tidak pernah menggunakan teknologi pengolahan lahan gambut secara benar. Lahan hanya dibuldoser, kemudian dibuat saluran air, hingga gambut itu mengering. Gambut sulit untuk dibasahi kembali, sementara pHnya tetap rendah. Seandainya pemerintah Orde Baru tidak jatuh pun, proyek ini akan gagal. Potensi pertanian di lahan gambut sangat besar. Lebih ideal kalau potensi ini dikombinasikan dengan pemanenan gambut untuk energi alternatif. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s