KEBUN KOPI ARABIKA KARTIKA

Pada awal dekade 2000an, diketahui bahwa kopi arabika varietas Kartika 1 dan 2 yang sudah dilepas Menteri Pertanian, kemudian disebar ke masyarakat, ternyata rentan terhadap penyakit karat daun akibat cendawan Hemileia vastatrix, dan serangan nematoda Radopholus similis. Maka sebagai gantinya dilepaslah varietas Andungsari 1 dan 2.

Selain tidak tahan terhadap karat daun, dan nematoda, Kartika 1 dan 2 juga diketahui, rentan terhadap kekurangan naungan serta bahan organik. Apabila dua hal ini tidak terpenuhi, maka tanaman akan hiper produksi (berbuah sangat lebat), kemudian tumbuh merana dan mati. Biasanya hiper produksi akan terjadi pada umur antara empat sampai dengan enam tahun semenjak tanam. Akibat cacat ini, varietas Kartika 1 dan 2 ditarik kembali, dan sebagai gantinya disodorkan varietas Andungsari 1 dan 2. Beberapa perkebunan besar, misalnya Unit Usaha Kebun Kalisat Jampit, PTPN XII di Pegunungan Ijen, Jawa Timur, segera mengambil tindakan. Varietas Kartika yang jelas tampak bermasalah, segera dipotong, dan disambung kembali dengan varietas USDA yang sudah dibudidayakan sejak zaman Belanda.

Namun banyak pihak yang sudah terlanjur menanam Kartika 1 dan 2, tetap membiarkan tanaman mereka. Di Unit Kebun Kalisat Jampit, memang sempat ada tanaman kopi yang kekurangan naungan serta bahan organik, kemudian hiper produksi lalu mati. Demikian juga di lahan-lahan petani di kawasan Junggo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan di lahan Perum Perhutani Unit I di lereng timur Gunung Sindoro. Beberapa kebun memang selamat dari hiperproduksi, dan serangan karat daun serta nematoda. Di antaranya di Perkebunan Kopi Arabika Kusuma Agrowisata, Batu, Jawa Timur, dan di Afdeling Gebugan, Unit Usaha Kebun Ngobo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Kusuma Agrowisata merupakan perusahaan swasta, sedangkaan Perkebunan Ngobo, sebuah BUMN (PTPN IX).

Arabika Kartika, sebenarnya sudah dilepas Menteri Pertanian RI tahun 1993. Varietas ini merupakan pemuliaan beberapa jenis kopi arabika tipe pendek (kate), hasil seleksi kopi arabika koleksi CIFC (Centro de Investigação das Ferrugens do Cafeeiro), Portugal. Hasilnya adalah varietas BP 453 A dan BP 454 A. Dua varietas inilah yang kemudian dilepas oleh Menteri Pertanian dengan nama Kartika 1 dan Kartika 2. Awalnya dua varietas baru ini diharapkan mampu berproduksi sekitar 2 – 3 ton biji kopi per hektar, tahan terhadap karat daun, dan bisa dibudidayakan di lahan berketinggian 700 m dpl. Kemudian pada tahun 1995, Menteri Pertanian juga melepas varietas S 795, Abesinia 3, dan USDA 762.  Produktivitas 795 diperkirakan sama dengan Kartika 1 dan 2. Sementara  varietas Abesinia 3, dan USDA 762, hasilnya lebih rendah karena kurang tahan terhadap penyakit karat daun. Kelebihan dua varietas ini adalah cocok untuk kawasan beriklim basah, serta tidak menuntut perawatan intensif, hingga bisa hemat tenaga kerja.

Tampaknya, pelepasan Kartika 1 dan 2 tahun 1993, tanpa didahului oleh uji ketahanan di beberapa kondisi lahan. Konsentrasi pengujian Kartika 1 dan 2, ketika itu lebih banyak difokuskan pada peningkatan hasil, serta ketahanannya terhadap penyakit karat daun. Akhir tahun 1990an, barulah ketahuan bahwa Kartika 1 dan 2 ternyata punya dua kelemahan. Pertama, pada lahan di bawah ketinggian 1.000 m dpl, Kartika 1 dan 2 rentan terhadap serangan karat daun. Akibat serangan karat daun, produktivitas dan kesehatan tanaman akan menurun. Pada lahan berketinggian di atas 1.000 m dpl, tetapi tanpa naungan, dan tanpa bahan organik cukup, Kartika 1 dan 2, akan berproduksi luarbiasa tinggi (berbuah sangat  lebat). Dalam dunia perkebunan, hal ini disebut sebagai hiper produksi. Seluruh energi tanaman akan terkuras untuk berproduksi yang sangat tinggi ini. Akibatnya, kondisi tanaman akan melemah, dan kemudian beberapa tahun kemudian mati.

Kelemahan Kartika 1 dan 2, ini kemudian mengakibatkannya ditarik sebagai varietas kopi arabika unggulan, oleh Departemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian). Namun demikian, tidak semua kebun yang sudah terlanjur menanam Kartika 1 dan 2, membongkar tanaman mereka. Di beberapa kebun di atas 1.000 m dpl, dengan naungan cukup, dan secara otomatis, naungan itu menghasilkan bahan organik dari daun-daun yang rontok, Kartika 1 dan 2 tetap tumbuh subur, dengan produksi normal (tidak hiper produksi). Kopi arabika memang unik. Spesies ini menuntut lahan basah, namun dengan tingkat kelembapan udara rendah. Artinya kopi arabika rentan kekurangan air tanah, namun sekaligus juga rentan terhadap kelembapan udara tinggi. Jadi idealnya, arabika dibudidayakan di lahan berketinggian di atas 1.000 m dpl, di Jawa Timur, ke arah timur sampai NTT.

Idealnya, kebun kopi arabika juga berada di lahan dengan tanah vulkanis. Sebab hanya tanah vulkanislah yang mampu mempertahankan kelembapan lahan. Inilah satu-satunya cara membudidayakan arabika agar diperoleh hasil optimal. Hal ini terbukti di kebun kopi arabika Kusuma Agrowisata, Batu; dan di Afdeling Gebugan, Unit Usaha Kebun Ngobo. Di dua lokasi ini, Kartika 1 dan 2 tumbuh subur, dan tidak mengalami hiper produksi. Sebab udaranya relatif kering, tetapi lahan bertanah vulkanis itu tetap lembap. Namun demikian, Kartika di dua kebun ini juga bisa tumbuh baik, karena adanya cukup naungan dan cukup bahan organik. Sebab di Junggo, yang juga berudara kering dan bertanah vulkanis, Kartika hidup merana. Di lokasi ini, petani sama sekali tidak menanam pohon pelindung, untuk menaungi kopi mereka. (R) # # #

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s