BENARKAH IMPOR BERAS MERUGIKAN PETANI?

Awal September 2006, menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, mengumumkan rencana pemerintah untuk mengimpor beras sebesar 210.000 ton. Hari-hari berikutnya segera bermunculan reaksi cukup keras dari berbagai pihak. Demo menentang rencana impor langsung digelar. Dalih dari para penentang impor beras tetap sama dari tahun ke tahun, yakni takut kalau harga gabah di tingkat petani menurun. Pedagang juga ikut menolak, dengan alasan harga beras akan merosot tajam. Meskipun angka 210.000 ton relatif kecil, yang dikhawatirkan oleh para penentang impor beras adalah dampak psikologisnya.

Reaksi yang cukup keras setiapkali pemerintah merencananakan impor beras, sebenarnya bukan masalah ekonomi. Sebab arahnya ke kancah politik. Tahun lalu, para anggota DPR malahan telah menggulirkan rencana penggunaan hak angket dan interpelasi, dalam rangka menentang impor baras. Mereka bukan hanya berasal dari partai oposisi, melainkan juga dari partai-partai pendukung pemerintah. Itulah sebabnya Presiden SBY langsung memanggil para menteri, yang partai dengan anggota DPRnya merencanakan hak angkat dan hak interpelasi.

Dengan demikian, soal ekonomi, terlebih soal nasib petani, sebenarnya sama sekali tidak pernah dipedulikan oleh pemerintah yang berniat impor beras, maupun oleh kalangan yang menentangnya. Meskipun, dalih para penentang itu tetap membela petani. Sebab tanpa impor resmi pun, beras selundupan selalu marak di pasar. Terutama untuk kawasan yang berdekatan dengan negara tetangga, Baik Malaysia maupun Filipina. Sebab harga beras kualitas rendah didalam negeri, selalu lebih tinggi dari harga beras kualitas sama di pasar internasional.

# # #

Mungkin petani padi kita tidak bisa seefisien petani Vietnam, Thailand dan India, hingga beras kita lebih mahal. Memang selalu ada tuduhan, bahwa para petani di negeri tetangga itu memperoleh subsidi luar biasa dari pemerintah masing-masing, hingga beras mereka bisa murah. Kemungkinan lain adalah, sebenarnya petani kita sama produktiv dengan petani Thailand. Hasil per satuan hektar per musim tanam lahan kita, juga sama dengan sawah di Thailand. Biaya on farm pun sama. Yang jadi masalah, biaya off farm kita lebih tinggi dari mereka. Bentuk biaya off farm adalah, tidak efisiennya sarana transportasi dan distribusi.

Selain itu, pemerintah Indonesia, perguruan tinggi dan LSM, tidak punya grand design, untuk lebih mengoptimalkan keunggulan sawah kita. Sawah di Sumatera, Jawa, Bali dan Sulawesi, cocoknya untuk budidaya padi aromatik yang produktivitasnya (kuantitatif) rendah, tetapi nilai ekonomisnya tinggi. Misalnya rojolele, pandan wangi dan mentik wangi. Padi aromatik ini harus menjadi andalan utama petani, dan cukup ditanam sekali dalam setahun. Tujuannya untuk memenuhi permintaan ekspor. Sementara untuk konsumsi dalam negeri, kita bisa impor beras kualitas sedang dan rendah, dengan harga sangat murah.

Lahan kering di Kalimantan dan Sumetera, cocoknya untuk budidaya padi ladang. Produktivitas padi ladang, memang lebih rendah dibanding padi sawah. Tetapi kualitas berasnya lebih baik dari rojolele sekali pun. Disain ini tentu tidak bisa diterapkan 100%. Dari produktisi nasional 53 juta ton gabah (setara 33 juta ton beras), kalau 20% (1,6 juta ton gabah atau 6,6 juta ton beras), berupa padi/beras kualitas tinggi, sudah cukup baik. Andaikata dari 6,6 juta ton beras kualitas tinggi itu 50% diekspor, volumenya sudah mencapai 3,3 juta ton, dengan nilai yang cukup menarik.

Sebab harga beras kualitas baik kita, justru sangat rendah. Di pasar dalam negeri, menjual pandanwangi atau rojolele dengan harga Rp 6.000,- atau Rp 7.000,- per kg. pun sudah susah. Padahal, harga beras seperti ini di pasar internasional, antara Rp 15.000,- sd. Rp 40.000,- per kg. Kalau beras kualitas baik itu dilepas dengan harga FOB Rp 10.000,- pun, petani dan pedagang sudah sangat diuntungkan. Jadi seandainya kita pada suatu saat impor beras sampai 3 juta ton pun, tidak akan jadi masalah. Sebab nilai 3 juta ton beras impor itu, bisa hanya seperlima (20%) dari nilai ekspor beras kualitas baik kita dengan volume sama.

# # #

Protes terhadap rencana pemeintah mengimpor beras, jelas merupakan urusan politik dan bukan ekonomi. Sebab selama ini kita juga impor gandum, bungkil, jagung, tepung ikan, kapas, daging, buah-buahan, tetapi tidak pernah ada yang protes. Ketergantungan masyarakat lapis bawah terhadap mi instan, saat ini sudah sangat tinggi. Hingga impor gandum merupakan sesuatu yang mutlak. Mengapa tidak pernah ada yang protes dan menuntut agar Indofood dan Bogasari ditutup? Sebab ketergantungan kita pada gandum, jelas sangat merugikan petani penghasil karbohidrat kita.

Selama ini, kita juga kurang memperhatikan penghasil karbohidrat selain beras. Padahal masih ada sagu, singkong, ubi jalar, keladi, talas, garut, ganyong, aren, jagung, sorgum, uwi-uwian, suweg, iles-iles. Iles-iles adalah bahan konnyaku dan shirataki, ubijalar adalah bahan tempura. Tiga menu ini sangat prestisius di restoran Jepang di seluruh dunia. Poi dari talas adalah menu favorit masyarakat Hawaii di AS. Kita tidak pernah punya kebanggaan, terhadap produk pangan berasal dari karbohidrat yang bisa ditanam di negeri kita sendiri.

Sebenarnya, gandum pun bisa dibudidayakan di Indonesia. Badan Litbang Departemen Pertanian sudah cukup lama melakukan ujicoba budidaya gandum skala ekonomis di beberapa lokasi. Tahun 2.000an, Bogasari dengan Universitas Satyawacana, Salatiga, sukses mengadakan ujicoba penanaman gandum di Kopeng, lereng Gunung Merbabu. Tetapi kekuatan ekonomi raksasa, telah membuat serangkaian ujicoba ini hanya sekadar lips service. Tidak pernah ada kelanjutannya. Kebijakan pemerintah, selama ini memang lebih ditujukan untuk menguntungkan pengusaha. Bukan patani dan rakyat banyak. (R) # # #

One thought on “BENARKAH IMPOR BERAS MERUGIKAN PETANI?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s