PROSPEK PEMBENIHAN AREN

Sebagai penghasil tepung, gula, ijuk, kolang-kaling, lidi dan kayu berkualitas, aren (enau, kaung, Arenga pinnata), layak untuk dikembangkan. Kendalanya justri faktor pembenihan. Di Jawa, sekarang aren juga sudah mulai langka, hingga pembenihan aren bukan sekadar terkendala oleh faktor teknis, melainkan juga ketersediaan biji (kolang-kaling tua), untuk disemaikan.

Aren merupakan  tumbuhan asli Indonesia, dengan habitat tersebar dari India,  Cina bagian selatan, Malaysia, Filipina, Indonesia, sampai ke kepulauan Guam di Pasifik. Aren bisa tumbuh baik pada ketinggian 0 sd. 1.400 m. dpl. Lima produk utama aren, adalah, tepung dari empelur batang (seperti sagu), gula merah (palm sugar, brown sugar), kolang-kaling, ijuk, lidi, dan kayu (ruyung). Panen tepung dari batag aren, adalah penyebab terkikisnya tanaman ini di Jawa. Sebab sebelum tanaman menghasilkan biji untuk berkembangbiak, sudah terlebih dahulu ditebang. Penebangan batang aren untuk diambil tepungnya, dilakukan ketika tanaman menjelang mengeluarkan bunga pertamanya, pada umur antara delapan sampai 10 tahun.

Satu batang tanaman aren dapat menghasilkan sampai ratusan kilo tepung kering. Rendemen aren bisa lebih tinggi dari sagu karena proses penggilingan dan penepungannya dilakukan di pabrik. Tepung aren bisa untuk bubur, dodol, kue tradisional (jongkong), pengganti nasi beras (ongol-ongol), kerupuk dan soun. Sebenarnya selain lima produk utama tadi, tulang daun aren juga menghasilkan lidi kasar yang bisa digunakan untuk sapu, keranjang serta berbagai keperluan. Daun mudanya (kaung), sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai penggulung rokok di Jawa Barat. Ketika korek api modern belum diproduksi massal seperti sekarang, bulu-bulu halus dan tebal pada pelepah mudanya (kawul), bersama baja, dan batu api (titikan), merupakan bahan pembuat api.

# # #

Di Jawa, populasi aren di alam saat ini sudah menyusut sangat tajam, bahkan nyaris punah. Ketika populasi tanaman masih cukup, ada keseimbangan antara pohon yang ditebang muda, mati tua, dan tanaman baru yang tumbuh secara alami. Penyusutan populasi tanaman aren di alam, sebenarnya juga disebabkan oleh pemanfaatan biji kolang-kaling, yang dipanen habis pada saat buah masih sangat muda. Buah kolang-kaling masak adalah santapan musang, meskipun kulit, dan daging buah ini mengandung kristal oksalat penyebab rasa gatal luar biasa pada kulit manusia.

Di dalam lambung, dan usus musang, biji kolang-kaling terfermentasi dengan sempurna, dan tetap utuh. Kotoran musang dengan biji kolang-kaling tua ini akan tersebar ke mana-mana lalu tumbuh menjadi individu tanaman baru. Begitulah cara aren berkembangbiak, hingga musanglah yang selama ini dianggap sebagai breeder aren. Sekarang populasi musang juga ikut menyusut tajam, bahkan di beberapa tempat sudah punah. Akhir tahun 1990an, Balai Penelitian Kelapa (Balitka) di Pakuwon (Parungkuda), Kab. Sukabumi, dan Dinas Pertanian Jawa Barat, pernah mencoba meneliti peluang menyemai biji aren secara massal, lalu menyebarkan hasilnya ke masyarakat untuk penghijauan. Belakangan hanya Kab. Garut juga aktif melanjutkan program Provinsi Jabar.

Sebagai penghasil gula merah, aren berpotensi lebih tinggi dari kelapa maupun lontar. Sebab volume nira dari satu bunga aren, bisa mencapai 10 liter dalam 24 jam. Jangka waktu  penyadapan aren juga lebih lama dibanding kelapa dan lontar. Tanaman aren, setelah mencapai ketinggian tertentu akan berhenti tumbuh (tidak lagi bertambah tinggi). Pada saat itulah bunga betina akan keluar dari pangkal pelepah tertinggi, disusul oleh bunga jantan pada pelepah di bawahnya. Bunga betina akan menjadi buah (kolang-kaling) dan bunga jantan bisa disadap niranya, sebelum mekar. Bunga bentina penghasil kolang-kaling hanya akan keluar sekali, pada pucuk tanaman. Sementara bunga jantan akan keluar terus-menerus sepanjang tahun, pada ruas-ruas bekas pelepah di bawahnya.

# # #

Aren akan mengeluarkan bunga jantan pada ruas paling bawah (bunga terakhir), yang tingginya satu sampai dua meter dari permukaan tanah, kemudian tanaman akan mati. Aren seperti halnya gebang, adalah palem tunggal yang periode hidupnya terbatas. Beda dengan kelapa dan lontar yang akan tumbuh terus, hampir tanpa batas. Juga beda dengan sagu dan nipah yang merupakan palem berumpun,yang berkembangbiak dengan anakan. Karena ketinggiannya terbatas, penyadapan aren jauh lebih mudah, tetapi dengan hasil nira yang lebih banyak dari kelapa maupun lontar.

Setelah tanaman mati, aren juga masih menghasilkan kayu yang kualitasnya cukup baik, meskipun volumenya sangat kecil. Hasil aren yang khas adalah ijuk, serat pada pangkal pelepah daun yang terjalin melingkari batang. Serat ijuk tidak bisa lapuk. Dengan lima hasil utama tersebut, aren memang layak untuk dikembangkan di manapun. Yang masih menjadi kendala, memang pembenihannya. Namun dengan teknologi modern, bisa dilakukan fermentasi buah kolang-kaling, dengan asam, serta bakteri yang ada pada lambung musang. Yang jadi kendala pembenihan aren saat ini, bukan lagi teknologi pembenihannya, melainkan ketersiaan biji kolang-kalingnya. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s