PELUANG BUDI DAYA STEVIA

Sebenarnya negeri kita kaya tumbuhan sumber bahan pemanis, untuk mengimbangi tingginya harga gula pasir (kristal putih gula tebu,  Saccharum officinarum, S. arundinaceum, dan S. spontaneum). Kita juga punya  kelapa (Cocos nucifera), aren (Arenga pinata), lontar, dan nipah (Nipa fruticans). Stevia pun bisa menjadi sumber pemanis,  yang berpotensi untuk dikembangkan.

Gula pasir dan gula merah yang kita kenal sekarang ini, dikategorikan sebagai sukrosa (sucrose, C12H22O11). Madu, kurma, dan buah-buahan juga bisa menjadi alternatif bahan pemanis, dan dikategorikan sebagai fruktosa (fructose, C6H12O6). Selain itu masih ada laktosa (lactose, gula susu, C12H22O11), dan glukosa (glucosa, gula darah, gula anggur/jagung, C6H12O6). Sakarosa, fruktosa, laktosa, dan glukosa, adalah pemanis berbahan organik. Selain itu masih dikenal pula puluhan jenis pemanis berbahan kumia. Diantaranya siklamat (cyclamate, C6H12NO3SNa), dan sakarin (sacharine, C7H5NO3S).
Rumus kimia sukrosa dan laktosa, serta fruktosa dan glukosa sama, namun bentuk (susunan) molekulnya berbeda.

Siklamat dan sakarin, digunakan sebagai pemanis minuman, dan makanan berharga murah. Itulah sebabnya, di tengah tingginya harga gula pasir sekarang ini, masih banyak dipasarkan sirup, serta minuman dengan harga sangat rendah. Bahan sintetis ini juga dimanfaatkan untuk pemanis tepung gorengan, misalnya pisang dan ubi jalar. Tepung pisang, dan ubi goreng terasa sangat manis, karena diberi siklamat, atau sakarin. Dua produk sintetis ini digunakan, karena tidak mengakibatkan gorengan hangus, seperti pada gula pasir maupun gula merah. Siklamat dan sakarin juga digunakan sebagai pemanis oleh para penderita diabetes, sebab dua-duanya hanya terasa manis, tetapi sama sekali tidak mengandung kalori.

# # #

Selain tebu dan palma (kelapa, aren, lontar, dan nipah), sumber bahan pemanis di dunia adalah bit (beet, Beta vulgaris), dan mapel (maple, Acer saccharum). Namun tanaman yang bisa menghasilkan bahan pemanis 300 kali dibanding gula biasa, hanyalah stevia. Ada sekitar 240 spesies dari genus Stevia, dan yang dikenal sebagai penghasil bahan pemanis adalah Stevia rebaudiana bertoni, atau lebih dikenal sebagai sweetleaf, sweet leaf, dan sugarleaf. Stevia disebut sebagai sweetleaf, karena yang menghasilkan bahan pemanis adalah daunnya. Stevia menjadi alternatif gula diet alami, sebab dianggap lebih baik dibanding siklamat dan sakarin. Maka budidaya stevia untuk diproduksi sebagai pemanis sintetis, telah berkembang di beberapa negara.

Semua genus stevia berasal dari Amerika Tengah dan selatan. Beberapa spesies juga bisa dijumpai di negara bagian Arizona, New Mexico, dan Texas, di AS. Zat aktiv pada daun stevia yang menimbulkan rasa manis adalah steviol glycoside rebaudioside A (Reb-A; C20H30O3).  Salah satu merk dagang pemanis berbahan baku stevia adalah Rebiana. Bahan pemanis pada daun stevia ini, pertamakali terdeteksi tahun 1899 oleh Moisés Santiago Bertoni, seorang ahli botani dari Swiss. Namun setelah itu, hampir tidak pernah ada penelitian yang cukup serius terhadap stevia. Baru pada tahun 1931, dua orang pakar kimia dari Perancis, berhasil mengisolasi zat glycosides, yang menimbulkan rasa manis pada daun stevia. Zat penimbul rasa manis pada daun stevia ini, mereka beri nama stevioside dan rebaudioside. Dua ahli kimia ini juga mendeteksi, bahwa tingkat kemanisan stevioside dan rebaudioside, antara 250 sampai 300 kali gula biasa.

Teknologi ekstraksi aglycone dan glycoside, dari daun stevia, pertamakali dipublikasikan tahun 1955. Awal tahun 1970an, Jepang mulai membudidayakan stevia sebagai bahan pemanis alternatif alami, selain siklamat dan sakarin. Tahun 1971, untuk pertamakalinya perusahaan Jepang Morita Kagaku Kogyo Co., Ltd. memroduksi pemanis alami berbahan baku stevia. Sejak itu, ekstrak stevia mulai digunakan sebagai pemanis dalam industri makanan dan minuman, termasuk Coca-cola “zero sugar”. Saat ini, bahan pemanis stevia diserap oleh sekitar 40% konsumen bahan pemanis sintetis. Dari Jepang, stevia kemudian berkembang ke  RRC (sejak 1984), Korea, Taiwan, Thailand, Malaysia, Australia, New Zealand, Brasil, Kolombia, Peru, Paraguay, Uruguay, dan Israel.

# # #

Tahun 1980an, Indonesia pernah mengembangkan stevia di Sukabumi, tetapi kemudian terhenti. Saat ini RRC adalah eksportir stevioside terbesar di dunia. Secara komersial rebaudioside A diproduksi dari daun stevia. Daun stevia dipanen dengan dipangkas berikut rantingnya, kemudian dikeringkan. Daun kering ini kemudian diekstrak secara basah (menggunakan air), hingga dihasilkan ekstrak kasar rebaudioside A sebesar 50%. Ekstrak kasar ini kemudian diekstrak ulang hingga dihasilkan rebaudioside A murni. Saat ini The National Research Council Kanada  telah mematenkan  proses ekstraksi daun stevia dengan sistem  column extraction pada temperatur 0-25°C , sesuai dengan tingkat kemurnian yang diharapkan, menggunakan  teknik filtrasi nano.

Dibanding dengan siklamat dan sakarin yang diduga bisa potensial memicu tumbuhnya sel kanker, maka pemanis buatan dari stevia relatif aman. Namun demikian,  tahun 2006, badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), telah mengevaluasi dampak penggunaan pemanis berbahan stevia bagi para penderita diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Penggunaan pemanis berbahan baku stevia, bagi para penderita penyakit tersebut, tetap memerlukan pengawasan dokter. Meskipun demikian, stevia tetap berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Pembenihan, budi daya, panen, dan pasca panen stevia relatif mudah dikerjakan oleh para petani kita. Yang jadi masalah justru niat baik pemerintah. Sebab budidaya tebu pun, sekarang tidak terurus hingga negeri tempat asal-usul tebu ini, sekarang justru jadi pengimpor gula tebu. (R) # # #

One thought on “PELUANG BUDI DAYA STEVIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s