PELUANG AGROINDUSTRI DAMAR

Damar (damar gum), adalah komoditas hutan (agroforestry), yang sudah dikenal sejak tahun 2000 SM. Salah satu bahan untuk mengawetkan mumi para Firaun Mesir Kuno, adalah damar. Penciutan areal hutan, telah membuka peluang budidaya pohon damar sebagai hutan tanaman industri (HTI), maupun hutan rakyat.

Dalam dunia perdagangan, dikenal banyak jenis damar. Di antaranya damar batu, damar kopal, damar agatis, dan damar mata kucing. Damar mata kucing paling tinggi harganya, karena pemanfaatannya juga paling luas. Mulai untuk kosmetik, parfum, bahan pelapis (pernis) dll. Sementara damar batu banyak digunakan sebagai pelapis dan penyekat antar kayu pada konstruksi kapal. Banyaknya jenis damar, disebabkan oleh banyaknya jenis pohon yang bisa menghasilkan damar, yang semuanya termasuk famili Dipterocarpaceae.  Famili Dipterocarpaceae terdiri dari 17 genera, dan sekitar 500 spesies tumbuhan, yang umumnya berupa pohon.

Genera yang paling banyak spesiesnya adalah Shorea (196 spesies), Hopea (104 spesies), Dipterocarpus (70 spesies), dan Vatica (65 spesies). Spesies yang banyak tumbuh di hutan-hutan Indonesia dan disadap getah damarnya adalah Shorea, Vatica, dan Dryobalanops. Di antaranya yang paling populer adalah Shorea  javanica, yang menghasilkan damar mata kucing. Di Lampung, masyarakat sudah mulai mencoba membudidayakan pohon Shorea  javanica, di antara kebun kopi mereka. Hingga selain menghasilkan kopi, kebun tersebut juga menghasilkan getah damar. Selain itu, di bawah tegakan kopi dan damar, juga masih bisa dibudidayakan tanaman empon-empon (kunyit,  jahe, temulawak, dll.

# # #

Masyarakat banyak yang salah paham, menganggap getah damar dihasilkan oleh pohon damar. Padahal pohon damar, misalnya yang banyak dijumpai di Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Cibodas, adalah jenis Agathis, yakni Agathis dammara. Meskipun Agathis dammara juga menghasilkan resin, namun nilai ekonomisnya hampir tidak ada. Getah damar yang nilai ekonomisnya paling tinggi adalah resin dari pohon Shorea  javanica. Getah inilah yang sudah diburu oleh para pedagang India, China, dan Arab, sampai ke Sumatera, Kalimantan, dan juga (ketika itu) di pulau Jawa. Sekarang di Jawa sudah sulit didapatkan pohon Shorea  javanica, yang diambil getahnya.

Pohon Shorea  javanica bisa mencapai ketinggian lebih dari 30 m, dengan diameter batang lebih dari 1 m. Menyadap getah damar, beda dengan getah pinus (Pinus Merkusii), atau karet (Hevea brasiliensis), yang bisa dilakukan pada pangkal batang. Damar Shorea  javanica harus disadap pada batangnya, sampai dengan ketinggian belasan meter. Hingga penyadap damar harus memanjat pohon tersebut, dengan bantuan tali sebagai pengaman. Penyadapan dilakukan dengan melukai kulit batang (menakik), sama dengan pada penyadapan pohon pinus untuk diambil gondorukemnya. Luka takikan itu akan menghasilkan resin, yang mengeras di sekitar luka takikan.

Kadang-kadang resin itu juga akan meleleh pada kulit batang, atau jatuh ke tanah. Setelah resin terkumpul cukup banyak, penyadap harus kembali memanjat pohon untuk memungutnya, dan mengumpulkannya dalam keranjang yang digendong di punggungnya. Resin yang melekat pada kulit batang, juga yang berjatuhan di tanah akan diambil dengan sangat hati-hati. Secara rutin, para pengambil getah damar akan melakukan penakikan baru, dan mengambil resin pada luka takikan lama. Hingga setelah rutin menyadap, para pengambil getah sekaligus akan membawa keranjang tempat resin, sekaligus kapak untuk membuat luka takikan baru.

Pekerjaan mengambil getah damar di Lampung, juga di Kalimantan, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, melainkan juga oleh kaum perempuan. Bahkan persentase perempuan pengambil getah damar, justru lebih banyak dari laki-laki. Setelah pohon damar tidak menghasilkan resin, bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Famili Dipterocarpaceae memang merupakan tanaman hutan penghasil kayu dengan kualitas baik. Pohon famili Dipterocarpaceae umumnya berbatang lurus, dengan bentuk batang bulat, hingga banir kayu famili Dipterocarpaceae relatif mudah dikerjakan untuk bahan meubel, bangunan, maupun kayu lapis.

# # #

Sebelum terjadi penciutan lahan hutan, damar dengan mudah dicari di hutan. Dengan adanya HPH, penebangan hutan untuk perkebunan sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI), maka pohon damar, khususnya Shorea  javanica juga terkikis. Masyarakat Lampung memang sudah banyak yang mulai membudidayakan pohon Shorea  javanica di lahan mereka, namun kebutuhan damar untuk pasar internasional, masih belum bisa tercukupi dari damar hasil budidaya tersebut. Sementara damar yang selama ini dihasilkan dari hutan, sekarang volumenya sudah semakin menyusut. Antara tahun 1960an sd. 1990an, produk damar, khususnya sebagai bahan pelapis, bisa disubstitusi oleh minyak bumi.

Pada suatu saat nanti minyak bumi akan habis. Selain itu, masyarakat di negara-negara maju, sekarang juga mulai sadar untuk menggunakan bahan-bahan alami dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk penggunaan resin damar. Ketika masalah  pemanasan global menjadi isu di mana-mana, peluang budidaya pohon Shorea  javanica, bukan sekadar untuk menghasilkan damar, atau kayu, melainkan juga merupakan upaya untuk meredam emisi karbon di udara. Pembenihan pohon damar Shorea  javanica, sudah dilakukan oleh banyak pihak, terutama oleh Perum Perhutani, PTPN, dan swasta pemilik HPH serta HTI. (R) # # #

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s