PELUANG BUDI DAYA JATI

Harga lelang kayu jati di dalam negeri, saat ini berkisar Rp 3 juta per m3. Harga lelang di luar negeri, sekitar Rp 5 juta per m3. Hingga kayu jati tergolong sebagai kayu termahal di dunia, setelah eben (ebony), dan cendana. Jati kualitas terbaik justru berasal dari kawasan pegunungan kapur yang kering dan tandus.

Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Timur, masih menjadi pemasok kayu jati terbesar di pasar dunia. Jati Jawa, khususnya yang berasal dari Pegunungan Kendeng, juga masih yang terbaik di dunia. Kualitas kayu jati memang sangat ditentukan oleh tempat tumbuhnya. Jati menghendaki tanah berkapur. Misalnya di pegunungan Kendeng (dari Purwodadi sampai Jombang), Pegunungan Kapur Utara (Rembang sampai Lamongan), dan Pegunungan Seribu (Gunung Kidul sampai Blitar). Semakin kering suatu kawasan, semakin baik kualitas kayu jati yang tumbuh di sana.

Meskipun dalam perdagangan kayu jati, tidak dikenal asal-usul kayu tersebut. Penentu tinggi rendahnya harga kayu hanyalah jenis (vinir, hara), kualitas (utama, pertama, kedua dst. sampai mutu kelima); diameter, dan panjang gelondongan. Vinir adalah kayu jati dengan serat halus tanpa mata bekas cabang. Vinir biasa digunakan sebagai pelapis. Hara adalah kayu jati biasa. Kualitas kayu, ditentukan oleh banyak faktor, terutama oleh umur tanaman. Kayu dari tanaman umur 30 tahun, beda kualitasnya dengan kayu dari jati berumur 80 atau 100 tahun.

# # #

Promosi para pedagang benih jati unggul adalah: “Jati ini bisa dipanen pada umur 15 tahun.” Memang benar, tetapi kualitas kayunya masih sangat rendah, diameternya juga masih kecil, hingga kayu jati unggul yang dipanen pada umur 15 tahun, harganya akan sangat rendah. Terutama jika dibandingkan dengan jati Perum Perhutani, yang dipanen pada umur di atas 50 tahun. Sebab kayu jati hasil panen tanaman umur 15 tahun, belum masuk kelas kualitas (mutu kelima pun belum). Tanaman jati baru akan masuk kelas kualitas, pada umur di atas 30 tahun. Selain meningkatkan kualitas, umur tanaman juga akan meningkatkan diameter kayu, yang ikut menaikkan harga.

Selama sekitar 10 tahun terakhir, memang banyak dipromosikan benih jati unggul dengan berbagai nama. Misalnya jati emas, jati super, dan disebutkan jati-jati tersebut berasal dari Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Padahal klon-klon jati terbaik justru yang berasal dari Jawa. Saat ini Perum Perhutani punya sekitar 600 klon jati unggul, yang semuanya spesies Tectona grandis. Sebanyak 300 klon ada di Jawa, dan 300 klon ada di luar Jawa. Perum Perhutani, tidak biasa memberi nama kolon-klon jati unggul ini, melainkan hanya memberi kode huruf dan angka. Selain hasil seleksi, klon-klon unggul ini juga merupakan hasil pemuliaan (silangan), dari Pusat Penelitaian dan Pengembangan Perum Perhutani di Cepu.

Yang selama ini disebut jati Myanmar, sebenarnya juga jati Tectona grandis. Klon jati Tectona grandis yang dikembangkan di Myanmar, Thailand, dan Vietnam, sama dengan yang dibudidayakan oleh Perum Perhutani. Di Myanmar memang ada spesies jati Tectona hamiltoniana (Dahat Teak), yang endemik negeri ini, dengan status nyaris punah. Sama halnya dengan Filipina yang punya spesies jati Tectona philippinensis (Philippine Teak), yang kondisinya juga nyaris punah. Dua jenis jati ini tidak pernah dibudidayakan secara komersial, seperti halnya jati Tectona grandis. Tectona grandis sendiri, berasal dari India dan Indochina. Masuk ke kawasan Indonesia, khususnya Jawa, karena dibawa oleh para pedagang Hindu.

Benih jati yang selama ini dipromosikan sebagai “jati unggul”, diperbanyak dengan teknik kultur jaringan. Perum Perhutani juga pernah mengembangbiakkan jati dengan teknik ini pada tahun 1970an. Tidak lama kemudian, teknik ini ditinggalkan, karena kualitas jati yang dihasilkan tidak sebaik benih dari biji, atau setek pucuk. Hingga sampai sekarang, Perum Perhutani hanya memperbanyak benih jati melalui biji, dan setek pucuk. Pembenihan jati Perum Perhutani, dipusatkan di Cepu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di sini, masyarakat bisa mendapatkan penjelasan tentang seluk-beluk agroforestri jati, lengkap dengan “loko tour”, yakni naik gerbong kereta uap, yang biasa digunakan untuk mengangkut balok-balok jati.

# # #

Agroforestry jati bisa dikembangkan secara tumpang sari, dengan komodias lain. Perum Perhutani, biasa menyerahkan lahan bekas tebangan kepada rakyat, untuk ditanami padi ladang dan palawija, dengan sistem bagi hasil. Di bawah tegakan jati dewasa, rakyat juga masih bisa menanam empon-empon (jahe, kunyit, temulawak, dll). Hutan jati, bahkan bisa dikembangkan sebagai lahan peternakan sapi, domba, dan kambing. Perkebunan, termasuk PT Perkebunan Nusantara (PTPN), juga sudah mulai mengembangkan tanaman jati, sebagai pembatas kebun kopi, kakao, dan karet, tanpa mengganggu tanaman pokoknya.

Makin ke depan, kebutuhan katu, terlebih kayu jati, akan makin tinggi. Sebab permintaan akan terus tumbuh, sementara pertumbuhan pasokan hampir tidak tampak. Para investor umumnya tidak tertarik membudidayakan jati, karena umur panennya yang sangat panjang. Promosi bahwa jati unggul bisa dipenan pada umur 15 tahun, tidak terlalu direspon positif oleh investor besar. Hingga yang tertipu membeli berbagai benih jati unggul, hanyalah investor kelas kecil, yang pengetahuannya pas-pasan. Sebab untuk meraih keuntungan optimal, jati baru bisa dipanen pada umur di atas 30 tahun. Makin tua umur tanaman, akan semakin tinggi kualitas kayunya.

Jati merupakan tanaman dataran rendah sampai menengah di kawasan tropis. Meskipun lebih cocok dibudidayakan di pegunungan kapur yang kering, jati tetap mau tumbuh baik di Jawa Barat yang relatif lembap. Pertumbuhan jati di kawasan ini akan lebih cepat dibanding jati di kawasan kering. Namun untuk mencapai kualitas mutu pertama, atau utama, umur tanaman harus lebih tua dibanding dengan jati yang dibudidayakan di kawasan kering. Dengan kisaran harga Rp 3 juta per m3, jati tetap merupakan pilihan investasi menarik. Kayu dengan kelas kekuatan, dan keawetan terbaik di dunia ini, akan terus diburu konsumen, juga para pencuri. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s