COCO DE MER, KELAPA AJAIB SEYCHELLES

Coco de Mer, kelapa maladewa, kelapa seychelles, kelapa laut, kelapa ganda, atau ada juga yang menyebut kelapa jenggi (Lodoicea maldivica), adalah palem hias yang paling unik di dunia. Tumbuhan ini endemik pulau Praslin dan Curieuse, di negara kepulauan Seychelles sebelah timur laut Madagaskar. Sekarang  Coco de Mer sudah dikoleksi oleh semua kebun raya besar di dunia, termasuk Kebun Raya Bogor.

Buah Coco de Mer, berdiameter 40 sampai 50 cm, dengan bobot antara 15 sampai 30 kg per butir. Dari mulai bunga sampai buah tua, diperlukan waktu tujuh tahun. Perkecambahan buah tua, memerlukan waktu dua tahun. Setelah tanaman tumbuh, diperlukan waktu sekitar 30 tahun untuk berbuah. Meskipun disebut kelapa, sosok palma Coco de Mer tidak mirip dengan pohon kelapa. Tinggi tanaman mencapai 25 sampai 35 meter. Daun Coco de Mer melebar mirip daun palem kipas, dengan panjang 7 sampai 10 meter, lebar 4,5 meter. Bentuk, ukuran pohon, daun, dan  buah, Coco de Mer benar-benar beda dengan kelapa biasa.

Coco de Mer disebut kelapa maladewa, karena buah kelapa ini pertama kali diketemukan di kepulauan Maladewa, di sebelah selatan India. Baru kemudian ketahuan, bahwa Coco de Mer hanya tumbuh di pulau Praslin dan Curieuse, dua pulau di kapulauan Seychelles, yang berjarak ribuan kilometer dari Maladewa. Pelaut yang pertama kali melihat biji Coco de Meer terapung-apung di laut, telah mengiranya sebagai potongan tubuh perempuan. Sebab sepintas, tempurung buah Coco de Mer yang telah dibuang sabutnya, mirip dengan bagian pinggul tubuh perempuan. Coco de Mer  pertama kali ditemukan oleh bangsa Eropa tahun 1768.

# # #

Nama latin Coco de Mer Lodoicea maldivica, digunakan untuk menghormati Raja Louis XV dari Perancis. Louis dalam bahasa latin adalah Lodoicea. Meskipun kemudian terbukti bahwa Coco de Mer endemik kepulauan Seychelles, nama maldivica tetap melekat pada nama latin Coco de Mer. Sama dengan Maladewa (Maldives), Seychelles sendiri adalah sebuah negara kepulauan. Ada 46 pulau dan 67 karang (koral) di negara ini. Yang paling besar adalah pulau Seychelles, kedua pulau Praslin yang terletak di timur laut Seychelles. Pulau Curieuse adalah pulau kecil yang terletak di sebelah utara Praslin. Yang mengherankan, Coco de Mer hanya tumbuh di dua pulau kecil ini, padahal pulau-pulau lain berdekatan letaknya dengan Praslin dan Curieuse.

Seychelles adalah sebuah negara kepulauan, berbentuk republik, berpenduduk sekitar 90.000 jiwa, dengan ibukota Victoria. Luas total daratan di kepulauan ini 455 km2. Di Kepulauan Seychelles, tumbuh sekitar 75 jenis flora yang endemik pulau ini, termasuk Coco de Mer. Hingga pulau ini merupakan cagar alam dunia yang pelestariannya menjadi perhatian banyak badan dunia. Meskipun sekarang Coco de Mer sudah dikoleksi oleh banytak kebun raya, bahkan juga beberapa perorangan di dunia. Pemeritah negara Seychelles, sangat ketat mengamankan Coco de Mer di habitat aslinya. Siapa pun yang akan  membawa keluar biji Coco de Mer, harus memperoleh ijin dari Kementerian Lingkungan Hidup Seychelles.

Pengamanan yang ketat ini bisa dimengerti, mengingat banyak kolektor tanaman hias dunia yang menginginkan tumbuhan ini. Sebab inilah tumbuhan dengan batang tertinggi, daun terlebar, buah (biji) terbesar, serta jangka waktu pertumbuhan terlama di dunia. Tanaman Coco de Mer berumah dua, artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat pada dua individu pohon berbeda. Coco de Mer juga menarik, karena bentuk tempurung buahnya yang mirip dengan bentuk pinggul perempuan. Namun sebenarnya, tidak semua buah Coco de Mer akan benrbentuk demikian. Hanya buah yang berisi dua biji yang akan berbentuk seperti pinggul perempuan. Buah Coco de Mer memang bisa berbiji satu, berbiji dua, berbiji tiga, dan berbiji empat.

Buah yang nilainya tertinggi sebagai koleksi, atau benda hias hanyalah yang berbiji ganda. Buah berbiji satu, tiga atau empat tidak terlalu diminati kolektor. Beda dengan buah kelapa biasa yang bagian dalamnya berongga dan berisi air, biji Coco de Mer padat, seperti biji buah siwalan (lontar, Borassus flabellifer). Biji ini terlindung dalam tempurung yang tebal dan juga keras. Meskipun bagian luar buah berlapis sabut tebal, seperti halnya kelapa biasa, Coco de Mer tetap terlalu berat hingga tidak mampu mengapung di air laut. Buah Coco de Mer yang mengapung di laut, pasti bagian daging buahnya telah busuk atau hilang. Inilah antara lain yang menyebabkan Coco de Mer hanya endemik di Pulau Praslin dan Curieuse.

# # #

Lambannya pertumbuhan, dan langkanya Coco de Mer, justru sangat menarik minat para kolektor tanaman hias dunia. Buah coco de Mer yang sudah tua, yakni sudah mencapai umur tujuh tahun, harus dikecambahkan dulu selama dua tahun. Setelah benih ini tumbuh dan ditanam di lapangan, kita harus menunggunya selama antara 20 hingga 30 tahun, baru tanaman itu akan berbuah untuk pertama kalinya. Agar Coco de Mer bisa berbuah, kita juga harus punya tanaman berbunga  jantan dan betina sekaligus. Kalau hanya ada satu tanaman Coco de Mer berbunga jantan, atau betina, maka tanaman tersebut tidak akan berbuah.

Lamanya pertumbuhan dan sifat tanaman yang berumah dua inilah yang mengakibatkan Coco de Mer sulit untuk berkembang biak di kawasan di luar Pulau Praslin dan Curieuse. Bahkan di Kepulauan Seychelles yang terdiri dari 46 pulau pun, yang ditumbuhi Coco de Mer hanyalah dua pulau. Karena langkanya tumbuhan ini, juga karena ketatnya Pemerintah Seychelles mengamankannya, maka harga buah Coco de Mer, terutama yang berbiji dua menjadi sangat tinggi. Harga buah per butir bisa mencapai lebih dari 100 $ AS. Biji Coco de Mer yang berbentuk sempurna, malahan bisa mencapai harga 500 $ AS per butir.

Selain sebagai tanaman hias, dan buahnya sebagai hiasan ruangan, daging buah Coco de Mer juga dipercaya berkasiat sebagai bahan obat tradisional India (Ayurvedic) dan China. Meskipun khasiat buah Coco de Mer sebagai bahan obat, lebih disebabkan oleh mitosnya. Sama halnya dengan cula badak, dan penis harimau, yang juga dipercaya berkhasiat obat. Meskipun Coco de Mer merupakan salah satu tumbuhan ajaib, Kebun Raya Bogor yang mengoleksinya, belum memanfaatkannya sebagai daya tarik bagi pengunjung. Pada batang tanaman koleksi tersebut, hanya terpasang nama latin dari Coco de Mer, tanpa penjelasan apa pun. (R) # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s