BEBERAPA CATATAN TENTANG AGROINDUSTRI BELUT

Beberapa waktu belakangan ini, banyak informasi tentang peluang agroindustri belut. Komoditas ini diinformasikan bisa dibudidayakan di halaman sempit, dengan kolam (bak) dari bahan terpal. Dalam jangka waktu dua bulan sudah bisa dipanen, dengan harga jual Rp 45.000 per kg, dengan pasar yang “tanpa batas”.

Tahun 1970an, informasi tentang budi daya belut lebih menyesatkan lagi. Dalam berbagai artikel, dan buku, disebutkan bahwa belut bisa dibudidayakan di dalam drum bekas, yang diisi lumpur campur cincangan batang pisang. Batang pisang itu akan menghasilkan cacing, yang akan menjadi pakan belut. Maka orang pun beternak belut dengan mengikuti cara ini. Hasilnya, setelah dua bulan dan lumpur dibongkar, puluhan benih belut yang ditebar, hanya akan menyisakan  dua ekor belut, jantan dan betina. Belut lain telah menjadi korban kanibalisme.

Belut adalah hewan karnifora (pemakan daging). Hingga untuk menghasilkan belut konsumsi satu kuintal, dari benih satu kilogram, selama dua bulan, diperlukan pakan dari bahan hewani (pakan basah), sebanyak minimal dua kuintal (1:2). Pakan yang secara ekonomis bisa untuk pakan belut adalah cacing tanah, bekicot, siput, usus ayam, telur yang tidak menetas, dan ayam atau itik mati. Kalau lokasi budi daya belut berdekatan dengan peternakan ayam atau itik, maka pakan belut dari ayam atau itik mati menjadi sangat ekonomis. Tanpa diberi pakan dari bahan hewani dalam jumlah cukup, belut akan saling memakan satu sama lain.

# # #

Belut yang dibudidayakan adalah belut sawah, Monopterus albus, (Swamp eel, Rice eel, White ricefield eel). Belut sawah masuk genus Monopterus, yang terdiri dari 10 spesies. Selain belut sawah, ada pula belut rawa (Ophysternon), dan belut laut (Macrotema). Belut yang tergolong keluarga Synbranchidae, dibedakan  dengan sidat  yang bersirip, dan masuk keluarga Anguillidae. Sampai sekarang belut sawah belum bisa dipijahkan (dikembangbiakkan), secara buatan, seperti halnya sidat jepang, dan jenis-jenis ikan lainnya seperti lele, mas, gurami, patin, dan nila. Hingga benih belut yang akan dibudidayakan selalu berupa belut alam yang diambil dari sawah.

Budi daya belut memang bisa dilakukan dalam kolam (bak), berkerangka kayu atau bambu, yang diberi lapisan terpal (plastik tenda). Ukuran kolam minimal 2 X 4 m, dengan ketinggian 1 m, ketebalan lumpur minimal 60 cm, dan air secara konstan 10 cm dari permukaan lumpur. Media budi daya belut paling baik berupa lumpur sawah. Bisa pula berupa tanah yang dicampur dengan bahan organik yang sudah terkomposkan. Misalnya pupuk kandang, guano, humus, dan kompos. Cincangan batang pisang justru sangat tidak dianjurkan, karena lama proses pembusukannya. Kecuali batang pisang yang telah benar-benar hancur membusuk di lokasi penebangan. Media budi daya berupa tanah dicampur dengan bahan organik, memerlukan proses pematangan paling sedikit selama satu minggu. Apabila bahan organik belum terkomposkan, pematangan memerlukan waktu paling sedikit selama satu bulan. Hingga media paling aman adalah lumpur sawah.

Kebutuhan pakan belut, minimal 20 kali bobot benih. Jadi kalau kita menebar benih satu kilogram, maka diperlukan pakan basah selama dua bulan sebanyak 200 kilogram. Kalau kita menebar sampai lima kilo benih, maka diperlukan pakan basah sebanyak satu ton. Semakin tinggi kualitas pakan, maka konversinya juga akan semakin tinggi. Semakin buruk kualitas pakan, konversinya akan semakin rendah. Belut yang benihnya masih tangkapan dari alam, tidak mau diberi pakan pelet, seperti halnya lele atau sidat jepang. Hingga merancang agroindustri belut, sebenarnya hanyalah merencanakan program produksi pakan murah, berupa limbah peternakan.

Salah satu upaya paling aman, adalah dengan beternak cacing, bekicot, atau siput sawah. Cacing tanah (cacing merah, genus Lumbricus), dan bekicot (Achatina fulica dan Achatina achatina), bisa diberi pakan sampah organik. Selain menghasilkan bahan pakan belut yang murah, cacing tanah juga masih menghasilkan kotoran cacing (bekas cacing, kascing), yang merupakan pupuk organik kualitas tinggi. Dengan memelihara cacing tanah atau bekicot, maka pakan belut bisa divariasi dari usus ayam, atau limbah peternakan lainnya, dengan bahan hewani yang segar, dan alami. Hingga kualitas belut yang dihasilkan juga akan lebih baik.

# # #

Meskipun harga belut lebih tinggi dibanding ikan konsumsi lainnya, kebutuhan belut untuk konsumsi lokal sangat kecil. Bahkan paling kecil jika dibandingkan dengan ikan konsumsi seperti lele, mas, patin, nila, dan gurami. Pasar ekspor pun, sebenarnya juga tidak sebesar yang sering dipromosikan oleh para penjual benih, dan jasa kursus beternak belut. Maka, sebelum memulai beternak belut, faktor pasar harus benar-benar dikuasai. Kita harus benar-benar bisa ketemu dengan penampung belut konsumsi, baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor. Terhadap pihak yang menyatakan menjamin pasar, tetapi kemudiak menawarkan benih serta pelatihan, kita justru harus ekstra hati-hati.

Kalau kita serius ingin membudidayakan belut secara rutin dalam volume besar, paling tepat mengadakan ujicoba beberapa bak, kemudian hasilnya ditawarkan ke pembeli di luar negeri. Misalnya di Singapura, atau Hongkong. Caranya, dengan mencari alamat pembeli di internet, menawarkan, mengirim contoh, dan kemudian melakukan transaksi. Setelah transaksi terjadi, produksi dimulai, lalu prosedur ekspor, dipenuhi. Baik menyangkut sertifikat mutu (SNI), CITES, dan lain-lain. Kemudian kita harus membuat bank garansi, sementara importir luar negeri membuka LC. Setelah barang diterima, LC bisa dicairkan.

Ekspor biasanya akan lancar dan sederhana kalau dalam bentuk FOB (diterima di bandara setempat). Belut yang diimpor harus dalam bentuk hidup, hingga packing dengan oksigen, suhu yang diatur konstan, dll, menjadi sangat penting. Namun melakukan eskpor sendiri, jauh lebih berprospek daripada “ditipu” olah penampung belut di dalam negeri. Bahkan sebenarnya, resiko ditipu oleh pembeli luar negeri pun juga tinggi. Maka paling aman kalau kita bisa punya konsultan (superviser), yang berasal dari negeri bersangkutan, atau malahan yang dikirim oleh pembeli dari luar negeri tersebut. Maka, agroindustri belut tidak sesederhana yang diklaim oleh para penjual benih dan jasa pelatihan. (R) # # #

2 thoughts on “BEBERAPA CATATAN TENTANG AGROINDUSTRI BELUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s