PELUANG ILES-ILES UNTUK KONYAKU

Sdr. Rama di Bogor, diajak tantenya untuk memanfaatkan dua hektar lahan di Tawangmangu, Jateng, untuk budidaya iles-iles. Apakah benar komoditas iles-iles punya prospek baik dimasa mendatang? Bagaimana teknik budidayanya?

Pertama-tama, Sdr. Rama harus membedakan antara niat untuk memanfaatkan lahan di Tawangmangu, dan keinginan untuk berbisnis iles-iles. Dua hal tersebut sangat berbeda. Kalau niatnya sejak awal hanya ingin memanfaatkan lahan di Tawangmangu, maka paling tepat lahan tersebut ditanami vila. Sebab Tawangmangu adalah kawasan wisata, hingga vila atau hotel menjadi bisnis yang paling menarik.

Kalau ingin berbisnis iles-iles, maka lahan bukan menjadi faktor utama. Sebab yang pertama-tama harus kita upayakan adalah kejelasan pasar secara riil. Iles-iles (umbi porang, Amorphophallus muelleri), adalah bahan untuk makanan jepang yang disebut konyaku dan shirataki. Aslinya, konyaku dan shirataki dibuat dari bahan umbi konyak (Amorphophallus konjac), yang hanya bisa dibudidayakan di kawasan sub tropis. Maraknya restoran Jepang di Indonesia, jelas menjadikan iles-iles sangat berprospek untuk masa mendatang. Demikian pula halnya dengan beras jepang (Oryza sativa var. japonica). Nah, lahan di Tawangmangu itu, paling tepat ditanami padi jepang, yang benihnya sudah mulai beredar secara terbatas.

Selama ini iles-iles sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Sentra iles-iles adalah kawasan hutan jati mulai dari Purwodadi (Jateng), sampai ke Bojonegoro (Jatim). Budidaya iles-iles dilakukan oleh petani, di hutan jati milik Perum Perhutani. Selain di kawasan hutan jati, iles-iles juga dibudidayakan secara tumpangsari dengan jagung, di kawasan Blitar (Jatim). Iles-iles merupakan tanaman berumbi genus Amorphophallus. Iles-iles masih satu genus dengan suweg (Amorphophallus paeoniifolius) yang banyak dibudidayakan di Jawa Tengah, dan bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum), yang sering menjadi tontonan di Kebun Raya Bogor.

Iles-iles ditanam dari biji, tunas dan anakan umbinya. Anakan umbi sebesar telur ayam, kalau ditanam pada musim penghujan, baru akan bisa dipanen dalam waktu dua tahun. Ketika itu ukuran umbinya sudah berdiameter 15 cm. Sebagaimana tanaman berumbi lainnya, iles-iles akan mengalami masa dorman (istirahat), selama musim kemarau. Ketika itu seluruh daun serta batang semunya akan layu dan mengering. Tinggal umbi (batang sejati), beristirahat di dalam tanah. Pada masa dorman inilah iles-iles dipanen.

Selama ini umbi iles-iles selalu dipasarkan segar. Hingga kulit yang penuh tunas, serta tunas utama, akan ikut terjual. Di perusahaan pengolahan iles-iles, kulit serta tunas utama ini akan terbuang sebagai sampah. Padahal, kulit serta tunas utama akan menghasilkan anakan, serta tanaman baru, yang tahun depan bisa kembali dipanen. Hingga idealnya, petani langsung mengupas, dan mengambil tunas utama itu langsung di lahan.

Kulit dan tunas utama umbi iles-iles, langsung ditaruh dalam lubang, dan kembali ditimbun. Tunas utama yang dipotong dari umbi, ditaruh terbalik dalam lubang, agar bisa tumbuh sempurna dan tahun depan menghasilkan umbi dengan ukuran lebih besar dari panen sebelumnya. Dengan cara ini, populasi tanaman iles-iles akan terus bertambah banyak.

Irisan umbi iles-iles tersebut, perlu direndam dalam larutan garam 5% atau sodium metabisulfit untuk menghilangkan kalsium oksalat dan alkaloid yang bisa menimbulkan rasa gatal dan rasa pahit, sekaligus untuk bleaching (pemutihan). Setelah perendaman sekitar 1 menit, irisan umbi segera dikeringkan dengan penjemuran

Umbi yang telah terkupas, bisa langsung diiris menjadi belahan setebal 0,5 cm, direndam larutan garam 5% atau sodium metabisulfit, lalu dijemur sampai kering. Keripik iles-iles inilah yang kemudian digiling dan diayak, untuk diambil glukamanannya. Dalam pengayakan tepung umbi-umbian, misalnya tepung gaplek, yang diambil adalah karbohidratnya (patinya), sementara serat kasarnya dibuang. Pada iles-iles, yang diambil justru serat kasarnya, sementara tepungnya dibuang. Sebab serat kasar inilah yang disebut glukomanan.

Glukomanan bisa langsung dipasarkan, atau diolah menjadi konyaku dan shirataki. Caranya, glukomanan dimasukkan ke dalam air mendidih, diaduk-aduk, kemudian didinginkan. Gumpalan glukomanan yang telah dingin dan memadat, kalau dipotong besar-besar, akan menjadi konyaku. Kalau potongannya lembut mirip bihun, namanya shirataki. Selama ini, masih sedikit orang yang tertarik menangani padi jepang dan iles-iles. Sdr. Rama, selamat bekerja dengan tentenya. # # #

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s