POTENSI BUDI DAYA TUBA

Tingginya harga pestisida belakangan ini, telah mengakibatkan petani kesulitan mengatasi serangan hama dan penyakit. Di lain pihak, konsumen juga mulai sadar, bahwa penggunaan pestisida kimia pada budidaya komoditas pangan, sayuran dan buah-buahan, potensial menimbulkan gangguan kesehatan.

Dengan kondisi seperti ini, penggunaan pestisida organik dalam budidaya komoditas pangan, sayuran dan buah-buahan, menjadi salah satu alternatif yang menarik. Alternatif lain adalah penggunaan net putih (kain kelambu), yang menutup seluruh areal pertanian. Cara seperti ini sudah lazim dilakukan untuk budidaya buah-buahan dan sayuran di beberapa negara. Misalnya di Jepang dan Taiwan. Di Indonesia, penggunaan net pada lahan pertanian antara lain dilakukan di areal penanaman tembakau cerutu di Klaten, dan Jember.

Bagi petani Indonesia (perorangan), penggunaan net untuk buididaya tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan masih terlalu mahal. Penggunaan pestisida organik sebenarnya juga sudah biasa dilakukan petani, tetapi masih sebatas pada budidaya udang dan bandeng di tambak air payau. Bahan pestisida organik yang mereka gunakan antara lain daun tembakau, dan biji teh. Hasilnya cukup efektif, dan tidak menimbulkan timbunan residu yang mencemari lingkungan. Namun daun tembakau dan tumbukan biji teh. Masih belum banyak digunakan oleh para petani di lahan pertanian.

# # #

Salah satu sumber pestisida organik yang potensial untuk dibudidayakan secara massal adalah tuba (jenu, Derris elliptica). Sekarang ini, kita sudah melupakan tanaman tuba. Jarang sekali orang yang mengenal sosok tumbuhan ini, meskipun peribahasa “Air susu dibalas dengan air tuba.” masih tetap diajarkan di sekolah. Masyarakat pedesaan, hanya mengenal tuba sebagai racun untuk menangkap ikan di sungai. Tuba adalah tumbuhan liana, yakni batangnya berkayu, tetapi memanjat dengan cara membelit. Hingga budidaya tuba memerlukan tiang atau tumbuhan lain sebagai panjatan.

Sebenarnya ada sekitar 204 spesies, sub spesies, varietas, dan kultivar Derris., tetapi yang paling banyak dibudidayakan masyarakat hanyalah Derris elliptica. Tuba bisa diperbanyak dengan cara generatif (melalui biji), maupun vegetatif (stek batang/cabang). Perbanyakan dengan stek batang/cabang, akan lebih cepat menghasilkan individu tanaman baru. Meskipun perbanyakan secara massal, akan lebih ekonomis menggunakan biji yang disemai. Pertumbuhan tuba agak lamban. Diperlukan umur di atas 5 tahun, agar tanaman mampu menghasilkan  bunga dan buah (biji).

Bunga tuba berbentuk malai dengan warna pink cerah. Masing-masing kuntum bunga akan menghasilkan polong, yang hanya berisi satu biji, dengan bentuk dan ukuran sebesar biji buncis. Polong tuba akan berjatuhan di sekitar tajuk tanaman. Masa dorman biji tuba sangat singkat, kurang dari satu bulan. Hingga biji yang terkumpul harus segera disemai. Penyemaian dilakukan dalam wadah pot yang cukup besar (tinggi), dengan media pasir campur humus atau kompos. Wadah semai harus cukup tinggi, sebab akar tuba akan tumbuh terlebih dahulu, dengan ukuran cukup panjang.

Penyemaian biji tuba memerlukan waktu sekitar dua bulan, baru akan menumbuhkan tunas. Keping biji tuba akan tetap berada dalam media, hingga yang keluar hanyalah tunas bakal batang. Setelah tunas keluar, wadah semai dibongkar, dan kecambah tuba dengan akarnya yang sangat panjang itu dipindah satu-satu ke pot paling kecil, atau gelas plastik yang telah dilubangi bagian bawahnya. Semaian tuba dari biji baru bisa ditanam di lapangan pada umur di atas satu tahun. Beda dengan benih stek yang pada umur tiga sampai empat bulan sudah bisa dipindah ke lapangan.

# # #

Bahan stek tuba berupa cabang atau ranting berdiameter sebesar pensil atau jari tangan orang dewasa, dengan panjang potongan 30 cm. Bagian pangkal potongan stek, diolesi Rootone atau Bioroota (zat perangsang pertumbuhan akar). Kalau tidak tersedia dua bahan ini, bisa diganti dengan cairan umbi bawang merah yang dipotong. Penyemaian bisa dilakukan dalam pot dengan merdia pasir dan humus, atau di dalam lubang semai. Pot dan lubang semai harus disungkup dengan plastik bening, sampai tunas stek tumbuh. Pembukaan sungkup dilakukan secara bertahap, hingga semai tidak stres.

Budi daya tuba secara massal untuk tujuan komersial, tidak memerlukan tiang panjatan. Benih hasil semaian biji maupun setek, ditanam dengan jarak rapat pada bedengan, seperti halnya budidaya kentang atau ubijalar. Setelah satu tahun, bedengan dibongkar, akar tuba dipanen. Sebagian tajuk tananan dibuang, atau dijadikan bahan stek baru. Tanaman yang sudah dipanen akarnya, bisa ditanam kembali, untuk dipanen tahun depan, dengan hasil yang akan semakin tinggi. Hasil panen akar tuba, bisa langsung digunakan sebagai pestisida, bisa dikeringkan dan disimpan.

Akar tuba mengandung Rotenone, Tubatoxin, atau Paraderil (C23H22O6), yag merupakan racun kontak sangat kuat. Rotenone dari akar tuba, diambil dengan cara ditumbuk, kemudian dicampur air. Air tumbukan akar tuba akan berwarna putih susu, dan berbau sangat keras khas Rotenone. Aplikasi dalam pemberantasan hama di lahan pertanian, dilakukan seperti biasa, dengan cara penyemprotan menggunakan sprayer. Warna air tuba yang putih seperti susu inilah yang telah mengilhami nenek moyang kita menciptakan kiasan: “Air susu dibalas dengan air tuba!” (R) # # #

9 thoughts on “POTENSI BUDI DAYA TUBA

  1. Dimana saya bisa mendapatkan bibit tanaman Jenu atau Tuba tersebut? Dan bila ada, tolong tanaman untuk membuat pestisida organik yang lain juga diberitahukan. Terima kasih.

    • Stek tuba dipilih cabang/ranting yang telah cukup tua, (diameter 1 jari, panjang 40 cm). Stek ditanam dalam pot atau polibag secara koloni (satu pot/polybag diisi beberapa stek). Media cukup pasir dan kompos. Seluruh stek disungkup plastik bening, ditaruh di tempat yang agak teduh. Tunas akan keluar setelah sekitar 1 bulan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s